Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Keputusan Abdullah


__ADS_3

Abdullah menatap perubahan Nayla yang begitu cantik dan Beno yang diam berdiri ketika melihat sosok tegas dan berwibawa di belakang Nayla.


Alex melihat Abdullah datang kemari dan bersama Beno.


Kenapa bisa datang bersamaan?


Alex menatap datar tapi, Beno mengartikan tatapan itu, kenapa membawa dia?


Nayla merasa senang tapi saat ingin melangkah ia kembali menarik langkahnya kedalam lagi. Ia baru ingat kalo ini tempat bahaya. Abdulah bisa terluka jika Alex melihatnya ada disini.


Tapi, Nayla meridukan Abdullah sekarang. Nayla tak memikirkan apa yang terjadi nanti ia rasa yang penting ia bisa bersalaman dan bicara banyak dengan abdullah.


Seketika itu Nayla mendekat dengan senyum lebar mengembang tapi, Beno menelan ludahnya kasar rasanya tenggorokannya langsung kering.


"Nayla!" Suara tegas dengan nada berat itu terdengar begitu jelas.


Menoleh dan melihat Alex disana menatapnya dengan tatapan tajam.


Naylq sedikit takut tapi, ia merindukan abdullah.


"Kenapa? aku hanya merindukan dan bicara dengannya."


"Kau mau pergi atau kita tak jadi pergi." Alex membuat Nayla kesal kenapa harus seperti ini.


"Dasar Tuan drama." Nayla menatap Alex lalu menatap Abdullah.


"Lima belas menit saja."


"Baik. Dari sekarang!" Nayla lebih bad mood lagi.


Alex menatap wajah Abdullah datar ia tak suka kehadiran Abdullah disini seakan akan ada ingatan kelam berputar secara langsung di depannya.


Nayla berdiri diantara Alex dan Abdullah keduanya sama-sama memperlihatkan tatapan dan raut wajah tersembunyi yang Nayla tahu itu tatapan dan eskperesi tak suka kehadiran salah satu dari mereka.


"Aku senang Kau datang dan melihatku," ucap Nayla.


"Aku juga. Senang melihatmu, bahagia?" Cara Abdullah bicara membuat nayla bingung dan hampir mau membalas ucapannya apa lagi.


"Aku tidak terlalu tak nyaman walaupun baru pertama datang mereka semua sangat baik." Nayla harus bisa menghindari jebakan dari ucapan Abdullah yang mana, Abdullah juga ingin tahu senyaman atau tidak nyaman seperti apa Nayla dengan alex.


"Kau tak perlu bertanya banyak tentang ia nyaman atau tidak, aku suaminya dan dia istriku."


Abdulah tersenyum sinis.


"Aku tak percaya, Apapun itu Nayla akan tetap perhatian utama ku, aku bertanya padanya, bicara padanya kau! tidak di ajak bincang."


Alex membuang wajahnya kesampi g malas memperpanjang tapi, ia sudah sangat emosi sekali sekarang.

__ADS_1


"Hehe... bagaimana kalo kita lanjut besok atau kapan saja... aku akan bertemu denganmu..."


"Baik, Nay.. Di cafe deket..."


"Di kantor ku saja." Alex menyela membuat ucapan Abdullah terpotong dan tidak selesai.


"Kenapa kau ikut campur." Kesal abdullah.


"Aku suaminya." Tekan Alex siapa ia di sini.


"Cukup!" Nayla berteriak tegas di antara keduanya seketika mereka berhenti mengeluarkan tatapan dan aura permusuhan dan saling menatap ke arah Nayla.


"Aku akan bicara lagi denganmu tapi, di kantor Alex... maaf tapi, Alex suamiku sekarang?" Abdullah menghela nafasnya.


"Kau cerai dengannya bukan?" Tanya balik Abdullah seketika membuat Nayla dan alex menatapnya tajam.


*


Abdullah berdiri tegak didepan Nayla dan alex.


"Aku paham..." Abdullah sedih karena pernikahan Nayla begitu sulit di mengerti tapi, tak apa jika Alex mau mempertahan kan Nayla dan juga anak di dalam rahimnya.


"Baiklah aku mengerti apa yang kau katakan aku akan pergi lagi dan aku akan merahasiakan semuanya."


Nayla mengangguk dengan raut wajah canggung sekaligus malunya.


