
Beno sebenarnya tahu kalo tuannya itu sangat perhatian dengan istrinya.
Persetan dengan kata istri diatas perjanjian dan hanya untuk menarik aset seluruh milik Garendra ketangannya agar Tuan Farhan tak bisa memilikinya.
Tuannya dari awal sudah mencari tahu siapa Istrinya dan tinggal dimana juga siapa pengurus Tonic.
Saat tahu mereka adalah orang sama-sama di benci Tuan hanya diam dan sepertinya keputusannya sangat besar ia ambil.
Beno lihat sendiri bagaimana Tuannya menatap istrinya saat yang lain tak lihat.
Dari sepion depan Beno bisa lihat wajah lega Tuannya yang merasa jika masalahnya berakhir untuk hari ini.
Di kediaman utama Nenek menatap Zulfikar dan Haila juga ayah Darma dan Darma disana.
Baru nenek akan bicara lagi untuk ketidak nyamanan nya, untuk ayah Darma. Suara mobil memasuki pekarangan dan para pelayan bergegas keluar semua, yang ada di ruang tamu hanya diam tak bisa berkata-kata lagi.
Alex masuk menggendong Nayla.
"Panggil Dokter Rafa dan minta dia bawa istrinya untuk mengobati Nayla, Beno!"
Segera Beno menghubungi Dokter Rafa.
Di tempatnya Rafa baru saja selesai menangani pasien di keliniknya dan melihat panggilan dari nama, Asisten Brengsek, yang di maksud adalah Beno.
"Halo.."
"Datang kerumah, keadaan Darurat, Tuan juga minta Anda membawa istri anda."
"Hah..."
"Tidak ada penolakan Tuan, Rafa!"
Telpon terputus dan Rafa mengumpat setelah dengan wajah marahnya.
Menatap asistennya.
"Kalian berdua jaga klinik sebentar aku dan istriku akan pergi."
Keduanya mengangguk juga dua orang resepsionis yang menjaga kasir juga bisa membantu penanganan.
"Sayang..." Panggil Rafa pada istrinya yang ternyata baru selesai menjahit luka pasien yang robek akibat pecahan kaca yang cukup besar.
Rafa merasa ini tak baik.
"Say..sayangku?" Lembut ketakutan, nadanya memanggil sang istri.
"Iyaa, suamiku." Langsung melempar sarung tangannya penuh darah ke tempat sampah dengan kasar dan keras.
"Aku ingin es kelapa muda dan juga...."
"Tidak bisa..."
Della menatap sang suami marah.
__ADS_1
"Apa apa yang tidak bisa... kenapa hah, Pasien keras kepala aku harus sabar sekarang apa... cepat bilang!"
"Istri Alex dalam keadaan tak baik..." Seketika Della berdiri dan menarik Suaminya tanpa aba-aba lalu segera berangkat setelah membawa dan siap dengan peralatannya.
Rafa benar-benar tak menyangka jika sikap istrinya akan begitu khawatir jika menyangkut istri Alex.
Waktu itu sebelum menikah ia biasa saja sekarang ia sangat khawatir.
Terlalu banyak waktunya di klinik jadi ia hanya punya teman dari istri suaminya alias Alex dan Rafa lalu Della dengan Nayla.
Nayla pernah bertemu Della di super market waktu itu tapi, hanya sebentar dan tanpa Alex ataupun Rafa tahu tapi, pertemuan singkatnya sangat berkesan jadilah, Della selalu menganggap Nayla sebagai temannya.
Sampai di kediaman Garendra. Della dan Rafa segera naik ke atas dimana Nayla dan Alex berada saat melihat neneknya Alex, Della sempat menyapa dengan senyuman.
Sebenernya Della malas berurusan dengan keluarga Garendra tapi, karena ada Nayla disana terpaksa ia harus melakukannya.
Masuk dan menerobos para pelayan melihat Nayla dengan pakaian yang kotor debu dan darah.
"Ya.. apa yang kalian lakukan?! Keluar semua!" Teriak Della dengan suara beratnya.
Semua keluar.
"Bibi dan dua pelayan perempuan batu aku."
Alex dan Lainnya menunggu di depan dan di dalam segera semuanya bergegas melakukan tugasnya.
Della sempat meneteskan air matanya.
"Banyak sekali darah yang keluar."
"Minta satu kantung darah Golongan langka."
