
Alex dan Nayla pergi ke penjara dan melihat keadaan Cakra yang kritis juga terbaring dengan keadaan sangat membuat orang merasa kasihan.
"Dia sudah lebih dari seminggu seperti ini dan keadaannya tak membaik malah memburuk sepertinya ada yang sengaja membuatnya seperti ini." Alex diam dan pura-pura tak tahu apapun Tapi, matanya menatap senang apa yang terlihat pada Cakra dan dokter lapas jelaskan.
"Kasihan." Nayla tak tega tapi, ia juga membenci nya.
"Aku bisa memberi kalian waktu dua puluh menit bicara dan jika bisa jangan terlalu lama lagi karena kondisi beliau tak terlalu baik." Jelas Dokter penuh perhatian dan pemakluman dari Alex dan Nayla.
Ketiganya masih berdiri di balik kaca yang memperlihatkan ruang rawat Cakra.
"Aku harus masuk." Alex menahannya.
"Kau sedang hamil!" Tekan alex.
Nayla memohon dengan matanya. Alex menghela nafasnya dan menyerah. Ikut masuk kedalam ruangan bersama Nayla.
Didekat ranjang rawat Cakra sedikit berjarak Nayla melihatnya dengan jelas walaupun tak begitu dekat.
"Aku memaafkanmu, Tuan... aku ikhlas dengan semua tindakanmu." Alex terdiam dan Nayla dengan kepalan tangannya yang kecang menahan rasa marahnya karena memaafkan pembunuh seperti Cakra.
Alex terdiam mendengarkan hingga tiba-tiba Cakra menoleh dan menangis terlihat dari wajahnya yang terlihat begitu tua.
"Terim...makasih!" Pelan dan hanya gerakan bibir. Nayla bisa tahu dan baca kalo Alex mengatakan terima kasih.
Tak ada yang bisa di jelaskan lagi, Nayla benar-benar tak menduga kalo penjahat yang ia kuat malah terlihat begitu lemah.
Nayla keluar dari tempat itu dan menangis dalam pelukan Alex didalam mobil.
"Aku takut, aku salah apa aku salah memaafkan mereka. Aku tak bisa bohong kalo aku tidak tega. Aku benci tapi, kondisinya tak bisa dan tak boleh di benci. Alex aku serba salah."
Alex diam dan memilih menenangkan Nayla.
Di saat yang sama Zoya masuk kampus dengan naik ojek tapi, ketika bertemu Ian dan teman-teman.
Zoya memilih berjalan acuh.
Xander membunyikan siulannya keras. Zoya tetap berjalan menjauh.
__ADS_1
Belakangan Zoya sangat diam bahkan ia sudah tak begabung dengan gengnya dan Zoya juga di jauhi karena ia tak punya keluarga dan tinggal sebatang kara. Mereka belum tahu tentang hubungan Zoya dan kakanya Ian juga kakak iparnya Ian.
Zoya tetap duduk di bangkunya saat sampai di kelasnya tiba-tiba bunga kampus masuk dan terlihat jika teman-tan yang dulu sering bersama Zoya bergabung dengan bunga kampus.
Mau di lihat dari bagian manapun Zoya terlihat lebih cantik dari Sarah walaupun Sarah Adarma santika ini pemilik Bank terbesar di negara ini putri tunggal kesayangan tetap saja semua memilih Zoya yang terlihat manis. Walaupun gelas bunga kampus di berikan pada Sarah.
"Hey.. kampunh, dah punya rencana bertahan hidup kedepan belom, sini kalo belom gue ada saran, sarannya club bagus di ibukota bayaran perhari lima puluh juta."
Zoya diam dan memilih mendenrkan lagu dengan aerphonnya.
Tiba-tiba Xander Tio tito Bagas dan Deran masuk mengikuti Razefian yang memang ada kelas yang sama dengan Zoya pagi ini begitu juga teman-temannya terkecuali Xander dan Deran yang sengaja bolos karena lupa menyiapkan esai.
"Kalian gak usah duduk juga di meja gua, pergi lo!" Ucapan Bagas membuat Sarah mendesis marah.
"Gue mau nyapa temen gue.. salah?"
Xander yang tak pernah mau akur dengan Zoya tiba-tiba maju membela.
"Lah.. ngaca mbk.. situ bilang temen tapi, nyaranin temen buat jadi pelacur, mentang-mentang bapaknya ada di bagian penting di negara ini."
"Cara lo maen ama temen, jelek rah." Tito sekarang menambahkan ucapan pedas Xander.
