
Nayla tersadar dan membuka matanya dengan santai tenang sedikit cepat duduk dan melepas jarum infusnya sendiri. Juga semua alat di badannya.
Ia menatap keluar jendela dan mulai bergerak bangkit berdiri dan berjalan santai lalu menatap keluar jendela, berdiri didepan jendela dengan wajah sayu juga pucatnya.
Alex baru saja kembali dari ruang kerja membuka pintu dengan kunci dan masuk lalu melihat kasur kosong tak ada siapapun tidur disana.
Saat matanya menatap ke arah kursi dekat dengan jendela. Nayla duduk dan menatap keluar jendela dengan nyaman.
Alex menatapnya dengan tatapan yang sulit di baca.
Alex sengaja mengunci pintu agar tidak ada yang masuk kedalam kamarnya tapi, Nayla sudah terbangun dan seperti tak terjadi apapun.
Berbalik, menoleh kearah suara pintu menatap dengan tatapan yang sayu juga kosong.
"Kau... kau baik-baik saja." Alex tiba-tiba berasa gugup. Ini bukan hal biasa.
Nayla terdiam lalu berbalik lagi menikmati pemandangan di luar jendela.
Sungguh ia benar-benar lelah hari ini dan juga ia tak merasa sakit atau kantuk apapun.
Alex segera berbalik pergi sambil menelpon.
*
Tak lama datang Della dan Rafa.
"Kau aneh, Lex." Kata Rafa sambil berjalan mendahului Della.
Sampai di kamar mereka melihat Nayla duduk dengan santai diatas kasur dan menatap kosong.
Della tersenyum.
"Nay?" Menoleh dan tersenyum seketika air mata nya tumpah tanpa di minta.
Nayla sama sekali tak mau menangis dan sejak tadi bahkan sejak ia sadar ia ingin menangis tapi, ia tahan dan sekarang bertemu dokter cantik yang belum lama menjadi teman bicara.
"Kenapa?" Rafa seketika menatap Alex lalu istrinya dan Della mengisyaratkan untuk memberikan mereka berdua ruang.
Alex menatap Nayla sambil berjalan keluar seperti tak rela. Alex juga membawa Rafa bersamanya keluar.
Alex sempat terkejut tapi, ia malu mau bertanya seperti orang sangat khawatir .
Alex sama sekali tak suka apa yang ia lakukan sekarang. Alex turun kebawah menunggu kedatangan Rafa dan istrinya sempat adu mulut dulu dengan nenek.
Alex benar dilema di satu waktu kadang merasa harus membela nenek sepenuhnya.
Alex tak bisa berpikir baik jika Nenek menekannya.
Alex ingin Nayla tinggal tapi, ada kontrak diantara mereka.
__ADS_1
Alex bukan lelaki dengan ucapan yang berubah untuk beberapa hal tapi, Nayla adalah hal yang terkecuali, tidak ada alasan kenapa tapi, Nayla itu snagat sulit Alex jelaskan.
Setiap ia memperhatikan Nayla setiap hari hatinya berdebar tapi, Alex tak bisa bilang cinta itu mungkin karena ia kurang sehat atau kelelahan atau kurangnya minum air putih.
Alex tak mau jika ia sampai menyukai Nayla tapi, ia tak ingin Nayla pergi dari sisinya.
*
Di dalam kamar Della membersihkan luka dari jarum infus yang di cabut asal dan menempelkan perban instan penutup luka bekas jarum infus.
"Nay? Kamu bisa cerita sama aku apapun itu kamu keliatan banget punya banyak hal yang kamu simpan."
"Enggak Ada, Dell... Aku sebenernya udah sara cuman mata sama badan aku gak bisa gerak. Aku juga denger semua omongan mereka yang masuk kedalem kamar ini, Bahkan aku tahu dari kata dan amarah Alex juga Darma yang hentiin saluran infus aku."
Della terdiam.
"Boleh aku periksa sebentar Nay?" Nayla menganggukinya dan Della langsung mengeluarkan alat periksa detak jatung tekanan darah dan senter.
"Semuanya baik dan aman, Kamu merasa kalo kamu gak terima, disnin?"
Nayla tersenyum.
"Iya... dan itu kenyataan."
Della memperhatikan Nayla yang kembali menunduk dan menangis.
Della kembali memeluknya dan memeberikan ketenangan hingga tangis Nayla begitu terasa sampai Della ingin ikut menangis.
