Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Bertahan tanpa alasan


__ADS_3

Abdullah yang sibuk dengan kedainya seketika melihat Zoya diantar seseorang.


"Dipto!" Abdulah langsung mendekat dan menarik Zoya kebelakangnya.


"Kenapa kau datang dan apa urusanmu dengan adikku!"


"Oh.. dia adik mu..." Dipto tersenyum senang ternyata Dipto akhirnya bisa melihat abdulah secara langsung.


"Tapi, aku menyukai kakaknya, Nayla... aku pastikan aku mendapatkannya dan kau akan tetap berurusan dengan Alex." Pergi begitu saja.


Zoya bingung dengan maksud urusan? Urusan apa yang Dipto dan abdulah punya.


Zoya ingin bertanya tapi, Abdulah marah memarahinya dan meminta untuk pulang jangan pernah diantar agaupun bertemu dengannya lagi.


Abdulah masuk kedalam kedainya dengan keadaan marah. Zoya hanya diam menatap bingung ingin masuk takut kembali di marahi. Sudahlah masuk saja yang penting jangan menanyakan hal tadi.


Dipto yang sedang mengendarai mobilnya mendapat kabar dari anak buahnya jika Nayla kabur dari rumah dan Alex mencari nya kemana-mana.


"Kesempatan lagi." Dipto segera meminta anak buahnya mencari dan memeriksa cctv setiap daerah.


Di tempatnya Alex baru saja selesai dengan pekerjaannya. Dan saat ini sudah lima hari berlalu saat Nayla pergi dari rumah. Alex marah dan tak mau melihat Neneknya bahkan Ian datang dan melihat keadaan kakaknya entah dirumah kakaknya atau di kantor, itu pun dengan perintah nenek.


Dan saat ini Ian datang dan melihat Alex merokok diatap gedung sendirian.


"Kak? Apa Nayla sudah ketemu?" Alex berbalik menatap adiknya sambil menginjak puntung rokok yang tinggal sedikit.


"Apa lagi yang nenek katakan." Kata Alex tanpa mau basa basi. Ian menunduk dan memberikan sesuatu seperti kotak didalam tas kertas coklat.


"Itu perhiasan keluarga dan aku di minta nenek untuk kau pergi menemui Vansiska."


"Aku bilang tidak! Jika aku mau aku sudah melakukannya sendiri sejak awal aku tak bisa melupakan Nayla."


Ian menarik kembali uluran tas kertas dan mengantongkan sebelah tangannya di saku jaket kulitnya.


"Aku tahu itu, bukan salah kakak, kakak udah berusaha terbaik tapi, tetep hasilnya tak terlihat. Sekarang apa yang kakak lakukan?"


"Kau pulang dan jaga nenek aku akan mengurus masalah diriku sendiri bilang pada nenek berhenti memaksaku menikah lagi walaupun mereka menerima statusku yang masih memiliki istri."


Ian terdiam.


"Kakak bukannya sudah cerai dengan..."


"Itu hanya untuk mengecoh nenek aku sebenarnya belum menceraikan Nayla."


Ian mengerti.

__ADS_1


Alex melangkah pergi melewati adiknya begitu saja dan meninggalkan sendirian tanpa ada kata ajakkan untuk turun dari atap.


*


Nayla sekarang sudah hampir agak lelah walaupun perutnya masih terlihat rata, lima hari yang ia lalui di rumah ini cukup lebih baik dan ia juga tak pandai akrab dengan tatangga karena mereka semua sibuk dan jarang ada di rumah.


Sorang dengan topi hitam dan masker memotret Nayla yang sedang menyapu teras kontrakannya dan melihat Nayla yang belanja di warung dekat kontrakannya.


Di tempatnya Alex sibuk memeriksa hasil kerja yang baru saja datang ke mejanya.


Tiba-tiba Zulfikar datang dengan wajah paniknya.


"Dipto mencari keberadaan Nyonya, juga."


Alex menatap Zulfikar dengan santai berdiri melepas kaca matanya dan bergerak pergi dari tempatnya melewati Zulfikar.


"Ayo kita pergi sekarang aja."


Zul paham maksud Tuannya.


Saat yang sama di tempatnya Dipto tersenyum senang karena sudah mendapatkan dimana posisi Nayla dengan sangat cepat.


Nayla merasa dadanya berdebar apa ia hanya kurang minum air putih saja.


Saat malam tiba pukul sembilan. Semua jendela dan pintu ia kunci rapat. Seketika suara ketukan pintu terdengar begitu keras walau tak terlalu tapi, Nayla mendengarnya jelas.


Nayla tak memesan apapun tapi, kenapa ada orang mengantarkan paket.


"Selamat malam Nyonya." Seketik Nayla menghentika gerakannya dan senyumnya pudar.


