
Baru juga menikmati hari minggu dengan tenang. Farhan datang dengan amarah meluap luap.
Alex yang baru saja datang dari luar dengan hodi abu dan celana selutut sehabis lari pagi. wajahnya basah keringat yang masih mengucur dan beberapa helai rambut yang terlihat tebal mengantung hampir menutup menusuk matanya.
"Apa yang anda cari di rumah ini, Tuan?" Seketika Bione menoleh dan menunduk. Alex tahu siapa yang datang saat sedang memasuki gerbang dengan jalan kaki dan meminum airnya sebentar duduk di tangga.
"Kau...." Farhan menunjuk wajah Alex dan melempar semua kertas ke wajah Alex.
"Kau membuat pernikahan tiba-tiba memaksa gadis kampung untuk mengubah setatusmu dan untuk menguasai harta Garendra dan kau mendapatkannya lalu dengan sombongnya kau menghancurkan semua usahaku, apa kau serakah atau kau monster tak berhati."
"Heh.." Ringisannya merasa takjub dengan kata Monster yang Farhan katakan.
"Apa? Monster berhati?"
"Itu Cocok dengan anda, Paman."
Seketika Farhan kembali marah.
"Kau serakah Alex!" Teriaknya lagi lebih keras sampai seisi rumah langsung senyap seketika.
Alex menatap datar.
"Dengar baik-baik, Aku sama sekali tak mau semua itu tapi, Kau sama sekali tak berpikir akibatnya jika kau mengambil alih perusahaan yang kakek nenek juga ibu ayahku bangun sampai seperti ini, kau hanya mau menikmati hasilnya. Sekarang ku tanya? Siapa yang serakah siapa yang mau sesukanya, jawab? Ayo cepat!"
Alex mendekat dan memegang kedua bahu Farhan. Menatap matanya langsung dengan aura predator yang begitu kuat dan mengintimidasi.
"Dengar! Paman, bisa menganggap aku apapun tapi, jika Paman terus mengungkit tentang hak yang memang milikku maka paman tak akan baik untuk hidup lama."
Farhan mengepalkan kedua tangannya ia benar-benar kesal.
Nayla melihat dari dapur saat ia mendengar Farhan berteriak ia ingin menghampirinya tapi, Alex pulang lebih cepat.
Alex menegakkan tubuhnya menatap lurus kedepan.
"Kenapa? Kau mau menyapa paman, Kemari lah istri cantikku, yang begitu aku cintai." Sambil bergantian menatap wajah Sang paman dengan licik dan sinis.
"Cih... Kau hanya tidur dengannya dan kau menikahinya lalu kau hanya butuh Harta bukan." Seketika Nayla sudah ada di samping Alex dan melihat Farhan dari dekat.
Farham melihat Nayla dari dekat begitu terkejut.
Seketika ia semakin meluapkan emosi besarnya.
"Dasar Bodoh! Kau menikahi pembunuh kakak ku, Apa maksudmu kau mau berhianat dengan keluarga, Kau bahkan mencintainya."
Alex berdecih.
"Kau pinplan sekali Paman tadi kau mengatai aku yang memperkosanya dan menikahinya karena tanggung jawab merusaknya, Sekarang kau malah menjelekkannya menganggap nya pembunuh, Dasar pinplan!"
Farhan menatap Nayla sengit.
__ADS_1
"Apaa! Kau!" Kesalnya menunjuk wajah Alex.
"Selamat pagi Pa-Paman, apa mau ku buatkan minum atau mau sarapan, sarapan bersama disini?" Farhan mendecih lagi.
Menatap Nayla dari atas sampai bawah begitu jijik.
Ia mengira jika gadis yang di nikahinya bukan gadis yang ia tahu kalo itu pembunuh keluarganya tapi, ternyata dia gadis dari orang yang membuat kakaknya pergi bersama istrinya juga.
"Kau mau memanfaatkan keponakanku bukan?"
"Keponakan?" Alex menjawab.
"Kita tak sedekat itu paman."
Nayla terdiam tertunduk.
Kenapa rasanya ia sensitif sekali hari ini.
"Maaf saya pamit kedapur?" Nayla pergi tanpa jawaban dari Farhan ataupun Alex.
"Paman kau membuatnya takut." Alex membuat suasana mencair tapi, bukan untuk tertawa, yang pasti untuk menyadarkan pamannya agar tak sembarang bicara juga pin plan.
"Sekarang cabut semua peraturan mu..."
"Tidak akan mungkin aku mencabutnya karena kerusakan biaya membengkak karena sifat boros kau dan istrimu termasuk Putramu."
