Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Di paksa bercerai


__ADS_3

Merasa kendaraan berhenti, Nayla terdiam. Tiba-tiba pintu box terbuka.


" Ayo keluar !" Lelaki yang sama berusaha menarinya keluar tanpa masuk kedalam box.


"Jangan," menggeleng mundur terus kebelakang.


"Tidak jangan kumohon!" Nayla terus mundur padahal sudah tak bisa lagi. Tapi, tangan besar dan kasar meraihnya dan menariknya Orang itu terpaksa naik box dan menarik kedua tangan Nayla dengan sembarang menyeret paksa.


Nayla terus melawan menarik tangannya.


"Jangan!"


"Lepas!" Terus berteriak berharap ada pertolongan datang dan membawanya pergi.


Gudang tekstil yang ada di pinggir Desa dan kota, letaknya di antara Desa dan kota jauh dari jalan raya hanya jalanan berbatu kecil untuk bisa sampai disini.


Keluar dan melihat dimana tempatnya berada Nayla hanya diam dan bisa terus terisak otaknya terus berpikir untuk lari menjauh dan terus berusaha menarik tangannya agar bisa lepas.


"Kau siapkan makanan bos akan datang sebentar lagi, Tali mana?"


Nayla langsung meronta.


"Hey! Diam lah!"


Terdiam seketika bentakan itu membuat Nayla membeku dan menurut seketika.


Tidak ada pilihan lain dalam kepala Nayla selain beharap Tuhan mendatangkan Alex untuk menyelamatkannya hanya Alex yang bisa. Ayah ataupun Abdulah jika datang pun mereka tak bisa berbuat apapun.


"Lepaskan aku!"


"Diamlah..." Tekannya suara saking kesalnya dengan rintihan jeritan bersamaan isakan Nayla yang membuat kuping mereka semua gatal dan panas.


"Berhenti mengucap lepaskan-lepaskan!" Kata salah satu dari mereka."


"Cucu Garendra itu tak akan bangun mungkin lebih baik meninggal dari pada koma, iya kan." Ejek salah satunya membuat Nayla kembali terpuruk tak bisa berharap banyak pada Alex.


"Kumohon aku tak ada masalah dengan kalian aku ingin pergi menjauh jika kalian ada urusan dengan Alex datang padanya jangan padaku," ucap Nayla berusaha berani walau wajahnya sudah tak berbentuk baik lagi, air mata debu dan rambut berantakan membuatnya terlihat tak rapi lagi.


"Haha... Di bicara ngawur!"


"Hey Nona, Bos kami ini yang meminta kami untuk menculik nanti ketika dia datang terserah dia mau apakan anda."


Lalu semua pergi setelah mengikat kencang kaki tangan dan mendudukan Nayla di lantai tanpa alas. Bahkan mulutnya di ikat kain agar tak bersuara keras.


*


Dokter masih berusaha bahkan bagian dalam tubuh Alex sudah di buang semua racunnya tinggal menunggu perkembangan tapi, waktu terus berlalu dan Alex tidak menunjukkan pergerakan.


Dokter dan perawat keluar dari sana.

__ADS_1


Saat bersamaan jari tangan kanan Alex bergerak di mulai dari jari tengah lalu ibu jari dan di susul jari tangan kanan lainnya. Mereka bergerak perlahan. Lalu bergantian jari tangan kiri.


Nafasnya terlihat normal seperti orang yang baru saja menghela nafasnya saat tidur.


"Kita tak bisa melakukan apapun lagi, Nyonya."


"Kalian ini hanya bisa menambahkan masalah, biarlah sekalian di culik dan hilang aku tak perduli dengan wanita sialan itu!"


Beno melirik Zulfikar agar memperluas pencarian. Zulfikar langsung bergegas pergi.


Baru di kabarkan kondisi Alex kemungkinan tipis dan sedikit sekali untuk selamat lalu kabar Nayla di culik. Memangnya sebanyak apa masalah diluar. Nenek tak harus membuat semuanya mengerahkan tenaga mencari Nayla. Biarlah Nayla hilang sekalian Nenek tak perduli.


"Nyonya."


"Beno, belikan aku air jeruk dan juga teh hangat. Kepalaku sangat pusing, dan belikan makanan lain aku harus tetap berdiri menanti cucuku sadar."


Nenek menatap dari kaca yang ada di pintu ruang rawat Alex.


Lalu masuk setelah Beno pergi.


Sebenarnya Beno ingin mengatakan jika semuanya ada di tangan Nayla, Tuannya sudah mengatur semuanya dan Nenek tak mau mendengarkan. Jika sampai Nayla bermasalah semua harta dan saham akan menjadi hak milik yayasan.


