
Alex menatap marah Nayla.
Permintaan tak masuk akal itu tak akan ia terima dengan mudah dan selamanya Alex tak akan memutuska. pernikahan ini, walaupun terpaksa diawalnya dan keputusan satu pihak, yaitu dirinya sendiri.
"Tidak!"
Nayla menangis.
"Kenapa?.. aku ingin menjauh kau malah menarikku ketika aku sudah di tarik mendekat ke arahmu kau malah pergi seakan aku tak perlu, sekarang apa lagi, Alex!"
"Aku tidak akan izinkan permintaan anehmu, kau memang sesang hamil tapi, keputusan mu meminta ku untuk menceraikanmu itu, salah!"
Nayla menggeleng.
"Itu tidak salah kau tidak salah, aku yang salah. Ceraikan aku Alex."
Nayla tetap membahas perpisahan ini dan apa ini semua maksudnya kaenapa ia bilang ia yang salha.
Alex sangat pusing sekarang bukan Nayla saja yang pening dengan masalah ini.
Baiklah, Alex saat ini berhadapan dengan ibu hamil dan sangat muda kehamilannya tua kehamilannya atau pertengahan itu tetap ibu hamil.
Harus ekstra sabar.
"Nayla." Panggil Alex lembut.
"Kau tetap bersamaku, aku tak akan membuatmu tak nyaman denganku, ku usahakan aku akan menerima mu dan aku juga akan menerima apapun yang ada dirimu walaupun itu baru untukku. Kau juga beri aku kesempatan untuk melakukannya? Ok."
Nayla menggeleng, terus menangis.
"Aku tidak mau lagi, lepaskan aku Alex...aku benar-benar ingin berpisah, aku tak mau denganmu aku muak dengan semuanya aku ingin menjauh, biarkan aku pergi."
Nayla menangis menunduk meremas sprai.
Alex berdiri dan memilih menatap keluar jendela.
Lalu mengetik sesuatu di ponselnya.
Alex memilih keluar dari ruangannya dan meninggalkan Nayla yang menangis sendirian didalam sana. Ia sama sekali tak bisa mengontrol emosinya jika Nayla terus meminta berpisah darinya.
Ini tak bisa Alex kabulkan karena tujuan Alex mengikat Nayla, walau terpaksa sudah beda tujuan nya dari dari tujuan awal, sekarang.
Tak lama pintunya kembali terketuk dan Zia masuk bersma Della.
"Apa Lagi Lex?" Kesal Della sambil berjalan menerobos masuk tanpa di persilakan sang empunya.
__ADS_1
Zia di samping Della menunduk sopan didepan atasannya ketika Alex melihatnya sebentar setelah melihat sikap asal masuk nyelonong Della.
"Kalian berdua bujuk dia dan minta dia tenang sekarang dan untuk beberapa hari, aku akan memindahkannya ke rumahku, dan dalam beberapa hari sambil menunggu Beno menyelesaikan surat pisah kami."
Della menghampiri Alex dan menggebrak meja. Zia sampai terlonjak karena ia tak siapa dan Della juga tiba-tiba jadi tak sopan begitu, Alex langsung menatapnya tajam.
"Kau bermain lagi!"
"Alex! Aku kan sudah peringatkan berhenti berulah kau selalu saja membangkang, lihatlah kondisi Nayla tak baik bukan, kau bisa lihat! Hentikan! Dan jalani apa adanya saja." Mengurap kepalanya san mengibaskan jasnya kebelakang, bertolak pinggang memainkan lidah didalam mulutnya sambil mencaci Alex dengan tatapan mata tajamnya.
Alex memijat pelipisnya melonggarkan dasinya. Wanita satu ini, suka sekali bar-bar tiba-tiba.
"Zia masuklah tenangkan Nayla!" Perintah Alex tegas.
Zia langsung segera pergi masuk dan melihat Nayla sedang menangis sambil terus mengeluarkan ingus dengan tisu.
Di luar ruang istirahat.
Alex menatap istri Rafa kesalnya bukan main, perempuan tomboy dan keras kepala ini membuatnya hampir lupa kalo Della juga bisa melawan fisiknya jika sampai Alex membuatnya terluka dengan kekerasan.
Della ini sudah setara Alex kemampuan bela dirinya. Jadi jangan aneh jika Della begitu berani kadang-kadang.
"Kau tak mau mendengarkanku, Dell!!" Tekan Alex sangat gemas.
