
Setelah kejadian waktu itu, Nenek sadar satuhal ia memang tak suka dengan Nayla tapi, bukan berarti ia harus membenci apa yang ada di dalam perut Nayla juga.
Bayi atau janin yang tak tahu apapun itu tidak lah berdosa. Nenek juga gelap mata dengan terus menjauhkan Alex dan Nayla.
Bahkan Nayla tetap mau mendekatinya walaupun ia terus membuatnya seperti tak berguna.
Seminggu setelahnya Razefian sadar dan donor darah langka yang ternyata masih tersisa di bank darah membantu Ian cepat pulih di tambah donor dari Alex walaupun hanya sedikit.
Darah yang diambil dari bank darah adalah milik Nayla yang setiap ada program donor darah gratis ia selalu hadir. Nenek juga baru tahu kalo Nayla tak seburuk yang ia lihat.
Nenek agak menyesal karena terus mencari sisi buruk Nayla fan dan tak melihat sisi baiknya yang padahal bisa di lihat setiap hari.
Pernikahan yang tiba-tiba di paksa, karena ingin warisan Garendra jatuh ketangan Alex, lalu perjanjian pernikahan hingga Nayla malah mengandung keturunan Garendra. Ini benar-benar hal luar biasa. Nayla tahan walaupun perlakuan burukndatang terus-terusan padanya.
Nenek juga tahu kalo Darma yang sampai membuat Nayla koma waktu itu sebenarnya neneknhanya minta sakiti sedikit bukan sampai hampir merenggut nyawa. Darma juga sekarang akan menjadi ibu dan pergi bersama suaminya pindah negara itupun atas perintah tegas ayah kandungnya Darma sendri.
Darma ternyata tak lebih buruk dari seorang yang sering merebut kebahagian orang lain.
Nenek sampai kaget kalo ternyata Dipto adalah ayah dari anak yang Darma kandung.
Ini memang mengejutkan tapi, ini memang baik karena setelah Darma melahirkan mereka akan menikah ulang.
Nenek lega rasanya melihat semua yang terjadi bisa ia terima dan bisa ia hadapi dengan perasaan hancur lebur kadang merasa minder.
Berkat Nayla juga Nenek bisa berbaik hati juga hubungan dengan alex dan Ian.
Lalu untuk Marcella ia pergi entah kemana tiba-tiba mendadak dan Nenek juga kurang paham.
Nenek tetap cuek dan judes pada Nayla tapi, tetap perhatin dalam sikap dinginnya.
Di acara ini aula pesta yang sudah di hias dekor mewah juga tak terlalu ribet lalu para tamu yang di undang untuk hadir diacara peresmian banguan baru kantor pusat dan kantor pusat lama akan di ubah menjadi pusat perbelanjaan dan rekreasi keluarga.
Termasuk pencapain Perusahan juga pengesahan Dokumen warisannya.
Alex berdiri menatap ke semua tamu. ia berdiri diatas podium diatas panggung dan menjadi pusat perhatian untuk sesaat.
Alex menatap Istri dan adiknya lalu Nenek dan juga Haila yang duduk tak jauh dari Nayla dan Adiknya.
Pidato singkat yang alex katakan diatas podium cukup membuat tamu kagum dan setelahnya berlanjut dengan pesta kecil berikutnya.
Ian tiba-tiba menyinggung masalah anak yang baru akan lahir beberapa minggu lagi.
"Kakak apa sudah hari nya melakukan penyambutan pewaris berikutnya." Ejeknya sedikit jelas nenek dengar.
__ADS_1
"Itu masih lama." Nenek yang menjawab. Nayla tersenyum geli menatap Nenek dari samping lalu ian yang lemas.
"Kau tidak sabaran, Nenek minta jangan memojokkan cicit nenek jika sampai ia tertekan karena mu, Nenek akan mencukur habis gaya rambut terbarumu, Ian."
Ian memanyunkan bibinya raut wajahnya kesal.
"Aku hanya bertanya Lagi pula, aku tak mendengar suara anak kecil setelah acara amal kemarin."
"Sejak kapan di acara amal ada anak kecil?" Della menyambar ucapan Ian
Della duduk tak jauh dari Alex dan keluarganya.
"Bukan di acaranya tapi, di ponselku." Ian tertawa sendirian merasa jika leluconnya lucu. Nayla membantunya dengan terkekeh kekehan kecil.
