
Gavi dan Fatir datang di waktu yang tepat menghalangi mobil dan motor sedangkan Zia menarik Nayla ke tempat aman.
Mereka bertiga bergerak cepat.
Suara keras di besment parkiran membuat gedung riuh sekejap.
"Nyonya?" Panggil ketiganya panik.
Di tempat lainnya Marcella mengepalkan tangannya kecang.
Rencananya gagal lagi.
Gazi dengan cepat meminta sopir datang dan membawa Zia dan Nayla ke rumah sakit. Baru saja Nayla berangkat dengan mobil sopirnya. Alex datang di saat yang tepat ketika utu tatapan mata Marcella dengan baik menatapnya tajam dan begitu juga Alex.
Alex tak bisa langsung mengambil sikap karen informasi Marcella masih setengah-setengah ia dengar dan dapatkan.
"Apa yang terjadi?" Gazi dan fatir tak menjelaskan dan hanya memeprlihatkan mobil kantor hancur dan dua kendaraan juga satu orang tersangkut di mobil satunya masih didalam mobil tak bisa keluar.
"Sialan!"
Alex minta Gazi memanggil Zul membereskan kekacauan ini dan ia akan mengurus istrinya. Vansiska pergi keluar ruangan Alex dan menjauh dari sana. Di saat yang sama Alex melihat Vansiska berjalan dengan tatapan mata kosong hampir saja tertabrak.
Dengan cepat Alex membawanya masuk kedalam mobil tanpa banyak bicara.
"Masuk!" Perintahnya keras.
"Tidak mau!"
"Masuk atau kau aku biarkan," ujar Alex lebih keras kepala. Siska seketika kesal terpaksa dirinya menurut karena takut dengan wajah marah Alex yang sangat dekat didepan wajahnya.
Alex terpaksa harus mengantar Siska lebih dulu jika ada sesuatu terjadi alex malas melihat orang tuanya memohon. Suasana hatinya sedang tak mau melihat orang lain memohon.
"Kenapa pulang kukira kau akan mengajakku pergi dan membujukku." Alex tak menanggapi dan melihat ibu Siska sibuk dengan bonsainya. Alex keluar menyapa sebentar dengan hormat dan memperlihatkan Siska.
"Oh.. Terimakasih Alex aku akan mengurusnya untukmu, Kembali lah mungkin istrimu sudah menunggumu." Alex mengangguk dan pergi tanpa kata apapun.
Siska kesal.
"Ibu kenapa di biarkan." Ibunya Siska menatap putrinya marah.
"Besok aku akan minta Rayanza menjemputmu dan mendidikmu ditempatnya dengan baik, Masuk sekarang juga anak cantik." Nada bicara terdengar mengerikan di telinga Siska terdengar seperti mau melahapnya matanya hampir terlihat akan berubah merah.
Alex melajukan mobilnya kencang menembus lalulintas padat. Di rumah sakit Nayla di tangani Della dan rafa langsung tanpa Dokter lain kecuali Alex memberikan perintah lain karena Della dan Rafa juga tahu bagaimana Alex jika orang terdekatnya sampai di sentuh dokter lain yang jika bukan dirinya sendiri yang minta.
"Kenapa bisa seperti ini Zia?" Tanya Della dengan tenang sambil memeriksa Nayla.
"Kejadian kecelakaan berencana yang diatur untuk membunuh dua nyawa itu." Della berhenti menggerakkan senternya di mata Nayla.
__ADS_1
Mematikan sinarnya dan terdiam.
"Dimana Alex?" Tanya Rafa kini. Della mengambil alih.
"Tak lama Tuan mungkin sudah sadar dan akan datang." Terlihat mata Ragfa menangkap seseorang yang mirip Alex dan ternyata benar Alex disana.
Alex yang mencari dan berjalan cepat seketika menemukan wajah Rafa.
Berlari mendekat.
"Istrimu mengalami syok berat dan kondisinya menurun drastis juga ia terlihat tertekan apa yang kau lakukan saat sebelum ia syok dengan kecelakaan yang hampir membuatmu tak bisa bertemu dengannya." Cecar Rafa yang sudah tak bisa menahan kesalnya.
"Marcella yang melakukannya, ada Vansiska di kantor dan tempat saat Nayla masuk ia melihat kami berpelukan tapi, sungguh aku tak memeluk siska."
"Ya Tuhan, Alex... Bisakah hidupmu tenang dan keluargamu tetap lah masalah keluargamu, Selesaikan masalah di luar masalah keluargamu." Kesal Rafa karena Alex tak terlihat melakukan apapun.