Alex sengaja melakukan ini agar neneknya menjaga Nayla dengan baik sampai habis masa kontrak. Niat Alex hanya untuk mempermainkan Nayla dan hati juga perasaan keluarganya dengan membuat Nayla tersiksa lalu membuat Farhan tak bisa mendapatkan apa yang dia mau.


Nenek tak tahu itu, jika Nenek tahu berati Haila tahu. Tapi, Beno dan Zulfikar yang tahu selain Alex. Hanya mereka bertiga. Bahkan Nayla yang menandatanganinyapun tidak tahu jika ia menandatangani berkas besar dan tanggung jawab besar.


Di gudang terbengkali kali ini, sebuah mobil ferari biru terparkir sempurna.


"Kalian sudah siapkan semua?" Orang-orang itu mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Darma.


"Didalam dia?..." Seketika pintu langsung terbuka saat Darma bertanya.


Darma nekat melakukan semuanya karena Nayla telah membuat Alex tak berdaya. Darma tak tahu jika sekutunya sendiri yang membuat permainan dan membuat masalah dengan meracuni Alex dan menjadikan Farhan perantaranya.


Melihat Nayla duduk di bawah sinar matahari yang hanya menerangi bagian Nayla duduk sisanya ruang gelap dengan sedikit celah membiarkan cahaya mata hari diluar untuk masuk.


Mengangkat wajahnya saat melihat siapa yang datang dengan hells dan topi juga masker hitam. Gaya jalan sangat mirip dengan irang yang ia sering temui.


Perlahan mendekat dan saat yang sama berjongkok didepan Nayla mencengkram kuat rahangnya.


"Lemah !"


"Kau meracuni Alex dan kau terlihat begitu senang pagi tadi?" Suara itu tak asing.


Nayla terus menatap sampai ia membuka dan memperlihatkan sendiri wajahnya dari balik masker hitamnya.


"Darma!"


"Kau seharusnya tak bisa hidup mewah tak bisa jadi istri yang penurut, lebih baik cerai saja."

__ADS_1


Nayla tersenyum getir.


Inisnemuanya keterlaluan, Alex tidak ada dans edang dirawat. Mereka semua memunculkan sifat asilanya.


Mengesankan pikir Nayla.


"Tak usah bertele Darma? Aku tahu maksudmu! Aku tidak lemah aku hanya tak tahu siapa yang aku hadapi, sekarang setelah tahu itu, Kau! Aku tidak takut!"


Darma menepuk tangan sambil berdiri dan meminta sesuatu pada salah satu anak buahnya.


Alat pemukul dari bola kasti.


"Lumayan untuk merusak kulit, Aku tidak mau menggunakan besbol atau golf karena itu lebih cepat membunuh mu."


Tongkat raket dari kayu itu seketika melayang pada wajah lalu badan Nayla membabi buta.


Pergerakan terkejut dari tangan kiri Alex tanpa Nenek sadari dan kelopak mata bergera seperti gelisah. Nenek sama sekali tak sadar hal itu.


Nenek yang duduk tenang di ruang rawat Alex sambil menikmati tehnya sendiri san Beno sedangengurus urusan lainnya tadi, berpamitan pada Nenek sebelum pergi.


Ketuka terdengar lalu terbuka, menampilkan Haila.


"Nyonya," ucapnya sambil membungkuk kecil menyapa sopan.


"Katakan Haila."


"Nona Darma bergerak sendirian mengurus nyonya Nayla dan beliau membuat pelajaran menyakitkan pada Nyonya..."


Nenek mengakat tangannya.


"Mintakan surat cerai dan berikan pada Darma. Aku ingin secepatnya Perempuan itu pergi dari hidup cucuku."


Haila mengangguk mengerti lalu pamit pergi.


Nenek menelpon Haila sambil berjalan keluar bersamaan itu perawat masuk untuk memeriksanya.


Saat sudah jauh Nenek tak terlihat didepan ruangan rawat Alex berada.


Suster terkejut jika kondisi Alex semuanya membaik dan normal.


Menekan tombol darurat dan panggilan dokter juga.


Alex membuka matanya perlahan dan melepas alat oksigennya lalu mencabut paksa selang infusnya.


Nenek kembali masuk dan Dokter juga perawat sudah gaduh didalam.


"Alex !"


"Ada apa ini!"

__ADS_1


Nenek terus melerai sampai akhirnya Alex melihat nenek dan menghentikan aksinya.


__ADS_2