
Nenek pagi-pagi sudah kaget dengan Alex yang tiba-tiba jatuh di dekat meja makan. Nayla ingin mendekat dan di cegah Nenek dengan cepat.
"Jangan sentuh cucuku dan panggil Beno sekarang !"
Satu rumah heboh dan saat yang sama Nayla hanya bisa terdiam ketakuan.
"Tak mungkin jika ada sesuatu yang salah dengan kopinya." Nayla yang penasaran berusaha mendekat ke meja makan dan berusaha meraih cangkir kopi yang terlihat baik-baik saja.
Tiba-tiba sebuah tangan dengan sarung tangan menghentikannya dengan meraih cangkir itu dan menatap Nayla dengan tajam.
"Maaf Nyonya lebih baik anda untuk bersiap dan Fatir akan menjemput anda dan bersiap untuk mengurus semua kebutuhan Tuan hari ini, untuk kepentingan rapat lainnya ataupun pertemuan lainnya biarkan Zulfikar yang menanganinya."
Nayla terdiam.
"Nyonya." Panggil bibi mendekat.
Nayla menoleh dengan wajah ketakutan.
"Mari saya akan membatu anda untuk membereskan untuk berangkan ke kantor." Nayla mengangguk pelan dan mengikuti langkah kaki bibi menuntunnya pergi ke kamar.
"Bi? Apa semua baik-baik saja." Bibi menghentikan langkahnya membuka pintu kamar. Tak terasa mereka berjalan sudah sampai di depan pintu kamar saja.
Nayla merasa ia bersalah sekali. Tapi, bukannya bagus kalo Alex kenapa-kenapa ia bisa langsung di usir dan bebas lagi di luar tanpa ada gang mengganggu kehidupannya. Tapi, tetap saja hati kecil Nayla merasa jika ia harus mengetahui sebaik apa Alex sekarang.
"Tenang saja Nyonya, Nyonya muda tak perlu khawatir semua sudah Tuan lakukan demi keamanan anda," ucap bibi.
Tersenyum menatap Nayla.
"Tapi, bi! Jika Alex sampai tak bisa selamat bahkan tadi aku juga lihat kalo wajahnya memerah lalu membiru dan itu sempat aku menyentuhnya. Kulitnya begitu dingin.
"Aman Nyonya, mari bersiap."
Nayla mengangguk.
Segera melakukan apa yang tadi Beno minta padanya mengurus kantor lebih dulu.
Nayla yang sudah masuk ke dalam kamar Darma yang melihat kejadian pagi ini hanya diam dan bahkan ia tak suka jika Alex yang terkena racunnya.
Alex pergi bersama Nenek Haila dan Beno.
Darma juga sempat melihat Beno kembali masuk dan mengambil cangkir kopi lebih cepat dari tangan Nayla sebelum meraihnya. Beno juga meminta semua pelayan membersihkan kekacauan ini juga membuang cangkir itu ketempat yang benar.
Darma jadi melihat sendiri. Baimana musuh bisa dari dalam dan luar menyerang Alex.
"Ini semua karena perempuan itu." Darma marah juga kesal pada Nayla.
Di rumah sakit semuanya sangat kacau bahkan Alex sudah menghabiskan beberapa dokter ahli dan dokter umum untuk memeriksanya, dari beberapa dokter ahli yang mencoba memeriksanya mereka semua mundur.
"Racunnya sudah menyebar dan ini keajaiban jika cucu anda masih selamat bahkan bernafas layaknya orang yang akan koma, kemungkinan untuk sadar kami tak tahu kapan."
Nenek terdiam dengan kabar yang dokter bawa barusan sadari dalam. Jika Nenek tak mendesak untuk mengatakan sekarang dokter akan terus menghindar mereka juga malu menghadap nyonya besar Garendra.
"Ini tidak mungkin..."
"Maaf Nyonya sebelumnya, jika cucu anda tidaj di lindungi tuhan mungkin setelah meminum racun itu ia telah tiada." Dokter menatap lekat wajah tua didepannya yang semakin mengerut panik.
Haila mengajaknya untuk duduk. Perlahan lemah hampir jatuh ke lantai Nenek beruntung langsung Haila bawa untuk duduk jika tidak sudah terduduk menyedihkan di lantai.
"Dimana Nayla... bawa dia kemari!" teriak nenek dengan amarahnya.
Seketika Zulfikar datang jika Nayla menghilang bersamaan dengan Fatir.
__ADS_1
Nenek menatap Beno dan Zulfikar dengan tatapan tajam dan mata basahnya masih begitu terlihat jelas.
Dokter menyingkir dari sana setelah merasa jika Nyonya besar Garendra tak membutuhkannya lagi.
Nenek menyipitkan mata menatap wajah dua lelaki didepannya.
"Apa kau bilang."
*
Seketika selesai membereskan diri dan rapih untuk berangkat ke kantor.
Nayla melihat seorang dengan pakaian yang rapih dan saat menyadari sesuatu Nayla melihat ada dua orang lainnya dengan setelan jas rapi juga cuma bedanya semua hitam dan menggunakan radio penghubung kelompok di telinga. Mereka seperti pengawal.
"Nyonya, selamat pagi, mari." Fatir mengajaknya dan membukakan pintu untuknya.
Nayla menganggukinya dan masuk mobil lalu duduk dengan tenang.
Di saat sama juga Fatir masuk dan duduk di bangku kemudi.
Mobil mulai berjalan meninggalkan halaman rumah Garendra.
