
Nayla kembali bekerja dan berusaha kuat dan mengatakan pada dirinya jika semua baik-baik saja dan tak perlu khawatir.
Nayla melibat eskrim di mejanya dan memakannya satu dua suap hingga suapan ketiga ia menangis.
"Ini sedih Ibu... kenapa ia waktu itu gak ajak Nayla pergi aja kenapa harus Nayla disini sendirian, kenapa Nayla harus pisah dari ayah, kenapa ibu? Kenapa ibu gak bilang kalo hidup Nayla kayak gini waktu ibu masih ada Nayla bisa ngerubah alurnya Nayla gak akan jadi anak pemales dulu."
Sambil bicara pelan sendiri sambil menarik ingus dan menangis sesegukan sendiri.
Eskrim di suapan kelima membuat Nayla memilih menangis saja dan meletakkan sendoknya di samping wadahnya.
Alex sebenarnya tak benar-benar pergi dari sana.
Alex terdiam dengan tangannya terkepal sampai memerah.
Seketika tak bisa menahannya lagi Alex pergi mendinginkan kepalanya.
Keluar ruangan.
Alex bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia mengatakan hal itu tidak sengaja ia kesal tapi, rasa bersalahnya benar-benar mengganggu pikirannya. Nayla sama sekali tak bisa ia pahami sejak saat itu.
Bahkan Alex semakin penasaran bukan malah membiarkannya.
*
Waktu terus berjalan Nayla sadar dirinya aneh belakangan ini ada apa dengannya dan sudah ia hitung ia sama sekali belum datang bulan.
Nayla panik dan seketika akan pergi keluar ruangan Alex. Saat akan melangkah pergi Darma datang.
Dengan sombongnya ia menatap sekitar.
"Nayla?" Sapanya ramah.
Nayla curiga.
"Aku harus pergi, apa yang anda perlukan nona Darma." Nayla berusaha formal di tempat kerja pada Darma.
Darma terkekeh.
"Aku tidak ada yang mau ku lakukan, dimana Alex aah... bukan Suamimu?" Nayla paham maksudnya Darma memang bermaksud menyindirnya.
"Dia sedang keluar kota dan tadi berangkat mendadak pukul sepuluh pagi tadi."
"Kau nyaman bekerja dengannya?" Melangkah mngitari ruangan dan berbalik melempar senyuman.
"Aku terpaksa." Nayla mengatakan apa yang memang ingin ia katakan.
Darma tersenyum remeh.
"Tapi, kau nyaman dan hidupmu sudah pasti terjamin." Nayla diam dan ingin cepat Darma pergi.
Seketika itu Darma berbalik dan mendekati pintu lalu menguncinya.
"Tinggal berdua kita disini aku ingin bilang cepatlah menyingkir, karena aku ingin Alex ku kembali padaku, kau bahkan sulit sekali untuk menyingkir!"
Nayla terdiam melangkah mundur Darma semakin mendekat dan seketika mendorong bahu Nayla.
"Aku ingin pergi darinya waktu kontrak tak lama sebentar lagi."
Nayla tetap di dorong Darma seketika Darma mendorong Nayla sekuat tenaga. Jatuh Nayla membentur sudut meja dan bagian perut bawahnya begitu sakit.
Nayla tak tahan sampai terduduk. Darma terkekeh.
"Sakit yaa, seperti itu saja lemah." Darma berdiri dan mengambil air dalam vas kaca dan menguyur Naila lalu pergi setelah meletakkan kembali vas di tempatnya.
Darma keluar dan membiarkan Nayla kesakitan.
Darma keluar dengan santai. Suasana hatinya sangat senang sekarang.
"Kenapa sakit sekali? Tolong.... Tolong!" Berusaha menjerit sekencang nya tapi, suaranya tertahan dengan rasa sakit teramat sangat.
"Tolong..hiks..." Nayla berusaha bangkit sendiri.
Susah sekali berdiri dan ia sama sekali tak tahan rasa sakitnya padahal sudah bertenaga untuk menahan rasa sakitnya.
Ketika Valenzia hendak memasuki ruangan Gazi ia melihat ada seorang wanita masuk dan wajah itu sangat Zia kenal dia Darma putri pemilik perusahaan terkenal yang masih belum apa-apa jika di bandingkan Garendra.
"Mau apa dia?" Zia curiga tapi, saat Zulfikar datang untuk memanggilnya segera ia keluar lagi dan melupakan satu berkas yang masih ada di mesin fotokopi.
"Ini pak sudah..." Kata Zia sambil memberikan semuanya. Zul mengangguk dan memeriksanya.
Sampai satu lembar hilang.
"Zia mana bagian rekap lahan kosong kemarin kenapa hilang?" Zia melihat langsung berkas di tangan Zul.
Zul memeberikannya membuiarkan Zia memeriksanya sendiri.
