Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Pengorbanan Ian


__ADS_3

Nenek memandang nayla dan beberapa kali meminta Nayla menemaninya duduk juga meminta buatkan sesuatu ambil kan sesuatu.


Nayla ingin istirahat tapi, jika ia menjauh lagi ia takut nenek makin membencinya.


"Ada lagi yang bisa ku bantu Nek?" Tanya Nayla penuh perhatian. Nenek menoleh dengan sinis.


"Kamu penurut juga, bagus lah. Kalo gitu pijat kakiku." Nayla mengangguk ketika akan berdiri menghampiri Nenek Bahu kirinya di cengkram seseorang tak terlalu kuat.


"Jangan sekarang, kau bisa memijat nenek besok pagi sekarang sudah malam, tidur dan istirahat."


Nenek bangkit dan menatap marah Alex.


"Kenapa kau memintanya istirahat, ia bahkan mau memijatku, alex!"


"Nenek bisa lihat perut Nayla begitu besar, Apa nenek tega."


Nenek menatap lain arah.


"Dia hanya asistenmu kenapa juga kalian tinggal bersama aku sudah menutupi semua yang bisa membuatmu menemukan Nayla. Sekarang kau bahkan sudah pisah tapi, tetap mrmbiarkannya tinggal di rumah mu."


Nayla menunduk malu takut juga seba salah, tidak tahu kenapa rasanya dadanya sakit dan sesak dan ingin marah juga mengamuk tapi, tak bisa. Seketika itu Alex menghela nafasnya malas. Merasa jika Nayla yang di sebelahnya merasa tertekan.


"Ayo aku antar." Alex dengan lembut mengajak Nayla pergi ke dalam kamar. Nenek kembali duduk.


Tapi, suasana rumah ini membuatnya tak nyaman. Nenek milih untuk tetap menunggu beberapa menit dan sudahlah. Nenek memilih pulang.


"Apa yang mereka lakukan, dasar wanita M*rhan."Nenek bangkit dari duduk dan tak lama pelayan datang membantunya.


"Aku minta Sopir Alex mengantarku." Pelayan di rumah alex mengangguk saja tanpa bicara apapun dan tak lama mobil datang dan Nenek di antar pulang.


Di ruang kerjanya Beno terpanggil oleh ketukan pintu pelayan yang membuka pintunya.


"Kopi dan kueh tuan," ucap pelayan muda itu.


Beno menatap ruang tamu yang kosong dari dalam ruang kerja Alex di lantai bawah.


"Apa nyonya besar sudah pulang?" Pelayan menoleh kebelakang dan mengangguk ketika menatap kembali wajah Beno.


Beno mengangguk kecil sekali.


"Baiklah, tak ada lagi, kembalilah, terimakasih." Mengambil nampan kopi dan kuehnya.

__ADS_1


Pelayan itu pergi.


*


Saat didalam kamar. Nayla menunggu Alex yang sibuk mendinginkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Pikirannya melayangkan saat Nenek tahu ia dirumah ini dan ia melakukan kegiatan seolah pelik rumah.


Sembari melamun Nayla memisahkan pakaian kemeja putih Alex dan berwarna lainnya. Lalu memanggil pelayan lewat telpon diatas nakas.


Setelah pelayan yang mengambil pakaian kotor pergi. Alex muncul dengan pakaian rumahan yang bersih rapi, juga wangi. Tidak tahu kapan ia menggunakannya.


Melihat suaminya berjalan mendekat kearahnya Nayla pergi ke kasur.


"Kenapa aku tak bisa dekat dengan nenek, apa nenek begitu membenciku?"


Alex yang sedang mengenakan parfume di kaosnya lalu menatap wajahnya didepan cermin.


"Nenek hanya belum tahu hal berharga yang bisa membuatnya membuka hatinya lagi," ucap Alex . Sembari berbalik badan dan menghampiri Nayla.


"Tapi, aku ingin Nenek mengatakan sesuatu saja...yang baik terhadapku, aku memang tidak perduli tapi, Dia juga bertanya rumah ini apa tempat tinggal asisten tanpa status suami istri dengan atasannya? Kenapa tinggal berdua? Nenek juga bilang lagi, Kalo kau sudah disini, maka buatkan apapun yang aku mau." Nayla mengatakan apa yang nene katakan tadi.


Alex menghela nafasnya. Memnag Nenek sangat keras. Alex juga tak tahu kalo Neneknya tak menyukai orang yang ada di bawahnya tapi, sebenarnya tak selalu begitu Alex cuman merasa nenek takut Alex di kecewakan dan di khianati.