Farhan mengisyaratkat Bione untuk pergi dari rumah ini dan saat akan mendekat pintu keluar Razefian datang dengan tas di punggung cangklong sebelah kanan dan wajah tertutup tudung Hoddie.
"Berhenti disana."
"Kak!" Seketika menoleh dan perintah Alex benarembuat Ia tunduk.
"Kau menghajarnya atau kau yang memulainya."
"Tidak ada bedanya, Anak Om Farhan benar-benar bukan orang, mereka mulai duluan kak aku korban dan itu semua karena tante."
Aduannya bisa di dengar Farhan yang memang belum menjauh dan melewati pintu keluar.
"Kau dengar paman?"
"Lalu." Lanjut Alex.
"Aku membalas semuanya." Jawab ia seketika Alex membuka tudung Hoddie adiknya dengan kasar dan memperlihatkan wajah Ian yang babak belur.
"Bagus, lain kali masukkan anak Paman Farhan ke Ruang rawat jika bisa koma sekalian, biar merasakan apa yang nenek dan kita rasakan."
Alex pergi dari sana meninggalkan Ian yang berdiri menghadap punggung Farhan dan perlahan menjauh bersama dengan Bione.
Nenek melihat perdebatan seru itu sambil melangkah kedapur.
__ADS_1
"Kau mengibarkan bendera perang terus dengan pamanmu, nak."
"Biarkan lah nek, lagi pula Paman hampir membuat perusahan di bawah perhatian Garendra bangkrut perlahan."
Nenek menggeleng.
"Memang gaya hidup mereka terlalu berlebihan dan sulit untuk di rem."
Seketika itu Nayla datang dan mengambil botol air minum Alex lalu membawanya ke dapur.
"Kenapa hanya diam tawari dia untuk sarapan apa pagi ini, Kau itu selalu saja harus di ajari, Bagaimana mau menjadi cucu menantu yang baik, apapun yang di paksakan termasuk niat itu tak akan berakhir baik, Nayla cih."
Diam seperti menahan nafasnya.
Lalu di hembuskannya perlahan.
Melihat kedua orang yang harus ia hindari menjauh seketika tanpa ia sadari. Nayla membanting botol air minum Alex diatas meja kompor.
Bibi dan pelayan lainnya terkejut sambil memegangi dada mereka.
"Nyonya.. apa ada masalah?"
"Iyaa, atau kami perlu membantu anda untuk membuat semuanya..." Nayla menoleh cepat menatap semua pelayan. Maksud bibi dan para pelayan adalah membuat semuanya jadi lebih ringan dan tak terlihat rumit.
"Aku mau kalian buatkan aku ayam geprek sambal paling pedas. Kalo tidak aku akan menakar seberapa banyak cabai dan kalian tinggal membuatnya."
Para pelayan dan bibi juga ikut mengangguk mengerti dengan titah Nayla yang terdengar sangat marah.
Setelah menakar semua cabainya. Nayla pergi meninggalkan semua pelayan yang hanya bingung juga diam, ini banyak sekali cabainya, pikir mereka.
Nayla pergi ke kamar masuk dan menutup pintu sangat pelan lalu berbalik dan mengebrak pintu lemari di samping Alex.
"Dengarkan aku!" Alex tak kaget sama sekali dan malah menatapnya sambil mengunakan kaosnya.
"Kenapa?" Santai tanyanya tanpa menatap Nayla.
Aura intimidasi Alex begitu terasa saat alex mengkat wajahnya dan menatap balik wajah Nayla dan tepat saat di matanya mereka saling melempar tatapan tajam.
"Kenapa? Kau bilang kenapa, Berapa bulan lagi aku harus di sini dan kapan kontrak berakhir, kenapa satu rumah ini sangat membenciku, iya itu tak masalah tapi, jangan mengungkit terus dong, seakan-akan aku selalu lupa siapa dan sedang apa juga bagaimana aku bisa disini, Alex Aku mohon bagaimanapun caranya percepat kontraknya dan aku, aku ingin pergi jauh dari kehidupanmu."
Alex terdiam.
"Masih lama dan kau diam saja itu cukup."
"Mudah bagimu, Gila bagiku!" Lalu pergi sambil sengaja memecahkan benda di ruang ganti Alex.
Tak lama pergi lalu datang lagi membawa sapu dan alat untuk membawa pecahan keramik.
"Maaf." Ucapan yang bernada penyesalan itu sangat terdengar menggemaskan di telinga Alex.
__ADS_1
"Gadis lucu."