Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Sasaran


__ADS_3

Nayla mendekat merapat pada Alex saat baku tembak benar-benar terjadi.


Alex hanya diam dan tetap tenang untuk Nayla agar tak terlalu panik. Seketika melihat Nayla, Alex melihat kedua tangan Nayla gemetar ketakutan.


Alex segera memegang kedua tangan Nayla dan menahannya untuk tetap merasa nyaman dan aman.


Nayla terkejut menatap Alex langsung dengan wajah bingung tapi, tak bisa menolaknya, Nayla benar-benarketakutan sekarang.


"Beno jangan buat urusan ini terlalu lama."


Beno mengerti dan segera meminta anak buahnya menghambat laju anak buah Dipto.


Nayla menyandarkan kepalanya pada dada Alex tanpa sadar karena saking takutnya dan berusaha mencari tempat nyaman bersandar.


Dipto kesal dan marah sampai membuat beberapa orang-orang Beno hanya bisa menatapnya datar dengan reaksi yang Dipto perlihatkan pada mereka.


Tapi, Dipto tidak kehabisan akal. Seketika itu melihat orang di sebelahnya dengan gerakan mata. Mereka menganggukkan kepala dan langsung melangkah menyerang dengan berutal.


Dipto memanfaatkan kesempatan itu untuk bergerak mengejar Nayla. Dengan motor milik salah satu anak buahnya. Dipto pergi menyusul mobil Alex. Beno yang sedikit tenang mengendarai mobilnya, kaget! Tiba-tiba Dipto menghadang dan terpaksa rem mendadak Beno lakukan.


Alex melihat siapa yang ada didepan mobilnya.


Nayla yang merasa mobil berhenti dan tak memperhatikan sekitar. Langsung membuka pintu mobil dan berjalan keluar tapi, Dipto lebih dulu menarik tangannya dan menyeretnya mendekat padanya.


Sejak tenangnya mobil berjalan Nayla dan Alex sudah saling menjauh, lebih tepatnya Nayla mendorong Alex agar menjauh darinya.


"Kenapa?" Nayla menatap Dipto kesal dan kenapa ia harus di tarik dan cengkram kuat seperti ini.


"Jika aku tak bisa menculiknya aku harus mengambilnya di hadapanmu langsung." Alex membenarkan jasnya lalu menutup pintu dengan santai Beno bersiap mengantongi pitolnya sebelum turun dari mobil.


Saat Nayla keluar dari mobil tiba-tiba saat itulah Alex juga ikut keluar dan melihat Dipto menarik narik Nayla.


"Lakukan jika kau bisa." Alex menatap Nayla yang terus kesakitan karena sakit tangannya di cengkram kuat Dipto.


Alex tak bisa mendekat dengan gegabah, bisa-bisa Dipto nekat melakukan hal yang berbahaya. Dipto menatap Nayla dengan memohon.


"Kau lepaskan, aku ingin lepas, Dipto!"


*


Nenek merasakan jika susana hatinya sangat buruk sekarang ia benar-benar tak mau makan atau melakukan apapun.


Nenek bingung dengan dirinya apa yang terjadi.


Nenek kesal bukan main karena Alex tak pernah lagi tidur di rumahnya dan memilih tinggal di rumahnya sendiri.


"Ini semua karena perempuan itu, dasar menyusahkan cucuku."


Nenek yang kembali kekamar tiba-tiba kedatangan tamu tak diundang. Mendengar suara langkah Nenek berbalik dan ternyata seorang wanita yang begitu nenek sayang setelah, orang tua Ian dan Alex.

__ADS_1


"Marcella." Nenek tersenyum lebar dan membuka pelukannya.


Nenek mengajak Marcella masuk dan tanpa sadar nenek membawa masalah besar yang bisa menghabisi keluarganya.


Di saat Nayla yang ingin lepas dari Dipto tanpa sadar jika Beno turun dan mendekat ke Alex. Alex berjalan mendekat ke Dipto.


"Kau tak bisa menyentuhnya dengan sembarangan."


Dipto menatap bingung. Ada kalimat Alex yang Dito dengar dan paham itu berarti ada hal lainnya.


"Nay, kau tak..."


Dipto punya firasat jika sekarang Nayla sedikit berisi. Menatap wajah dan bagian badannya yang tertutup baju yang biasa di kenakan wanita hamil.


"Kau tahu kan jika wanita hamil itu lebih sensitif, kau tahu kan.." Dipto memegang tangan Nayla lebih erat.


Nayla semakin terasa sakit.


"Lepas!"


