
Marcella menoleh ketika namanya di panggil begitu juga Nayla dan Alex yang menoleh keasal suara ternyata seorang wanita yang seumuran dengan Marcella.
Nayla dan Alex memperhatikannya. Lalu tak lama datang lagi lainnya. Mereka semua menyapa bicara seperti seorang yang lama tak bertemu.
"Tante kita duluan ya," ucap Nayla yang terlihat senang Marcella tak jadi bersamanya untuk mencari makanan didepan kantor dengannya.
Padahal dalam hati Nayla senang ada keluarga Alex mendekatinya tapi, firasat Nayla lebih senang Marcella dihampiri beberapa orang dan Nayla bisa pergi dengan Alex tanpa membuat alasan penolakan untuk Marcella ikut dengannya.
Entah kenapa Nayla tak kecewa kalo Marcella tak jadi bersamanya dan malah bersama teman-teman nya.
Marcella tersenyum singkat menatap Nayla yang pamit. Dalam hatinya Marcella benci situasi baik berpihak pada mangsanya.
Sebenarnya sudah banyak yang Marcella rangkai dalam kepalanya untuk membuat masalah dan membuat Nayla atau janinnya terluka.
Jika Nayla kenapa-kenapa itu bisa membuat Alex kacau. Lalu setelah itu Alex akan sedikit lemah dan cara itulah untuk Marcella menembus keamanan Garendra dengan anggota Darto.
"Ah iyaa.. hati-hati." Nayla mengangguk menjauh dari Marcella bersama.
Alex melihat kearah Marcella yang seperti kecewa juga ada raut penyesalan seperti tak bisa besama Nayla sekarang. Alex dengan santainya menatap mata tantenya tajam dan di balas tatapan lembut saat menatap Nayla kecewa.
Nayla melihat tukang rujak yang kebetulan masuk halaman kantor dan ramai di datangi karyawan.
"Ituu itu tuh disana!" Tunjuknya seketika menarik Alex sambil berjalan cepat, Alex tertarik begitu saja sepertinya tenanga Nayla dua kali lebih kuat dari alex sekarang padahal badannya tak terlalu besar tapi, Alex bisa kaget saat Nayla menariknya kearah tukang rujak buah tiba-tiba.
Saat mengantri tiba-tiba Alex merasakan ada yang menganggu matanya.
Alex meminta Nayla untuk tetap mengantri.
Saat dua langkah menjauh Alex teringat sesuatu.
Alex pergi berbalik masuk kekantor lupa dengan Nayla yang mengantri.
Marcella melihat Nayla sendirian dan sempat melihat Alex berjalan masuk kantor sendirian.
"Ini kesempatan emas tak boleh sia-sia."
Marcella mendekat dan tepat saat Marcella mendekat rujak Nayla sudah jadi dan Nayla mencari keberadaan Alex. Tak melihat tanda-tanda suaminya dimana tiba-tiba Marcella menayapanya.
"Nay!" Nayla menoleh dan tersenyum dengan mata yang silau sambil di tutupi telapak tangannya Nayla tersenyum dan berjalan menghampiri Marcella.
__ADS_1
Marcella tersenyum lebar.
"Beli apa kamu?"
Tanyanya dengan ramah dan nayla memperlihatkan tiga bungkus rujak dan satu bungkusnya buah saja dan sambelnya tidak pedas sama sekali.
Marcella tersenyum.
"Temenin tante bentar yuk..." Ajaknya.
Nayla meringis sedikit melirik kesana kemari.
"Hehe Iya boleh mau beli apa tante?" Tanya Nayla balik sambil tersenyum.
"Oh itu kopi enak didepan jalan nyebrang tapi, kamu bisa beli eskrimnya atau camilannya kalo mau?" tawarnya.
Nayla mengangguki saja lagi pula ia juga mau jalan-jalan juga.
Nayla langsung mengikuti marcella yang memberikan tangannya untuk di tuntun. Nayla mendengar banyak sekali cerita Marcella mulai dari melangkah ke halaman melewati tukang rujak sampai saat menyebrang jalanan dan memesan kopi dan menunggunya.
Saat duduk sekarang didalam cafenya yang ber ac.