Kedua tangan Alex bergerak mengambil kedua tangan Nayla menyentuh dan mengusapnya sembari menggenggam lembut.


"Kamu ada aku, aku yang akan melakukan yang terbaik, aku juga minta maaf jika kau masih trauma dengan sikap kasarku, dulu." Nayla menatap Alex sendu.


Alex menggenggam kedua tangannya dan mengusap lembut punggung tangan Nayla dengan ibu jarinya secara perlahan dan mencium kedua nya.


"Tidak apa-apa katakan apa yang membuatmu kesal, selama aku ada kau bisa bilang dan mengadukannya. Aku ini suamimu bukan orang lain," ujarnya.


Seketika itu hati Nayla menghangat.


Setelah kejadian semalam di rumah Mood Nayla kembali cerah dan baik terbukti memasak makanan enak dan juga membuat makanan untuk para pelayan dan tetangga.


Ketika Nayla pergi keluar untuk bertemu tetangga tiba-tiba sebuah mobil melaju cepat dan mengincar Nayla yang berjalan pelan tapi, Dengan cepat sebuah tangan besar menariknya menjauh berusahan menah diri Nayla agar tak terlalu keras jatunya.


Tepat didepannya Ian terkapar terguling dengan darah yang begitu banyak.


Suara keras itu membuat Alex dan satpam rumahnya keluar pagar.


Melihat Nayla duduk terisak syok menatap seseorang yang tergeletak di atas aspal jaraknya lumayan jauh.

__ADS_1


Langsung berlari mendekat.


Beberapa tatangga juga keluar dan melihat.


Alex menatap ke arah dimana orang yang tergelatak itu dengan tatapan sama syoknya dengan Nayla.


"Ian."


"A-Alex... I-An, Razefian... hiks..."Alex segera memeluk Nayla dan beberapa orang menghubungi Ambulan. Ibu-ibu dari tetangga dekat menghampiri Nayla.


"Ibu... Ya ampun..."


Alex benar-benar murka dengan apa yang terjadi tapi, ia tahan semuanya didalam kepalan tangannya.


*


Nenek hanya bisa terdiam dengan perasaan bersalah dengan apa yang ia lakukan barusan membuatnya hampir membunuh Ian. Nenek meminta saran rencana untuk menghabisi Nayla dan bayinya tapi, malah Ian datang dan mengorbankan dirinya, Nenek menyesal.


Nayla masih syok dan tak bisa menahan kacaunya perasaan takut dan sedih sampai badannya lemas didalam rumah tepatnya di kamarnya. Della datang dan ayah juga ibunya Nayla bersama Zoya karena kecelakaan ini benar-benarramai sampai masuk berita hari ini di televisi dan internet.


Di rumah sakit Alex di temani Beno dan Zulfikar.


Alex hanya bisa menahan amarahnya. Kenapa Neneknya begitu ceroboh sampai nyawa adiknya pun jadi taruhan ke tidak sukaannya pada adiknya. Alex ingin mencacimaki dan menghajar orang yang punya niat itu tapi, kenapa tidak bisa... karena itu semua ulah neneknya lagi.


Didekat Nenek ada Darma yang pura-pura Syok juga kaget.


Semua rencana Darma gagal memperalat nenek.


Darma hanya diam dan berusaha mencari kesempatan mencari cara lain untuk membuat Nayla kehilangan anaknya dan jika bisa Nayla pergi bersama bayinya.


Darma akan gunakan Vansiska nanti.


Darma merasa nenek sudah tak bisa lagi karena mungkin setelah ini ia akan bertobat, Ian menjadi sasarannya.


"Sekarang Nenek lihat apa yang Nenek inginkan tak bisa tercapai tapi, Ian harus terbaring koma." Kata Alex perlahan dan menekan rasa kesalnya yang begitu besar.


"Nenek bisa tidak coba untuk sadar dan tidak egois... ini semua sudah di takdirkan dan Nenek tak bisa lagi membuatnya berubah jika Aku masih mempertahankan Nayla bersamaku."


Nenek yang masih menangis menatap Alex dengan mata basah dan wajah sedihnya.


"Nenek tak mau kau seperti ayah ibumu, itu semua karena Nenek merestui mereka dan berakhir kalian hidup yatim piyatu, jika nanti Nayla bukan perempuan baik ia akan menghancurkanmu."

__ADS_1


Alex mengusap wajahnya.


"Sekarang Neneklah yang menghancurkan aku dan Ian juga perasaan Nenek dan Nenek juga hampit menghancurkanku sampai ke akarnya dengan berniat mebunuh calon ibu dan calon anakku!"


__ADS_2