"Ini sakit!" Nayla menatap Alex yang menatapnya untuk tunggu sebentar.


"Kenapa? Kenapa kau melakukan itu, Nay!"


Nayla menangis karena bentakanndan cengkraman tangan Dipto begitu sakit.


"Kau tak ada hak membuatnya memilih untuk mengandung anakku atau tidak. Kau asing!"


"Diam!" Marah.


"Kenapa... kau tak pergi saja dan mencari wanita lain?" Nayla menatap wajah Dipto.


Dipto yang melihat wajah Nayla sedih dan mata yang basah menatapnya memohon untuk di lepaskan.


"Tidak! Tidak akan pernah!"


"Kau gila Dipto, kupikir kau sudah berubah ternyata kau tetap berambisi, Aku sekarang sedang hamil aku juga sudah menjadi istri orang sejak awal pertemuan kita, kenapa kau tidak sadar!


Dipto menggeram.


Sejak awal Dipto tahu kalo Nayla akan menikah ia tetap menahan tapi, perasaan cintanya pada Nayla mengusik pikirannya dan Dipto tahu jika Nayla hanya di paksa menikah kontrak dengan cucu garendra itu.


Dipto merasa mempunyai peluang dan mengharapkan hasil besar yang baik. Berharap juga untuk bisa memiliki Nayla sepenuhnya.


"Kau tetap milikku aku akan membunuh Alex!" Mengarahkan pistolnya mengarah ke wajah Alex


Seketika itu alex mengeraskan rahangnya. Berani sekali putra Cakra melakukan ini padanya.


Nayla menggigit tangan Dipto dan mundur perlahan tapi, gerakan tangan Alex menarik Nayla lebih cepat dan dengan sekali kedipan mata Alex menarik Nayla dan Beno melepaskan tembakannya ke bahu kiri atas Dipto.

__ADS_1


Nayla kaget, sampai terasa pucat dan lemas. Dengan sigap Alex memeluknya dan memberikan ketenangan.


"Akh.. Kau!"


"Aku bilang untukmu menjauh dari istriku sekarang kau merasakan apa yang belum aku berikan, putra Iskandar."


Mengumpati Alex dengan keras mengangkat tangan sebelahnya lagi dengan pistol yang siap menembak.


Dor....


"Aa! Alex!" Berteriak hampir bersamaan dengan suara tembakan yang Dipto lepaskan.


Ketika membuka matanya sejenak setelah menutupnya kaget dengan ledakan peluru yang di lepas.


"Hiks.. Alex!" Nayla menatap Dipto marah dengan wajah sedihnya.


"Aku benci kau Dipto, Kau sama sekali bukan di takdirkan denganku, kenapa kau memaksa kenapa? Apa aku begitu baik spesial dan istimewa! Sadarlah Dipto masih banyak wanita di luar sana yang menyukaimu, Berhenti !"


"Berhentilah menyakiti semua orang dan termasuk aku dan suamiku, Kau bahkan tak bisa berpikir baik, jika sampai Alex marah atau kau melewati batas dan membuatku kehilangan ayah anakku dan suamiku!"


Dipto menatap Nayla teduh.


"Aku bisa menjadi lelakimu dan kita akan memulai hidup baru."


"Kau Gila!" Kesal Nayla. Dipto tak kunjung mengerti.


"Kenapa? Kenapa manusia sepertimu tak pintar hah!"


Nayla membalik badannya dan seketika itu sebuah tangan besar mendekapnya memasukkan wajah Nayla dalam pelukannya dan menyembunyikannya di dadanya.


Dor! Dor!


Nayla membeku di tempatnya sejenak semuanya berhenti dan suara tembakan itu masih terngiang di kepalanya.


"Semuanya baik-baik saja, sekarang tenang dan masalah kita selesai!"


Nayla mendonga melihat wajah Alex, Alex yang seketika juga menatap kebawah, di depan wajah keduanya saling menatap.


"Sekarang kita pulang," ucap Alex pelan dan lembut. Membiarkan Dipto berlutut dengan darah banyak keluar dari tangan dan bahu kiri kanannya.


"Aku tidak terima ini." Alex mengacuhnya dan Beno meminta semua anak buahnya yang baru datang segera bergegas menyelesaikan.


Nayla menangis seketika memeluk alex sebelum masuk kedalam mobil.


"Maaf!"


"Akau salah, maaf, apa itu sangat sakit!?" Alex sedikit merasa senang apa perasaan ini perasaan di khawatirkan.


Alex mengusap kepala Nayla.

__ADS_1


"Tunggu di rumah kita lihat separah apa lukanya."


__ADS_2