"Maaf, pak ketinggal satu di mesin fotokopi."
"Heheh.. kamu ini, ambil sana!" Zia malu segera bergegas pergi mengambil kertas itu. Saat masuk benar saja mesin masih menyala mencetak tiga lembar lagi.
__ADS_1
Ketika selesai Zia langsung melubangi dan hendak pergi tapi, Darma melewatinya dengan santai dan terlihat ada bekas cipratan air di jasnya.
"Air..?" Zia hanya bergumam dan berjalan pergi keruangan Zul.
Sampai disana. Zul baru selesai menelpon.
"Ah.. Zia kebetulan... tolong ambil berkes map Hijau di atas meja pak Alex kalo kamu tidak tahu tanya Nyonya Nayla." Zia langsung bergerak pergi mengambil berkasnya.
Ketika sampai didepan ruangan Zia samar mendengar suara minta tolong segera Zia membuka pintu dan tenyata Nayla bersimpuh di Lantai memegangi perutnya.
"Nyonya! Astagfirullah!" Segera Nayla di bantu Zia tapi, Nayla menggeleng.
"Sakit Zi... Gak kuat bangun dari tadi juga." Zia merasa ini situasi buruk dan keringat Nayla sangay banyak.
Zia langsung menelpon Zul.
*
Sampai di rumah sakit Zul langsu g memeinta perawat memebawa bangkar.
Dengan bantuan Zia san dua perawat wanita perlahan Nayla di bantu naik.
Apapun kondisinya Zulfikar dilarang menyentuh istri bosnya, itu sudah peraturan tetap dan permanen. Jika melanggar, Zulfikar akan di habisi Beno dan Alex yang bahkan sadisnya tak pandang bulu.
Alex yang merasa perasaannya tak enak menghubungi Zulfikar tapi, ponsel Beno berbunyi lebih dulu.
"Iya, Kau!" Alex merebut ponsel Beno.
Seketika itu Beno terdiam kaku.
"Katakan Zul!"
Di depan ruang rawat.
Zul kaget bukan main, Zia juga bisa lihat wajahnya pucat.
"Kenapa pak, sudah bilang Tuan Alex nya?"
Zulfikar rasanya ingin pingsan.
"Bos... Nyonya di rumah sakit, pendarahan." Satu kalimat dari sambungan telpon mampu membuat raut wajah Alex berubah gelap.
"Kita pulang!" Beno langsung kaget dan bersamaan itu Alex mengembalikan ponsel Beno dengan di lempar.
"Bos..." Kesalnya hampir saja ponselnya rusak, ini kan mahal.
"Terabas.. Aku yang bertanggung jawab." Beno bisa bertemu maut jika begini. Tapi, ia tak sendirian.
Mau bagaimana lagi jika sudah cinta, pasti Tuannya ini sangat khawatir.
Di ruangan rawat Nayla masih memejamkan matanya.
Didepan Zia dan Zul menunggu.
Zia mau mengatakan sesuatu tapi, sepertinya tidak sekarang tapi, jika tidak.
Sudahlah katakan saja.
"Pak, Tadi saat saya sedang mencetak di mesin fotokopi saya lihat ada nona Darma datang beliau masuk kedalam ruangan Tuan, lalu setelah saya kembali dari mengambil kertas yang tertinggal Beliau keluar lagi. Di ketiga kali saya kembali kalo Bapak bilang mengambil berkas di ruangan Tuan. Saat itu saya melihat Nyonya di lantai, kesakitan... Saya juga melihat ada air di jas kemeja Nona Darma lalu vas kaca didekat sofa airnya tidak ada."
Zul terdiam.
"Kau yakin." Zia mengangguk yakin.
"Iya pak, saya yakin karena saya di minta tolong nyonya mengganti airnya pagi tadi dan bunganya juga lalu baju nyonya basah itu karena di siram kalo tidak tidak mungkin ada air sebanyak itu kalo hanya dari teko air atau gelas. Isi air dalam vas itu banyak pak," jelanya lagi sangat yakin.
Zul tak habis pikir ia langsung punya firasat buruk tentang Darma.
*
Alex dan Beno tiba di rumah sakit dan Zul sudah menunggu di depan.
"Tuan." Sapanya. Lalu Alex pergi setelah Zul mengatakan dimana Nayla.
Kini Zul dan Beno.
"Apa lagi Ben?" Tanya Zul hampir frustasi karena Beno langsung mengujani omelan.
"Siapa... katakan, kau terlalu lama diam tahu!"
Zul menatap kesal.
"Siapa lagi calon istri tak jadinya Bos." Beno langsung mengusap rahangnya kasar.
"Ini kedua kalinya kesalahan yang wanita itu lakukan hampir fatal nilainya."
"Kita tak ada urusan Ben." Sela Zul cepat sebelum Beno kembali mengocehinya untuk mengajaknya pergi melihat kondisi Nayla.