"Dasar pitak." Ucapan Della seketika membuat Ian diam.
Potongan rambut ian kini pitak dan Ian tak bisa berjalan kaki sebelum pulih sempurna. Masih dengan kursi roda setelah bangun dari komanya.
Ian melengos kesal.
"Lagi pula aku punya lambang petir disini." Pamernya tapi, semua malah terkekeh dan sebuah tangan tiba-tiba mengusap kepalanya di bagian yang tidak ada jahitannya.
"Kau tetap yang terganteng, tenang saja." Alex datang dari atas panggung setelah berfoto dan pidato nya.
"Kakak ipar dia tertawa geli, ayolah jangan seperti itu... Kakak nanti anak mu juga akan membuatku paman yang mudah di aniyaya.. jangan beritahu dong."
Suasana bahagia ini tak akan Alex biarkan untuk di ganti dengan sendu. Tapi, satu waktu dimana berubah biru itu, pasti ada.
Alex harus menjaga harta terbaiknya.
Menatap Nayla dan anaknya.
Di saat yang sam Farhan dan Cakra yang hadir di acara itu terdiam dan menatap kesana kemari setelah memantau cukup lama Nayla dan lainnya.
"Atur semuanya, Aku ingin kau habisi dia dan berikan semuanya padaku," ucap Cakra lalu berdiri bangkit meninggalkan Farhan.
"Tidak bisa!" Langkah Cakra terhenti.
berbalik dan seketika suara tembakan membuat satu Aula gaduh sekejap dan senyap seketika setelahnya.
Tatapan Alex menagarah tajam.
Diatas kursi rodanya Farhan meninggal dengan darah menetes deras dari tangannya begitu banyak cairan merah di lantai pesta dan percikan cairan merah lainnya di taplak meja, di sebelah kiri dimana Alex dan semua keluarganya bisa lihat siapa yang duduk dengan posisi kepala yang menggantung dan tangan menggantung sebelum mengenai lantai.
__ADS_1
Cakra dengan santai menyimpan senjatanya dan menatap Alex remeh.
Lalu pergi begitu saja.
Nenek langsung ambruk di lantai. Nayla segera menahan kepala Nenek sebelum mengenai Lantai.
"Farhan..." Terisak dengan mata terpejam.
Haila bergegas meminta tanduh untuk membawa nenek ke tempat istirahat di kamar yang sudah di siapkan jika ada keadaan darurat. Nayla yang fokus pada nenek segera ikut bersama Della yang ikut mengurusnya. Zia membantu Nayla berdiri dan mengantarkannya ke Nenek.
Alex diam menatap Cakra yang berlalu pergi tapi, anak buah Zulfikar dan Beno sudah bergerak cepat.
"Kau tidak akan membunuhnya kan ini hati baik dan istrimu sedang hamil..."
"Kau urus mitos itu aku urus perusak itu." Alex pergi dengan langkah cepatnya Rafa tak bisa lagi melarangnya dan memilih membatu Ian pergi ketempat aman.
Beberapa orang-orang Alex membereskan mayan Farhan.
Alex melangkah cepat menatap marah Farhan yang bayangannya saja tak ada di depan matanya tapi, bayangan wajah puas membunuh anggota keluarganya terlihat jelas di ingatannya.
"Aku tak bisa biarkan hal ini lagi." Baru keluar gedung dan melihat Cakra lewat dengan mobilnya ponsel Alex berbunyi.
Nayla menelpon dan itu membuat Alex dua kali geram.
Di ruangan istirahatnya Nenek terus mengigau memanggil semua keluarga yang sudah tidak ada dan yang memang bukan hari ini semuanya sembarangan di ucapkannya.
"Nenek..." Ian memegang tangan nenek meminta Nenek untuk tenang dan diam.
Itu percuma.
Alex datang dan melihat semuanya sedih.
"Kenapa? Apa yang..." Nayla menoleh menatap wajah Alex.
Nayla menggeleng lemah dan menangis.
Alex mendekat dan melihat wajah neneknyang terpejam dan pucat juga tenang.
"Nenek udah meninggal...hiks." Nayla tak kuat harus bicara tapi, tak ada yang lebih kuat menghadapi Alex sekarang. Nayla menunduk takut.
Dengan cepat meraih tubuh ringkih yang terus bergetar karena tangisannya lebih membuat Alex perih.
Nayla menangis dalam pelukan Alex.
__ADS_1