Tapi, yang sebenarnya terjadi alex dan Beno juga Zul melakukan banyak hal dan semua hal itu sudah hampir selesai jika ia tergesah- gesah itu tak akan baik untuknya prusahaan terutama istri dan anaknya.
"Anakmu belum lahir tapi, masalahmu belum juga selesai."
Alex diam dan mendengarkan tak tahu paham atau hanya lewat begitu saja. Tirai Della buka dan terlihat infus sudah terpasang di tangan Nayla.
"Dia syok sekarang mungkin sudah lebih tenang aku menyuntikkan penenang."
"Kau cepat bereskan semua masalah segera, Putramu mau lahir kau malah tak terlihat melakukan apapun."
Zia ditatap Alex tiba-tiba.
"Jaga Nayla di kamarnya pindahkan keruang rawat."
"Baik Tuan." Zia segera membantu perawat dan Della menatap Alex tajam lalu pergi bersama Zia.
Rafa mengajak Alex pergi ke atap.
"Rokok?"
Alex mengambil sebatang dan meminta api dari korek yang Rafa nyalakan.
"Aku akan pergi menemui Melda dan Darto aku akan mengurus pembantu Marcella sebelum Marcella sendiri."
"Apa kau tidak mengurus Marcella saja lalu selesai."
"Tidak Fa. Marcella mengikuti apa mau Melda dan Darto jadi aku harus mengurus mereka. Dan aku menitipkan Nayla padamu dan Della ada Ian dan Zoya juga menjaga jika di butuhkan Zul dan Zia masih ada di negara ini jadwal mereka bulan ini hanya ada di kota ini tidak keluar kota sama sekali."
Rafa menghisap rokoknya.
"Ok, Baik. Aku akan menjaganya bersama istriku dan kau, kuharap Melda mendengarkanmu."
__ADS_1
Alex mengangguk dan seketika mematikan puntung rokok yang sudah sedikit dan menatap kedepan dengan tatapan menerawang jauh kedepan.
*
Hari-hari berikut setelah kejadian itu kondisi Nayla mengalami peningkatan tapi, Della meminta perawatan lebih lanjut pada Dokter senior untuk Nayla yang mengalami syok juga tekanan.
"Nay.. buat sekarang kamu nginem di rumah sakit sampai melahirkan ya.. Lagian juga ada Zoya ian ada aku dan Rafa nanti Zia juga sering dateng atau bibi juga."
"Tapi, bosen Dell."
"Demi calon anak mu kali ini aja kamu harus ok dan terima keputusan alex buat yang terbaik juga buat kalian tetap bisa ketemu, okay."
Nayla mendengus tapi, tetap juga menuruti apa yang di sarankan Della.
Alex datang ke negara terkenal pizzanya dan saat ia datang sambutan besar menyapanya.
Melda tahu kedatangannya di jalur dan pertokoan yang tak terlalu ramai juga banyak yang tutup tiba-tiba serangan mendadak membuat ban mobil yang Alex kendarai kempes.
"****!" Alex melangkah keluar tiba-tiba seseorang datang dari jauh dengan motornya tapi Alex yang bergerak cepat menariknya dan motor jatuh dengan pengendara terlempar.
Beno mengurus mobil dan beberapa orang lainnya.
Tak butuh waktu lama Alex datang dengan rupa tak baik-baik saja ke tempat Melda dan Darto di mana ruangan berkelas mewah menikmati buah dan di suguhi permainan kasino.
"Melda!" Darto tersenyum remeh.
Perkelahian terjadi dua lawan beberapa orang dengan jumlah tak pasti.
Dari atas tangga seorang wanita cantik tak lagi muda.
"Berhentilah, Mereka tamu jangan terlalu berlebihan menyambutnya."
Alex melempar kasar benda keras itu dan memejahkan salah satu hiasan kaca Melda.
"Bicara sekarang atau aku hancurkan bisnismu sampai keakarnya."
Melda dan Darto langsung terdiam dan Melda memilih mengajak alex yang mau bicara sesuatu dengannya.
Jika membahas bisnis itu tak akan Melda biarkan karena bisnis mereka sedang dalam gangguan dan kerugian hampir mencapai triliunan dollar.
Darto dan Beno menunggu di bawah dengan aura permusuhan yang kelam dan kental.
Mereka bahkan menunggu di tangga dan tidak duduk. Setengah jam dan hampir satu jam tiba Alex dan Melda belum keluar.
Didalam Melda mengamuk mengancam tapi, Ancaman alex juga ekspresi intimidasi lebih bisa membuat lutut Melda lemas.
"Baik-baik aku akan lepaskan marcella dan kau urus urusanmu, aku juga tak akan membantu marcella lagi.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan Janji. pantang buatku mengingkarinya, Apa lagi yang kau mau?"