Keduanya sampai di depan ruangan rawat dan Zia di sana berdiri mematung.
__ADS_1
Zul sudah tahu jika ini pasti ada pertengkaran.
"Zia.. kau kembali saja, Kita sudah tak ada urusan." Kata Zul sembari mengajaknya.
Beno paham dengan gerakan alis Zul.
"Iya.. Zia, ini sudah selesai, Tuan datang dan kau bisa kembali kekantor." Tambah Beno.
Zia sedikit ragu tapi, ia hanya pekerja.
"Saya pamit dan sampaikan untuk Tuan dan Nyonya pak." Beno mengangguk mengerti.
Zia san Zul pergi.
Di dalam ruangan. Alex yang tadinya baru sampai dan melihat Zia langsung menodongnya banyak pertanyaan. Zia menjawab apa adanya dan jujur siapa dan apa yang dia lihat.
Alex langsung naik pitam saat itu juga.
Zia langsung menciut ketika Alex menatapnya dengan tatapan ingin mencabik orang hidup-hidup.
"Sudah sadar ?"
"Iya, Pak barusan dan saya di minta nyonya keluar, beliau ingin sendiri." Zia langsung diam ketika Alex pergi begitu saja dan angin saat alex melewatinya membuat bulu kuduknya merinding.
Saat itu juga Zul dan Beno datang.
Alex menatap Nayla marah dan hanya membuang wajahnya.
"Kau kembali lagi!"
"Ini bukan salahku, Darma yang melakukannya, Lagi pula aku sama sekali tak membuatnya kesal atau tak nyaman denganku, Dia terus yang mencari masalah dan dia hampir membunuhku untuk kedua kalinya tapi," ucap Nayla terhenti tangannya yang di infus meremas sesuatu.
Alex menyadari itu dna merebutnya dengan cepat.
"Dia hampir membunuh anakku!"
Alex membeku di tempatnya ia tak bisa mengatakan apapun.
Ia ingin senang atau kesal atau marah sekarang.
Ia akan jadi seorang ayah ! Seorang ayah!
"Kau hamil?" Nayla diam dan malah berbalik arah dari memalingkan sekarang menatap wajah Alex.
Nayla menyentuh perutnya.
"Iya." Singkat dan itu mampu membuat Alex senang bukan main.
"Kau akan menjadi ibu dan aku ayah." Alex lupa jika ia akan melepaskan Nayla.
Seketika itu Nayla menangis. Ia kembali bingung harus bagaimana kedepannya.
"Kau akan melepaskanku tiga minggu lagi."
Seketika Alex tersambar listrik bertegangan tinggi yang membuatnya sadar sepenuhnya.
*
Nenek tersenyum miring.
"Wanita murahan. Kau punya rencana licikkan kau sengaja kan... supaya saat pisah kau bisa menghabiskan uang Alex dengan memberikan alasan anaknya butuh ini dan itu."
Nayla diam saja.
"Itu mungkin saja bukan anak dari cucuku melainkan anak dari lelaki lain kau juga bisa saja membuat alasan itu anak Alex tapi, saat Alex tak didekatmu kau pasti melakukannya bersama Dipto kan?"
Nayla menghentikan gerakannya memotong wortel. Nayla diminta Alex untuk tetap menjadi asistennya dan bisa istirahat atau pulang sesuka hatinya tapi, tidak untuk ketika ia ingin istirahat di rumah.
Dua hari setelah dari rumah sakit kini Nayla bisa beraktivitas normal lagi setelah melihat kondisi ibu anak sangat baik.
Nayla hampir hilang kendali dan memilih untuk pergi kedokter kandungan saja.
"Bibi gantikan aku, Ini biasa saja, terserh bibi mau diapakan lagi bahan selanjutnya aku sudah harus pergi sekarang cek kandungan."
Bibi mengangguk dengan tersenyum bangga.
Nayla lalu pergi melewati Nenek begitu saja.
"Lihat betapa tak sopannya pada orang tua. Orang tua bicara itu didengarkan bukannya pergi begitu saja tanpa pamit."
Nayla menghela nafasnya, menghentikan langkahnya dan menatap nenek lembut berusaha sabar.
"Maaf Nek tapi, aku harus mengecek kandungan, Aku akan berpisah dengan Alex, Nenek juga harus senang dengan hal itu. Aku juga tidak akan ada di rumah ini untuk selamanya, Terimakasih nasehatnya nek." Nayla bicara dengan sangat sopan dan lembut.
Nenek membuang wajahnya. Nayla lalu pergi meninggalkan nya.
"Baguslah... bawa juga anak pembawa masalah itu dari rumah ini, aku hanya mau menerima cicit dari wanita berderajat tinggi, tidak sepertimu dan anakmu!"
Nayla diam.
__ADS_1