Menarik nafas dan menghembuskannya kasar ke samping kiri. Menatap Della tenang.
Beberapa detik sunyi. Tiba-tiba Alex mendekat selangkah dan Della tak mengubah posisinya.
"Dia meminta cerai sejak ia datang siang tadi dan sempat ia tidur dengan air mata karena aku tak mengiyakan keinginannya untuk cerai."
Della diam seribu bahasa.
"Ia minta aku untuk segera mengurus perpisahan kami aku tak akan melakukannya, Aku waras!" Gemas Alex sambil bertolak pinggang lalu menggeleng menatap keluar jendela dan tangan kanannya kini berpindah mengusap dahi hingga rammbutnya kebelakang.
Della menatap Alex dengan tatapan menerawang.
"Jika sampai aku mengikutinya untuk menceraikannya. Aku sudah Gila! Dan aku bukannya disini tapi, di rumah sakit jiwa!" Nadanya sedikit tinggi saking pusing dan kesalnya.
Della kembali tertohok, kagetnya ia saat tahu dari penjelasan Alex jika Nayla segitu kekehnya ingin pisah.
"Kau! Akh.. sudahlah, aku akan mengurusnya dan kau benar akan tetap menjadikannya nyonya Alexzavero bukan?" Selidik Della takut Alex mengubah keputusannya. Menunjuk wajah Alex sangat dekat.
"Aku sungguhan! Ya!" Yakin Alex menatap Della di wajahnya bukan telunjuk jari tak sopan itu.
Della menurunkan telunjukkan yang menunjuk wajah Alex tiba-tiba.
__ADS_1
Della melangkah pergi memasuki ruang istirahat tak perduli dengan tatapan mata dan ekspresi alex yang kesal dengan tingkahnya. Didalam Nayla melihat Della saat baru saja masuk seketika itu Della mendekat cepat setelah menutup pintu rapat, Della langsung memeluknya.
"Tenang Nay... kau sedang kurang baik untuk terus emosi." Katanya sambil mengusap punggung Nayla.
Nayla mengangguk.
"Sekarang makan sesuatu sepertinya kau kurang memakan makanan yang sehat bukan?"
Nayla menggeleng.
"Aku tak mau makan apapun," ucapnya pelan.
"Tidak banyak hanya sedikit, kau tentu tak lapar tapi, anakmu lapar sayang." Tekan Della dengan lembut.
Akhirnya Nayla mau memakan sesuatu. Zia membantu menyiapkan makanan kecil walaupun hanya bubur sumsum yang baru didapat dan Zia baru datang setelah membelinya di pedagang kaki lima dekat kantor.
Alex juga sudah tak ada di ruangannya setelah Della masuk ke ruang istirahatnya.
Alex pergi rapat di luar dengan Gazi dan Fatir. Beno bertugas di kantor sementara karena ada Della dan Zia mengurus Nayla. Jika sesuatu terjadi Alex bisa langsung dapat kabar awal.
Walaupun Zia dan Della bisa langsung menghubunginya tapi, tetap Alex merasa jika Beno lebih tepat menyampaikan informasi paling cepat.
*
Di rumah kini keluarga Nayla terdiam dengan apa yang baru saja di sampaikan Beno.
Setelah pukul tujuh malam Beno yang dari mengantar berkas ke rumah Alex bukan rumah utama Nenek langsung pergi kerumah orang tua Nayla.
Mengabarkan tentang kehamilan Nayla yang harus sampai ketelinga ayah dan ibu mertua bosnya termasuk Zoya.
Lebih baik membiarkan Beno yang menyampaikannya. Dari pada tak ada yang memberitahukannya.
Beno menjelaskan tentang kondisi dan kesehatan Nayla lalu juga bagaimana kesehariannya. Ayah merasa putrinya sangat di jaga tapi, dalam hati kecilnya ia masih merasa takut jika Alex kadang membuat putrinya kesakitan.
"Kalo begitu saya pamit." Beno langsung pergi setelah urusannya selesai.
Saat Beno yang sudah pergi dan tak terlihat lagi di rumah orang tua Nayla. Saat itu juga di dalam kamarnya Zoya kesal karena ternyata kehidupan Nayla begitu baik.
Ibunya melihat putrinya murung seketika mendekat.
"Kenapa Nak?"
"Kenapa Nayla selalu beruntung."
"Aku juga mau beruntung dan aku ingin orang seperti Alex yang kaya raya."
__ADS_1