Rafa mengerti dan segera menghubungi pihak rumah sakit dan bank darah. Termasuk Beno dan Zulfikar juga langsung bergegas pergi untuk mengambilnya.
Nenek benar-benar marah dan kesal kenapa Cucunya begitu memperdulikan gadis kampung yang sudah tahu sangat tak bisa di harapkan itu.
"Dasar gadis tak tahu malu!" Nenek berjalan dan duduk di ayunan taman belakang di temani satu pelayan tua bersamanya.
Nenek menghindari semua yang sibuk mengurus Nayla.
Didalam kamar Della baru selesai membungkus semua luka juga merapikan rambutnya masih bibi lakukan para pelayan segera keluar membawa semua pakaian penuh darah dan juga kapas luka Nayla yang harus di buang.
Infus terpasang dengan rapi.
Lalu darah baru saja datang.
"Dapat." Zulfikar memberikannya pada Rafa, dengan cepat Rafa juga pergi menemui istrinya dengan mengetuk pintu dulu.
"Sebentar." Della melangkah ke pintu dan melihat suaminya membawa darah yang Nayla butuhkan.
Saat yang sama semua kembali tenang dari ketegangan termasuk Della dan Rafa yang tugasnya sudah selesai pamit pulang mereka juga sudah lima jam di rumah ini dan waktunya mereka kembali, darah juga selesai di berikan pada nayla tingga sebotol infus besar nanti biar Della kembali lagi pukul tujuh malam.
"Kami pamit." Rafa menatap semuanya.
__ADS_1
Alex menganggukinya.
*
Dalam kamar ini tinggal Alex dan Nayla.
Racun pagi tadi sama sekali tak terlalu berbahaya hanya saja efeknya cukup mengagetkan Alex karena bercampur dengan kopi.
"Bangunlah..." Suara lemah meminta Nayla bangun.
Alex tak tahu kenapa ia harus melakukan ini semua. Bahkan ia bis amembiarkan Nayla.
Tapi, hati dan otaknya tak memperbolehkan Alex diam saja.
Alex bangkit dan tak lama Bibi datang bersama dengan Della lagi untuk melihat infus.
Alex keluar kamarnya masih dengan pakaian yang sama.
"Alex." Panggil Nenek saat Alex akan masuk kedalam ruang kerjanya.
"Nek, Alex ingin sendiri."
Saat akan melangkah Nenek memanggilnya lagi.
Alex berbalik.
"Kau lepaskan saja dia, lihat betapa berantakannya hidupmu sekarang semuanya bahkan terang-terangan mengincar nyawamu bahkan pelayan di rumah ini tidak ada yang melakukannya. Jika bukan mereka pasti orang paling dekat denganmu."
"Nek... Alex Mohon sudah membahas hal ini hari ini, Aku lelah."
"Kau seharusnya membiarkan nenek memberikan kebebasan dengan...cerai!"
Alex mengepalkan kedua tangannya sampai terlihat memerah telapaknya.
"Nek." Mohon Alex.
"Nenek tetep tak suka dia bersama mu jika bisa jauhkan dia dari hidupmu secepatnya jika tidak Nenek yang akan menjauhkannya."
"Nek... Alex sudah dewasa Alex sudah menikah dan sekarang menjadi suami, nenek bikah untuk berhenti di batasan nenek saja jangan masuk kedalam hubungan kami, Aku akan mengurus semuanya."
"Cih.. mengurus semuanya, apa maksudmu sampai kau benar-benar terikat hati dan pikiran dengannya lalu menghasilkan keturunan."
Alex terdiam. Nenek pergi begitu saja dengan amarah.
Semua barang di ruang kerja berantakan bahkan tak perduli itu kertas buku atau dokumen.
Alex benar-benar kalut dan belum melampiaskan amarahnya sama sekali, jika sudah keluar sedikit amarahnya mungkin tak seburuk ini pelampiasannya.
Alex membuka balkon melangkah keluar seketika diduk di kursi santai dan menyalakan rokoknya dengan korek yang sulit sekali memantik apinya.
Sampai sebuah korek menyala dengan apinya sudah siap.
"Kapan kau datang." Ucap Alex setelah selesai menyalakan rokoknya.
__ADS_1
Melihat kedatangan Beno tanpa ia sadari, berarti dirinya benar-benar kalut dan lemah sekarang.