Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Menjauh


__ADS_3

Mereka berdua musuh di dalam kampus dan dalam hal apapun Ian tak akan menganggap Zoya itu wanita lemah.


"Kau yang pergi!"


"Hey...aku mengantri dari subuh apa yang kau lakukan, pergi sana!" Usir Ian dan teman-teman pada Zoya yang sendirian.


"Dasar anak haram." Celetukan salah satu teman Ian membuat Zoya marah


Berbalik dan tamparan keras di terima Xender.


"Kau!" Katanya dengan wajah kaget dan marah.


Ian menahannya.


"Kau mengatainya Xen."


"Yaa tapi, itu kenyataan dia itu anak di luar nikah, aku tahu sejak Sma makannya dia tak punya teman bahkan hidupnya miskin."


Zoya semakin kesal. Ketika aka. maju lagi Ia menahannya menatap matanya langsung.


"Ini untukmu dan kau bisa pergi, maafkan mulut Xander yang kurang ajar." Kata Bagas yang diam-diam menyukai Zoya.


Zoya pergi sambil mengatakan terimakasih mau tak mau ia menerimanya ia kan lapar dan haus dan Bagas memberinya percuma, gratis.


Ian tahu dirinya dan Zoya sama-sama saudara dari pernikahan kakaknya tapi, Zoya tidak tahu Ian siapa.


*


Sudah dua hari lagi berlalu Nayla hanya bisa menahan dan menahan perasaan tak nyamannya. Malam ia menangis pagi saat Alex pergi ia menangis.


Tangisannya hanya ia yang tahu. Semakin hari ucapan nenek semakin menyakitinya.


"Kau selalu saja berbuat salah tak bisakah kau terlihat benar." Nenek kembali mengomeli Nayla tentang masalah menyulam.


Nenek sedang ingin mencari bahan untuk bisa mengomeli Nayla. Nenek tak mau jika Nayla benar-benar hamil lagi pula jika benar itu anak Alex Nenek tak suka jika keturunan cucunya di dalam rahim Nayla.


"Maaf Nek. Aku mau ke kamar sebentar." Nenek tak menanggapinya dan membiarkannya pergi.


Nayla yang paham arti sikap itu langsung melangkah pergi tanpa berniat kembali.


Nenek juga terserah, jika Nayla tak datang lagi dan melanjutkan sulamannya.


Nayla masuk ke ruang ganti dan mengambil beberapa barangnya lalu menyimpannya dalam tas. Nayla juga mengambil beberapa lembar uang.


Terserha di tuduh mencuri atau tidak ia sudah tidak kuat.


Saat malam datang dan sedang nyenyak tidur sendirian di kamar dan Alex tidak pulang sejak pukul delapan tadi setelah makan malam.


"Maaf. Aku harus pergi tanpa bilang, aku juga mengembalikan uang yang ambil aku minta lima lembar saja nanti kalo aku ada uang lagi aku kembalikan uangmu, ini kalung ponsel dan cincin, aku kembalikan semuanya."

__ADS_1


Nayla menatap surat yang ia tulis dan di letakkan diatas etalase dasi dan jam.


Nayla keluar rumah dengan hoddie rok selutut dan tas yang membawa kebutuhannya.


Nayla yang keluar rumah di bantu bibi.


"Nyonya kenapa harus pergi, kenapa tidak tunggu Tuan saja." Seketika itu Nenek melihat keduanya.


"Sudah mau kabur?" Tanya Nenek santai.


Seketik itu Nayla dan bibi ketakutan.


"Bagus lah, itu berarti memperlihatkan kalo kamu memang buruk untuk cucuku dan sikapmu juga. Bibi! Panggil Sopir dan minta sopir antar kemana Nayla pergi."


Bibi terdiam sebentar tapi, langsung segera melakukan perintah nenek.


Nayla sendirian di tatap tajam Nenek.


"Aku senang kau keluar rumah ini tanpa sepengetahuan cucuku. Setidaknya musibah yang datang sendiri harus pergi sendiri." Nayla terdiam tunduk.


"Aku akan pergi dan jangan...."


"Tidak akan pernah sudi aku mengataka. pada Cucuku kalo aku melihatmu pergi seperti seorang pencuri. Aku akan diam dan tak akan memberitahukan kau dimana."


Nayla sungguh pergi malam itu dari rumah itu dan saar sudah keluar gerbang Mobil yang Sopir nenek kendarai saat bersamaan beberapa menit setelah nya mobil Alex memasuki halaman.


