
Semua mata menatap Nayla dengan tatapan berbagai macam dan tak ada tatapan positif yang ia dapatkan.
Bahkan tatapan dan gunjingan sangat jelas Nayla lihat dan dapatkan di keluarga ini, terpaksa datang di acara ini.
"Kenapa kau merasa tak nyaman, aku yakin itu karena kau tak bisa berada di pesta ini, Kampungan." Darma tiba-tiba datang sambil memainkan jus di tangannya di dalam gelas sampai sesekali ia minum. Berdiri di samping Nayla.
"Aku rasa kau harus banyak berkaca." Darma kembali bicara ucapan yang membuat Nayla kesal.
Nayla tetap diam tapi, ekspresi wajahnya begitu menjelaskan ia tak suka dengan Darma.
Maaf tapi, Nayla tak bisa pura-pura suka dengan orang yang seperti Darma..
"Aku terpaksa menikah dengan calon mu dan kau kenapa tidak merebutnya dari ku? Kau tahu kan kalo Alex itu pasti akan di jodohkan denganmu, Kau pikir aku tak bisa tahu tentang itu."
Darma terkekeh.
"Kau menguping pembicaraan ku dengan nenek, cucu menantu tidak tahu malu, cih."
Nayla terdiam. Seketika beranjak pergi tapi Darma menghalanginya. Masih belum puas menjatuhkan mental Nayla.
"Kau terpaksa menikah dengan pewaris utama Garendra, kau di nikahinya hanya untuk saham besar dan cabangnya..."
"Kau juga di jodohkan untuk membuat agar ALEX TETAP MENJADI PEWARISNYA, ingat itu posisi kita hampir sama!" Membuat garis datar diantara keduanya seolah itu terlihat dengan telapak tangan kanannya. Darma menatap tak suka Nayla, ia menyela ucapannya.
Darma terdiam seketika tangannya terkepal kuat dan tangan lainnya menggenggam gelas jus dengan kuat.
"Kau!"
"Kau yang harusnya sadar, Nayla, kau di nikahi lalu di buang setelah tak berguna, pernikahan mu terpaksa dan mendesak bahkan Alex tak mencintaimu," ucapnya dengan urat leher terlihat tertarik wajahnya hampir merah padam karena amarah.
Nayla tertunduk tahu jika ia lebih parah keadaannya dan ia lupa jika ini ikatan yang tak bisa menolak apapun kebutuhan suami istri sekalipun hanya pernikahan agama.
Darma tersenyum miring dan pergi merasa ia menang.
Nayla sebenarnya mendengar semua yang di katakan Nenek dan Alex juga Darma sempat sebelum Nayla bergabung bersama di pesta ini.
Waktu baru tiba di acara ini Nayla di biarkan berjalan sendirian tanpa Alex gandeng dan Alex di panggil seorang pelayan dan mendekat ke tempat dimana Darma dan wanita tua yang ternyata neneknya Alex yang juga Nenek Nayla.
Nayla hanya diam menunggu berdiri tanpa ada yang perduli.
Nayla beberapa mendengar kalimat penting tapi, tak satupun Alex membelanya dalam perdebatan itu.
Nayla tak berharap.
Disini setelah menjauh dan Darma juga tak mendekatinya lagi.
Diantara banyaknya tamu dan Nayla sendirian tanpa mempelai perianya.
Tiba-tiba seorang mendekatinya.
"Selamat malam, Anda terlihat cantik."
"Malam, te-terimakasih Tuan."
"Anda sendirian? Sepertinya sangat gelisah dan ingin mencari tempat yang tenang."
Nayla tersenyum.
"Tidak, Aku tidak apa, aku hanya ingin menunggu suamiku."
Razefian terkekeh.
"Kalo gitu biar aku temani bicara Nona," ucapnya mengambil sepiring kueh dengan porsi sangat sedikit.
"Makan lah makanan manis ini dan kau akan lebih baik," ucapnya lagi sambil menyodorkan kueh dan air jus jeruk lemon teh.
Ini sebenarnya acara resepsi dirinya dan Alex tapi, kenapa terasa seperti acara mempermalukan dirinya sendiri.
Dan siapa lagi orang didepannya ini kenapa bentuk wajah dan matanya mirip dengan Alex sama-sama dengan tatapan yang begitu gelap dan terlihat agak tertutup raut ceria beda dengan alex yang selalu menakutkan dan kaku tak pernah berbohong soal ekspresi tak suka dengan seseorang.
"Tuan, Bolehkah, biarkan aku sendiri, maksud ku... aku sedang tak ingin biacara dengan siapapun karena suamiku tak mengizinkannya dan lagi, Terimakasih untuk perhatian anda, Terimakasih."
Baiklah, Razefian di usir secara halus dan ya sedikit membawa kekuasaan sang kakak yang memang suami dari Nayla dan Nayla tak sadar jika mereka saudara ipar.