"Pergilah!" Beno menahan pintu yang mau Nayla tutup cepat.


"Tuan Dipto mencari keberadaan anda dan Tuan menunggu anda di mobil Nyonya."


Nayla bingung sedikit menimang apa yang harus ia ambil keputusan sekarang. Jika ia mengatakan ia mau menemui Alex maka ia tak akan pernah bebas tapi, jika ia tetap menghindari Alex, sekarang Alex saja sudah tahu keberadaannya.


"Dimana?" Nayla memilih menemuinya saja. Saa Nayla mengatakan itu, Beno sangat bersyukur karena akhirnya ia bisa libur sehari untuk menghindari perintah berat dari bosnya lagi.


Beno merindukan waktu istirahatnya. Nayla melangkah didepan di ikuti Beno dan saat sampai di mobil Alex. Beno membukakan pintu dan Nayla masuk tapi, tak langsung. Nayla menatap alex yang diam menatap lurus kedepan bahkan ia sama seperti awal Nayla tinggalkan. Tapi, tak rapi pakaiannya. Biasanya Alex akan selalu rapi.


"Masuklah." ucapnya pelan.


Nayla masuk dan duduk. Beno langsung meminta anak buahnya menjaga mobil. Lalu meminta salah satu dari mereka melihat lingkungan sekitar takut kalo Bosnya di tuduh berbuat mesum.


Didalam mobil. Nayla diam sambil terus memainkan kuku dan jarinya.

__ADS_1


"Aku ingin kau kembali pulang dan tinggal di rumah ku bukan rumah nenek, aku juga sudah membuat surat cerai palsu untuk menipu nenek, aku tahu sejak tiga hari lalu kau tinggal disini, aku ingin kau ada di dalam pengawasaku, bisa?"


Nayla menghela nafasnya menghentikan tangannya dan memilih diam dan tenang. Menoleh menatap Alex.


"Aku ingin cerai sungguhan dan aku ingin kau juga menjauh dariku."


Alex menghela nafsanya.


"Jangan egois Nay, kau mau menjadi ibu dan anak mu tak mungkin lahir tanpa sosok ayah, aku bukan lelaki bodoh!"


Nayla terkekeh.


"Kau menikahiku tanpa cinta berarti kau juga meniduriku tanpa niat dan cinta hanya nafsu belaka yang harus terpenuhi."


Alex ingin marah tapi, ia ingat ada bayi yang masih bertumbuh di dalam perut Nayla.


"Tidak, aku tidak sama sekali berniat seperti itu." Nayla melengos membuang wajahnya.


"Aku tak tahu kau itu jujur atau tidak tapi, perlakuan mu selama ini seperti itu, kau pasti ingin anak ini saja kan setelah ia lahir kau juga akan membuangku, kau terlalu tega, dasar tak punya hati!"


"Nayla Zavero Garendra...." Nayla kaget.


"Kau dengar apa yang suami mu minta dan perintahkan, ini semua demi kebaikanmu, kau patuh atau tidak itu terserahmu, aku tetap memaksa apapun mau mu, di luar sana banyak yang mengincarku jika mereka tahu kau mengandung anakku maka bukan hanya kau yang di incar tapi, anak ini juga kau mau kau tak bisa melihatnya di dunia ini kau juga akan kehilang ia selamanya jika kau egois. Jika ia selamat kau tidak, aku tahu kau tidak keberatan tapi, jika ia tak selamat dan kau selamat kau juga akan tetap hancur."


Nayla langsung diam dan tertunduk ia mendengar namanya di satukan dengan nama Alexzavero dan ucapan Alex membuatnya sadar dan ingat jika suaminya bukan orang kaya biasa tapi, pewaris bisnis dan perusahaan besar yang pasti punya musuh dimanapun dan jika ada yang tahu ia membawa benih Garendra.


Tapi, Nayla tetap bisa menjaga diri.


"Aku tetap ingin pisah..." Seketika sebuah motor melintas dengan cepat.


Dan saat bersamaan Beno memasuki mobil dan melajukan mobil dengan cepat.


"Nyonya, saya mohon pakai sabuk pengaman anda!"


Nayla bingung dan tak melakukan apa yang Beno minta.


Alex sadar sesuatu.


"Kau tak memakainya kalo begitu mendekat padaku lebih baik." Seketika itu Nayla terkejut dengan rangkulan di pinggangnya.


"Kau!"


"Dipto ingin menculik nyonya," ucap Beno pada anak buahnya lewat saluran radio telingan dan alat di dekat pita suaranya.


Alex menatap Nayla, tatapan mata yang menuntut jawaban.

__ADS_1


"Haah! Sungguh aku harus mengatakan ini. Baiklah! Aku akan tinggal bersamamu, titik!" Nayla menekan semua ucapannya kesal dan terpaksa


__ADS_2