"Kau tak pernah salah bertindak, terimakasih karena ada di pihakku." Nayla menatap datar pintu keluar dimana Abdullah sudah pergi jauh di antar anak buah Beno.


Alex terdiam di tempatnya.


"Aku tahu aku egois, Aku berpikir saat aku menjelaskan semuanya pada Abdullah... Aku tak bisa panjang untuk waktu berpikir mengambil keputusan. Maaf!"


Alex terdiam menatap raut wajahnya. Nayla perlahan mengangkat wajahnya.


"Terimakasih." lembut dan mampu menghangatkan hati Alex yang tidak tahu dari kapan sudah berdegup dan berdetak tak karuan.


"Hem.. lebih baik, kita-kita berangkat sekarang." Alex tak bisa menahan ekspresi ini.


alex melangkah keluar lebih dulu meninggalkan Beno dan Nayla.


"Kenap Tuanmu?"


"Dia salting Nyonya, Dia sebelumnya tak pernah mendapatkan ucapan terimakasih dari siapapun dengan tulus, dan anda melakukannya dengan tulus."


Nayla terdiam pipinya seketika bersemu merah.


"Hah.. Haha.. Ada ada saja.. ayo kita berangkat."

__ADS_1


Beno mengangguk.


Di dalam mobil dalam perjalanannya Alex menatap keluar jendela dan Nayla menatap keluar jendela juga.


"Apa yang kita lakukan, kenapa kita pergi ke bandara, aku melihat banyak mall dan pasar pinggir jalan."


"Kita tak akan melakukan apa yang kau mau disini tapi, kita akan pergi ke negara lain di mana akses Nenek memperhatikan aku dan orang di sekitarku terbatas."


"Heum.. baiklah." Nayla menatap kosng ke depan dan rasanya ia begitu lelah.


Alex mengetik sesuatu di ponselnya dan di tempat Zia berada sekarang semua bersiap termasuk dokter Della yang ikut bersama Alex nanti.


"Alex Sialan! Kenapa ia membuat repot semua orang dengan ulahnya."


"Sabar sayang." Rafa disana menemani istrinya sampai berangkat dan Rafa paham bagaimana sikap istrinya jika teman tak tahu dirinya, Alexzavero membuat ulah.


"Makannya kalo punya temen di bawa kedukun kek apa ke tempat ustad.. di obatin tuh jiwa ama mentalnya, Buat susah orang aja."


Rafa mengusap punggung istrinya.


Zia hanya bisa diam di samping Della yang sejak tadi uring-uringan memarahi Alex dan orangnya saja belum sampai.


Saat sebuah mobil hitam mewah berhenti Zia segera membuka pintu mobil untuk Nayla dan Beno membuka untuk alex dengan cepat.


Saat akan melangkah turun Nayla merasakan perasaan tak nyaman.


Alex melihat Nayla terdiam setelah berdiri dan Zia menutup pintu mobil.


"Perasaanku tak enak."


Alex menatap Nayla tajam tapi, Dengan cepat Nayla mengalihkan wajahnya tak sadar juga jika Alex menatapnya sejak tadi. Nayla hanya mengalihkan pikirannya dan melangkah mendekat ke Della.


" Kau ini, suamimu itu menyebalkan, nay!" Nayla terkekeh dengan aduan Della.


"Hajar saja, aku tak melarangnya jika bisa sampai dia koma." Alex mendecih malas.


"Jangan mengatakan hal terlarang nay." Peringat Alex seketika membuat Nayla terdiam dan menatap tajam ke belakang Della.


"Mari Tuan Nyonya kita berangkat sekarang." Alex dan Nayla saling menatap Beno lalu berjalan mengikuti langkah ya masuk ke pesawat. Alex memberikan tangannya dan Nayla menerimanya untuk di gandeng.


Dalam pesawat salah satu pramugara dan pramugari memberikan arahan dan Nayla duduk bersama Della lalu Alex ada di sampingnya.


Perasaan tak nyaman ini membuatnya risih. Nayla memperhatikan sekitar dan mereka semua tak masalah.


Nayla memilih menatap keluar jendela. Saat yang sama ternyata Vansiska duduk di depan mobil seorang wanita bersama dengan Darma dan ada nenek disana.


"Kau harus lakukan sesuai apa yang harus terjadi, aku sama sekali tak ingin Nayla melahirkan keturunan untuk Alex." Perintah nenek untuk wanita cantik di bangku kemudi.

__ADS_1


__ADS_2