"Hemmm Yaa.. aku akan pergi, maaf mengganggu, Aku akan mencari udara segar... selamat menikmati pesta." Bangkit dari tempatnya duduk.
Seketika berhenti saat akan melangkah.
__ADS_1
"Aku dekat dengan anda, Jika butuh sesuatu di saat suami anda belum datang minta pelayan memanggilku saja, Nama ku Razefian."
Nayla mengangguk sedikit terpaksa tersenyum ramah, sekali anggukan.
Razefian menggantungkan tangannya di udara dan menariknya lagi, Nayla tak menyambutnya.
Ian pergi dari hadapan Nayla dan tatapan mata Darma tak lepas dari Nayla.
"Sok akrab, Tidak masalah, aku sudah mendapatkan neneknya."
Darma menganggap jika mendekat dengan Ian itu sangat menyia-nyiakan waktunya.
"Ini kah yang menjadi istrinya," ujar seorang wanita paruh baya.
"Iyaa.. dia keponakan menantu dan dia sangat cantik bukan," ucap Tante Alex memerkan Nayla yang cantik.
"Tapi," menatap atas bawah.
"Jika tidak memiliki pandangan yang luas dan wawasan ilmu yang luas pula, mengecewakan." Tambahnya lagi dengan wajah yang teramat tak suka.
Nayla menahannya.
"Hahah.. Nayla dia salah satu keluarga Alex dan mereka semua bude pakde dan Tante om atau paman bibi atau kakak sepupunya," ujarnya menjelaskan dengan wajah yang puas dengan apa yang ia lihat barusan.
"Cantik tapi, menjual diri itu tidak heran di jaman sekarang." Kakak sepupu dari Alex dan Razefian yang bicara dan ia memang orang terkenal judes dan asal ceplos.
Mereka semua terlihat cantik tampan dan berwibawa berkarisma juga Elegan. Saat bicara mereka sama seperti sampah dapur restoran yang begitu menjijikan, batinnya sedikit mencaci maki semua orang yang mengolok mengomentari lalu mengeritik secara terang-terangan dan pedas.
Nayla tersenyum saat semua tersenyum terpaksa memberikan wajah ceria mereka pada Nayla.
Lalu Nayla?
Lakukan hal yang sama memberikan keterpaksaan dan tatapan tak suka.
Kenapa tidak tatapan senang karena, Tak bisa menyembunyikan tatapan mata tajamnya.
"Maaf Ibu-ibu semuanya, Saya memang tak berpendidikan dan saya juga tidak menjual diri saya pada putra Garendra, Saya di lamar dengan begitu indah, di ajak menikah dengan sederhana. Jadi, jangan sampai anda semua malu." Nayla tak berani bicara didepan umum hanya lidahnya dan kepalanya yang bicara tanpa suara.
Tanpa Nayla sadar jika Alex tak pernah melepaskan perhatiannya dan Razefian kembali padanya dengan membawa satu gelas vokat dan meminta bar memberinya sekaleng soda.
"Sepertinya dia membutuhkan bantuanmu kak," ujar Ian menatap Nayla dari tempatnya duduk bersama Alex.
Ian mengangguk anggukan kepalanya mengerti.
"Terserah kakak saja." Mereka kembali sibuk dengan urusan mereka.
Nayla masih diam.
Tapi,
"Jika aku menjadi dirimu aku akan menolaknya, kesadaram diri itu perlu, rendah ingin berada di tempat tinggi."
"Jika sudah sah begini pun, kalo Cerai? Masalah yang ada."
"Maaf tapi, sepertinya kami tak ada niatan itu." Suara itu dan seketika pinggang Nayla di rangkul dan saat bersamaan badannya terkejut. Tatapan terangkat kesamping kanan menoleh kearah orang di sampingnya yang terasa tak asing dari suara hingga harum parfum walau Nayla beberapa kali mencium baunya.
"Alex..." Semua terkejut termasuk sepupu perempuannya yang terlihat bingung karena sempat mengatakan hal yang seharusnya tak boleh ia ucapkam didepan Alex tapi, mereka tak sadar kedatangan Alex saat itu.
Nayla tersenyum tipis bibir tertarik paksa.
"Ka-kami pergi dulu, Nayla."
Alex juga mengajak Nayla mereka pergi ke arah berlawanan.
Di balkon sini Nayla berdiri menatap kota yang di sinari lampu berwarna warni seperti bintang di permukan bumi bukan, di langit.
"Kenapa kau menghampiri mereka?" Nayla menoleh cepat.
"Aku bahkan berniat kabur, Bukan aku yang mendatangi mereka."
Alex menatap tak percaya.
"Kau sengaja mendatangi mereka mencari perhatian."
"Kau selalu menuduh, aku bahkan tidak minat menjalin obrolan riang dengan mereka semua."