Sekarang ia menangis bahkan tangisnya seperti sudah lama ingin di kelurkan tapi, tak bisa karena Logikanya melarang dan hatinya terpaksa tegar kuat.
Beberapa menit menangis sampai akhirnya Nayla melepaskan pelykannya.
"Sabar ya Nay, Semua pasti ada bahagianya, belum sekarang nanti atau besok tapi, di waktu yang tepat. Kamu kuat sabar dan pemberani, bonusnya cantik."
Nayla langsung terkekeh.
"Makasih Della." Della mengangguk.
Mengeluarkan suntikan dan mengisinya dengan obat.
"Maaf ya Nay Suntik lagi, kamu harus istirahat dah lama kamu gak nangis sekarang tidur yang nyenyak, Aku jamin Alex mau kok nerima permintaan tolong kamu kalo nanti kamu butuh, jangan terus kecil hati dan minder yaa... kamu bisa kesulitan nantinya, jangan pura-pura kuat juga, kamu punya Tuhan."
Nayla mengguk tersenyum dan selesai menyuntikan obat penenang. Della menarik selimut untuk Nayla dan pergi keluar setelah membereskan barangnya.
Di depan kamar saat Della keluar Alex dan Rafa langsung menatapnya dengan tatapan yang ingin tahu apa yang terjadi didalam, tadi.
"Alex.. kita bicara di ruang kerjamu saja, Biarkan Nayla tidur." Alex mengerti.
Ia pergi membawa kedua dokter bersamanya dan sempat sebelumnya meminta bibi mengurus Nayla.
__ADS_1
Di ruang kerja Alex sekarang.
"Ini bukan hal yang sering aku temui, Nayla memperlihatkan dirinya yang lemah, bisa di bilang ia akan sangat diam dan penurut, bahkan ia begitu lelah berpura-pura dulu."
"Maksudmu tadi.."
Rafa menatap Della meminta penjelasan detail nya.
Della pun menceritakan semuanya yang Nayla katakan bahkan yang sempat tak mau ia katakan di katakannya juga saat itu.
Della juga menatap perubahan mimik wajah alex yang terlihat terdiam dan bingung.
Rafa langsung memegang tangan istrinya.
"Dia sebenernya tidak mau membuat semuanya kesulitan ia juga berusaha keras agar tak menyulitkan tapi, dengan kejadian itu Nayla sadar ia sangat membuat semua kesulitan." Jelas Della lagi.
"Ternyata dia sudah sadar tapi, tak bisa membuka matanya? Bahkan dengar pembicaraanku dengan Darma juga dengan..."
Alex terdiam.
"Kau setidaknya berpikir Alex... dimana nuranimu, kau memaksanya dan kau malah bilang, oh tenyata dia sudah sadar tapi tak bisa membuka matanya... Kau! Alex! Kau!" Kesal Della.
Rafa mencegah Della agar tak mencakar wajah Alex.
"Aku tahu kau sama sekali tak menyukainya tapi, Kau tak seharusnya membuatnya menderita terus menerus belum nenekmu belum lagi Calon istri gagal mu!"
Mengucapkan setatus Darma dirumah ini dengan sangat mudah.
"Sayang cukup sudahlah..." Tenangkan Rafa untuk Della yang terus pqnas ketika melihat Alex hanya diam tanpa ekpresi penyesalan.
"Aku bahkan rak tahu apapun, Dell!" Elaknya.
"Cih.. tak Tahu tak tahu... kau bahkan tak mengerti apa yang di maksud dengan permintaan tolong wanita dari tatapan mata padahal kaliam tinggal satu atap, Dasar Bod*h Tak peka!"
Alex melirik kesal Rafa.
"Diam... Rafa.. aku ingin menamparnya memecahkan kepalanya sampai aku bisa menyambungkan urat nadinya menjadi urat otot, Suami gak tahu otaknya dimana masih mau Nayla ada di sampinya.."
Alex menatap tajam dan seketika Della menghentakkan kedua tangan Rafa untuk melepaskannya.
Rafa terpaksa melepaskannya.
Alex berdiri dari duduknya.
"JAGA DIA DENGAN BAIK ATAU KAU AKAN MENYESAL!"
Della langsung pergi dan tak lupa sopan santun dan kurang ajarnya meminta bayaran sebelum benar-benar keluar dari pintu.
Rafa menatap Alex.
__ADS_1
"Maaf kan sikapnya." Alex mengangguk maklum.
"Kurasa apa yang di katakan istriku benar juga, Lex... kau pikirkan baik-baik tentang kontrak itu dan bungan pernikahanmu."