"Nenek? Apa yang nenek lakukan kenapa ada di luar ruamh?" Alex seketika punya firasat tak baik.


Selama ini ia sibuk dan lupa jika Nayla sedang hamil dan sangat sensitif, nenek pasti melukai perasaannya lagi, menyalahkan Nayla dalam hal kecil sekalipun.


Alex kenapa harus selalu seperti ini!


Berlarian masuk kedalam kamar dan melihat kamar kosong. Alex terkejut dan kembali pening.


Memijat kepalanya dan mulai mencari ke sekitar kamar sampai masuk ke ruang ganti dan akan keluar ia melihat sesuatu di atas meja etalae dasi dan jam tangan.


"Surat." Di lihat dan di bacanya. Alex mengepalkan surat itu dan membuangnya melihat uang kalung cincin dan ponsel.


Tiba-tiba ia teringat dengan mobil nenek.


Alex mengumpatinya.


"Kenapa tak menungguku pulang!" Berlarian keluar dengan langkah lebarnya. Bertemu dengan nenek di luar lagi.


"Mau kemana kau?"


"Aku tak bisa biarkan anak dan istriku diluar sana."


"Kau juga akan biarkan nenekmu sekarang?"

__ADS_1


"Nek.. ini beda masalahnya, Nayla masih istriku dan kami belum berpisah. Nenek bisa saja di rumah dan banyak yang bantu, Nayla pegi itu juga Nenek yang buat!" Nadanya merendah dan gak menghiraukan tatapan Neneknya.


Alex bergegas pergi dengan mobilnya.


Nayla yang diantar sopir sampai di daerah kumuh dan sempit jauh dari desa tempatnya tinggal dan tiga kali lebih jauh perjalanan jika datang atau pergi dari tempat baru yang akan Nayla jadikan tempat tinggal.


Langkah Nayla perlahan meninggalkan jejak dan mobil Nenek terus berjalan. Sopir melakukan semuanya sesuai perintah nenek untuk tetap berjalan-jalan sampai pagi baru kembali pulang.


Alex mencari kesana kemari bahkan di bawah lampu jalanan mini market dekat jalan raya yang masih buka.


Lalu tempat sepi dan rawan sampai pelosok gang ia cari dengan jalan kaki setelah memarkirkan mobil di tempat yang benar.


Tiba-tiba matanya melihat seorang berjalan santai bagian belakangnya mirip sekali dengan Nayla.


Alex menghampiri dan ketika itu perempuan itu berbalik dan ternyata bukan Nayla.


Mengusap kasar wajahnya.


Tiba-tiba Alex menerima telpon dari Beno dan Zul jika mobil Nenek melintasi tiga Kota dan enam desa. lewat jalan pintas dan itu juga sangat jauh karena aksesnya sudah di tutup.


Alex menggeram emosi.


"Nayla!" Panggilnya lemah.


Alex harus bisa menemukan Nayla dan mencarinya lalu membawanya paksa. Alex benar-benar tak bisa kehilangan pewarisnya.


Termasuk istrinya.


Nenek yang kesal menatap gelas teh didepannya.


"Minta semuanya untuk tetap biasa dan jangan ada yang tahu kalo aku yang menyembunyikannya." Kata Nenek pada Haila yang ada di sampingnya. Haila mengangguk mengerti dan segera mengirim pesan pada orang-orang suruhan nenek.


Di gang kumuh itu Nayla melihat tulisan jika ada kamar kosong.


"Alex aku minta maaf." Nayla menguatkan hatinya sambil mendekati pagar dan menekan bel.


"Permisi." Saat pagar di buka ternyata seorang wanita paruh baya yang tersenyum manis.


Nayla membalas senyumannya dan mulai bertanya dengan sopan tentang kontrakan yang masih ada.


Lalu wanita itu menjelaskan sambil membawa Nayla masuk.


Sambil di jelaskan. Pikiran Nayla melayang ke setiap sikap dan ucapan buruk yang nenek berikan dirumah saat Alex tak ada termasuk mendatangkan Darma dan membanggakan Darma didepan teman-teman nenek juga yang waktu itu ada acara dirumah.


Nayla tak marah hanya saja ia kecewa dan sedih dan sakit hati sedikit karena ia kecewa.


"Gimana Bu? Mau yang mana?"


"Oh.. yaa Saya ambil aja." Kata Nayla. wanita itu tersenyum sambil memberikan kuncinya dan Nayla membayar tiga bulan awal dulu.

__ADS_1


__ADS_2