"Jika kau masih mencari perhatian mereka usahakan jangan membawaku kedalam obrolan kalian."
__ADS_1
"Cih.. sudi kali aku mengatakan kalo kau suamiku didepan mereka, Aku bahkan muak dengan semuanya, Aku membencimu."
Berbalik pergi meninggalkan Alex sendirian.
Seketika menelpon seseorang setelah Nayla pergi.
Melewati para tamu yang hampir semuanya adalah keluarga dari nenek ayah ibu Alex juga saudara sepupu sampai kerabat jauh dekatnya.
Desas desus buruk mulai melewati telinga Nayla saat berjalan melewati mereka semua.
"Jaga sopanmu ketika kau didepan semua keluarga besar, Aku menerimamu karena cucuku."
Nayla benar-benar tak menyukai situasi ini tapi, dia wanita tua dan orang tua. Nayla tak bisa membentak atau mengatainya dengan kata-kata kasar.
Dari kejauhan Razefian berhenti mendekati Nayla.
"Aak.. Nenek." Menatap sedikit kecewa. menoleh kesana kemari berusaha mencari cara.
"Maaf Nyonya tapi, saya juga harus pergi dari sini daripada saya harus mempermalukan cucu anda jika saya masih disini," ucapnya lalu pergi dengan berani.
Tidak tahu sopan atau tidak. Nayla akan mengurusnya nanti kalo di marahi Alex atau nenek tua itu, Nayla harus keluar dari sini.
Keluar dari aula tempat acara resepsi saat itu juga Nayla melepas sepatunya dan melangkah kakinya tanpa alas.
"Pusing ribet, apa maunya gak tahu." terus saja kesal bicara sendiri seketika melihat lift Nayla langsung mendekat.
"Biar aku." Razefian menekan tombolnya membuat Nayla terkejut.
"Kenapa?..." Belum sempat kembali bicara lift terbuka dan Ian mempersilakan dengan tangan agar Nayla masuk lebih dulu.
Setelah didalam lif mereka hanya berdua saja.
Nayla tak membuka suara dan Ian juga sibuk dengan ponselnya.
Sampai lift di lantai satu tepat di dekat parkiran.
Ian keluar lebih dulu dan Nayla mengikutinya karen tak ada pilihan lain.
"Anda mengikuti saya, Itu bagus karena arah kita pulang sama."
Nayla mengerutkan dahinya.
*
Sampai di depan gerbang yang tinggi saat itu mobil ian dan Nayla berhenti.
"Ini rumah Nenek dan Anda bisa langsung istirahat ada bibi yang pernah melayani anda di rumah sebelumnya," ujarnya lalu masuk setelah penjaga rumah membuka gerbangnya.
Ian kembali pergi setelah mengantar Nayla dan membiarkan Nayla di rumah dengan para pelayan.
"Siapa dia kenapa membantuku atau asistennya Alex," terus menerka memiringkan kepala dan wajahnya terlihat serius seketika kakinya tersandung gaunnya dan saat itu bibi datang membantunya berdiri.
"Adu..."
"Nona.."
Nayla di bantu berjalan dan masuk kedalam kamar.
"Nyonya," ucap pelayan yang mengagetkan lamunannya saat duduk menghadap cermin dan sedang menyisir rambutnya.
"Bi... tolong tutup pintunya." Bibi berjalan dan menutup pintu perlahan
"Bi, keluarga Garendra bagaimana? Bibi tahu aku datang kemari dan aku... Pokoknya bibi ceritakan sedikit saja padaku, Ya bi."
Bibi terdiam bingung.
"Aku akan merahasiakannya. Masalahnya di pesta semuanya menatapku rendah apa sebegitu tinggi nilai yang menjadi batasan menjadi bagian keluarga."
"Iya Nona... Semuanya di pilih secara baik bahkan, saya sebenarnya terkejut karena Nona bisa menikah dengan Tuan bahkan yang terdengar di telinga saya jika Nona Darma yang akan menikah juga begitu mencintai Tuan muda."
"Tapi, Bi... Kenapa aku di pakas menikah oleh tuan muda, bi?"
Bibi menggeleng.
"Saya juga tidak tahu tentang itu karena tuan muda tahu-tahu membawa Nona dan sudah menjadi setatus istri, Apa...apa? Disana Nona di tanya tentang..." Bibi menatap Nayla takut meneruskan ucapannya.
"Hah.. Itu tidak bi, aku saja tidak kenal dengan Tuan Alex bagaimana aku bisa sudah memiliki sesuatu diantara mereka." Seketika Nayla terdiam pikirannya melayang jauh dan terduduk lemas.
__ADS_1
Kenapa tak sampai kesana. Pasti semua memikirkan dirinya pernah bersama dengan alex dan memutuskan menikah, batin Nayla.