Melewati persawahan lalu terus berjalan diatas aspal yang hampir pertengahan tahun masih sangat baru.
Nayla lupa jika ia bukan tinggal di kota melainkan masih di desa yang mulai maju dan hampir menyeimbangkan dengan ibu kota.
Jarak desa atau tempat tinggal Nayla dengan ibu tak terlalu jauh hanya satu jam kurang lebih jika tak terjebak macet saat melewati gedung kecamatan.
Di perjalan yang sepi bahkan hampir mengantuk jika Fatir dan berinisiatif mengajaknya bicara.
Entahlah efek ia di marahi dan di tuduh atau di cap sebagai pembuat masalah pagi ini atau ia kepikiran dengan keadaan alex di rumah sakit.
Nayla menghela nafasnya.
"Aku tahu itu fatir." Fatir mengangguk dan sepertinya ia sudahi saja pembicaraan yang di jawab dengan jawaban pedas dan jutek dari Nayla.
Nayla tak merasa menjawab ucapan Fatir dengan pedas tapi, Fatir merasa jawaban yang Nayla ucapkan untuknya itu sangat ketus dan pedas.
"Apa yang kau tahu tentang, kejadian pagi ini?" Fatir sedikit diam lalu tersenyum dari sepion depan.
"Saya kan baru datang nyonya jadi saya tak terlalu tahu dengan kejadian pagi tadi tapi, jika nyonya bertanya dengan pak Beno akan langsung di jawab." Lalu tersenyum.
Nayla menunduk.
"Kau tahu Fatir kau juga bawahan Beno." Mendeda lama ucapannya.
"Iya nyonya saya."
"Dan kenapa kau tidak tahu lebih awal tentang kejadian pagi ini lalu, dua orang mengikuti kita itu juga karena mu bukan."
"Tidak Nyonya.. mereka di perintah pak Beno dan saya juga sama seperti mereka saya juga hanya menjalankan tugas dan belum di jelaskan masalah pagi tadi, maka dari itu saya belum bisa menjawab langsung pertanyaan anda."
Nayla mengangguk mengerti.
"Kau membawa orang yang mengendarai motor?" Tanya Nayla dengan polos.
"Hah." Fatir menoleh dari sepion samping kiri dan kanan.
"Ti.. tidak sama sekali."
Wajah Fatir agak panik dan bersiaga satu.
__ADS_1
"Nyonya bisa tolong gunakan sabuk pengan anda." Nayla menatap bingung tapi, ia juga langsung mengunakannya tanpa banyak bertanya lagi.
"Kalian dengar?" Menekan telinga kirinya dan terdnegar suara di telinga orang yang mengemudikan mobil di belakang fatir.
"Ya.. Kami dengar." Jawabnya.
"Kalian lihat motor mencurigakan mendekati mobil nyonya."
Seketika atensi kedua orang di mobil belakang yang mengikutir mobil Nayla terfokus kesana.
"Kami kira itu kau yang meminta mereka menggunakan motor."
"Tidak bukan mereka, Tada plat nomor anggota keaman Garrndra tersamar, Plat motor mereka tersamar."
Seketika keduanya kesal dan marah. Salah satunya mengumpat.
"Kau fokus mengemudi aku akan menghubungi Tuan Zul."
Temannya mngangguk. Di mobil depan Nayla hanya diam dan ikut panik tanpa alasan.
Fatir terus saja menyalip kendaraan sampai akhirnya berhenti ketika terhadang salah satu mobil boks yang ingin putar balik.
Dor...
Aksi tembakan di mulai dari sebuah mobil Boks yang ternyata membawa orang yang sama dengan mereka yang mengawasi dengan motor.
Nayla menjerit sekuatnya karena terkejut.
Fatir juga mengumpat karena kaget. Melihat kebelakang ternyata mobil belakang kecelakaan.
Tiba-tiba mobil Nayla di pecahkan kaca samping dan Nayla hanya diam ketakutan. Tiba-tiba juga pintu bagian samping Nayla terbuka.
Diseret paksa di tarik dengan menjambak rambut nayla.
Semua orang yang melihat hanya bisa diam.
Di tengah jalan Lalu lintas ramai padat dan salah satu pengawal di bil belakang yang kecelakan turun membantu Nayla.
Seketika tembakan kembali terdengar dan meleset.
"Nyonya!" Fatir menghampirinya dan menarik paksa tapi, kalah di pukul keras wajahnya dengan senjata dan di tembak bagian perutnya.
Merek langsung pergi membawa Nayla.
Di tempatnya polisi datang dan membereskan semuanya tak lama Zulfikar datang dan membawa beberapa orang.
"Tidak.. Sial!" Umpatnya yang melihat Nayla pergi di masukkan kedalam mobil boks.
" Minta mereka mengejar dan kau bawa Fatir masuk."
Supirnya segera turun membantu membawa masuk Fatir untuk di obati lukanya.
Di dalam Box mobil Nayla ketakutan menggeram bersamaan menangis menggigil.
Seketika mengusap air matanya kasar.
"Lepaskan Aku.. Buka....Buka!" Teriaknya memukul kaca di bagian sopir dari dalam Box mobil.
"Diam lah Nyonya, Makannya jangan suka bermain dengan Racun tak ada baiknya kau membuat keturunannya mati."
Nayla membeku di tempatnya.
__ADS_1
Di ruangan rawat. Alex masih kaku dan semua alat medis terpasang. Nenek hanya bisa meratapi, tanpa bisa melakukan apapun.