"Maafin tante ya kalo Tante pernah gak jaga sikap dan keliatan gak suka sama kamu dan saat tante tahu kalo sebenarnya kamu juga baik kek yang Alex bilang. Maaf ya."
Nayla memegang tangan Marcella yang ada di tangan kirinya dengan tangan kanannya.
"Iya tante gak papa.. Lagian itu masa lalu kalo sekarang itu masa depan dan masa yang gak akan pernah di ikutin masa lalu kecuali masalalu itu bagian masa depan dan ada hal yang belum selesai."
Kedua nya tertawa senang. Nayla kembali memakan eskrim dam bolunya sedangkan Marcella menatap wajah Nayla yang fokus makan dengan rasa iba.
Kenapa perempuan sepolos ini bisa membuat orang sekejam Alex patuh dan terlalu bucin, setahu Marcella Alex itu kaku dan sulit membuka hatinya bahkan tak pernah terdengar kalo Alex punya pacar.
Pacar? Tunggu Marcella pernah lihat Vansiska. Dimana Vansiska sekarang ya.. bisa kali kan Marcella menggunakan Vansiska merusak rumah tangga Alex.
Seketika itu Marcella mengutak atik ponselnya dan tersenyum pada Nayla saat Di panggilnya.
"Tante, Kita balik lagi aja yuk, tuh aku di liatin dari sebrang jalan." Nayla menunjuk kearah sebrang jalan. Marcella menoleh mengikuti arah gerak hari tangan kanan Nayla.
Marcella mendesah kesal.
__ADS_1
"Dasar posesif, Yaudah yuk kita balik." Nayla segera berdiri dan menenteng rujaknya juga camilannya yang belum di makan.
Saat suah mendekat menyebrang bersama Marcella menatap Alex sedikit sinis.
"Kubilang tunggu sebentar kenapa malah kemana-mana !" Nayla memutar malas bola matanya.
"Apanya kenapa aku juga yang salah, kamulah salah, kenapa kamu lama, aku kan dah selesai pesen, tante ngajakin aku jajan juga lumayan tahu, ya udah yuk masuk. Malesin banget kamu ih."
Omel Nayla membuat Alex bingung iakan yang marah dan mengomeli Nayla kenapa malah dirinya uang marahi karena lama datangnya.
Alex mengikuti langkah lebar ibu hamil dengan pakaian terusan pajang dan terlihat juga langkah Alex hampir kalah cepat.
"Nayla pelan-pelan." Teriak Alex kesal saat udah dekat dengan lif.
"Kenapa lagi sih lagian kamu aja yang lama kenapa juga lelet huh dasar."
Tunggu dulu kenapa jadi terbalik posisinya disini.
Alex memilih diam saja lah lagian Nayla sedang uring-uringan gini bisa bahaya jika sampai mengganggu janinnya.
Saat didalam lif Alex sempat memperhatikan Nayla dari atas sampai bawah lalu melihat lagi apa yang di makannya.
Ketika aman semua Alex merasa ada sesuatu yang Marcella rencanakan karena ini sangat tenang.
Marcella yang sekarang ada di ruangan humas menghampir teman-teman nya yang pernah bekerja bersamanya dan juga bicang ringan sambil terus mengawasi ponselnya.
Saat yang sama seorang Ob selesai mengepel lantai didepan lift dimana Nayla akan keluar.
Lift terbuka seketika itu Nayla melangkah keluar tanpa melihat keadaan dan sekitar lantai yang cukup basah.
Melihat kilatan di lantai. Alex menahan Nayla dan menatap matanya.
"Jangan sembarangan liat lantainya basah." Nayla mendengus sebal tapi, tetap hati-hati berjalan keluar dari lif.
Tanda lantai basah ada di dekat pot bunga di samping lif. Alex curiga karena biasanya lantainya akan di pel ketika ia belum masuk kantor dan saat jam pulangkantor tiba atau mereka akan mengepel saat Alex tak ada di kantor.
"Bawel banget." Nayla pergi begitu saja meninggalkan Alex yang masih fokus dengan kecerobohan ini.
Langkah lebarnya berlawanan arah pergi ke ruangan Fatir.
__ADS_1
"Minta Penanggung jawab kebersihan menyediakan foto semua karyawan dan kau priksa cctv depan lif didepan ruanganku."