Seketika Zoya berdiri melepas aerphonenya. Semua mata menatap Zoya dengan tatapan menduga duga
Zoya tersenyum sinis bertepuk tangan.
"Gue gak pernah jauh dari tuhan, ngadepin mulut cabe kalian gue bisa sendirian gak perlu bawa temen kalo gue di bantu berarti gue orang yang paling di sayang tuhan dan baik..."
"Kalo Lo terus mancing emosi gue, Berarti lo! Lagi berusaha ngajak gue ribut... Ck lozerr.. banget." Menurunkan ibu jari ke bawah sambil bersiul.
Sarah terdiam dirinya di permalukan tak bisa menjawab apa yang Zoya katakan. Saat itu juga satu kelas langsung mengalihkan pandangan mereka. Tio Tito Xander Bagas mereka merasa tak percaya. Jika tukang tindas dan tukang gosip kampus bisa berubah bijak seperti ini.
Zoya kembali duduk dan tak perduli dengan tatapan semua teman sekelasnya.
Lagi pula Dosen sudah masuk dan ini akan hilang sendiri efek Sarah mempermalukannya.
Zoya tak pernah semau ini mengatakan hal yang bijak kerana ia hanya ingin terlihat buruk tapi, sesekali bisalah karena lawannya juga ingin nasehat darinya.
__ADS_1
Biarlah orang menilainya apa, Zoya pikir sekarang ia sudah tak anak-anak lagi dan harus belajar mandiri dan dewasa. Numpang hidup dengan kakak tirinya itu sama sekali tak nyaman apa lagi Zoya sadar perlakuan nya dengan Nayla dan pernah menyukai kakak ipar tirinya dengan sangat berani tapi, di tahan di simpan sendiri tak diungkapkannya.
Zoya harus menjauh dan hidup sendiri.
Ian melirik Zoya dari kursinya yang didudukinya di samping Zoya sebaris dengan Zoya namun berjarak.
"Wajahnya serius banget?"
"Jangan-jangan dia mikirin hal buruk lagi, pokonya aku harus awasin dia."
Ian menatap kedepan lagi.
Baru beberjam berlalu dan kelas selesai Zoya segera pergi ke ruang baca di kampus meminjam komputer untuk menyeleaikan tugas latihan dari Dosen.
Diam-diam Ian mengikutinya. Walau taman-teman Ian tak curiga Karena Ian memang punya banyak pengaruh di kampus walaupun bukan bagain orang inti kampus yang sering ikut organisasi sana sini.
Ian tak perlu ikut organisasi karena Ian sudah mendapatkan apa yang di perluka seperti membantu dosen A sampai dosen Z hingga kepala komite yangeminta bantuan sampai kepala rektor yang sering mengundang Ian makan siang bersama hanya untuk membahas kemajuan belajarnya.
Diakuinya oleh Xander kalo Ian itu cerdas pintar tapi, nakal dan sombong tapi, urusan pendidikan ia nomor satu apa lagi ada yang memberikannya pengalaman berharga Ian tak akan menunda atau menolaknya karena itu pasti akan berguna nanti.
Nama kakaknya ada di namanya tapi, tetep saja Rekto saja memujinya karena pencapaian Ian tak perlu dengan nama Garendra bahkan tak malu membantu petugas kebersihan kampus menjaga kebersihan.
Sebegitu baik sikap dan sifat Ian di luaran tapi, mendiang Nenek tak tahu dan sering mendapatkan kabar jika Ian lebih suka bolos suka pergi ke club dan suka berkumpul tak bermanfaat.
Makannya nenek lebih suka dengan Alex. Jika bukan karena Alex juga Ian tak bisa menyembunyikan tingkah konyol adik nya itu.
*
Nayla barusan sampai di kantor dan duduk didepan Alex sambil memakan kurh bolu yang di belinya sambil menonton televisi.
Rapat hari ini di urus Beno Gazi dan Fatir. Nayla tak mau jauh dari Alex karena lebih tenang dengan alex dan rasa bersalahnya membuat Nayla tak tenang jika sendirian.
Bukannya memaafkan itu menenangkan tapi, Nayla merasa tak puas dan tak tenang ini seperti hasrat untuk menghabisi seseorang.
"Aku tak bisa membiarkannya tapi, aku tak tega." Terus saja seperti orang menyesal.
Nayla menatap bolu di piring yang tinggal sekali suap.
__ADS_1
Alex menghela nafasnya. Seketika telpon berbunyi.
"Meninggal."