Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Diam


__ADS_3

Nayla tak mengatakan apapun dan lebih banyak diam bicara hanya satu dua kata dan tak pernah banyak.


Semenjak ia sadar dari tidurnya. Caranya bicara pun bisa di kira-kira dan tak akan bicara atau menjawab hal yang tak perlu. Kata yang keluar pun bisa di hitung.


Di dapur sekarang. Semua pelayan dan juga Bibi merasakan aura dingin dan gelap yang Nayla bawa setelah sadar.


Nayla menoleh melihat sikap dan tingkah Pelayan yang segan dengannya, ada apa?


Terserahlah Nayla sama sekali tak mau memikirkannya.


Sekarang pun Nayla sedang ada di dapur membantu Bibi memasak lalu menyediakannya untuk orang rumah.


Wajah nenek sangat kesal bahkan lebih kesal dan kecewa dari sebelumnya karena Nayla tidak menghilang dan pergi selamanya. Kenapa justru sadar.


Nenek duduk dan disusul Alex juga seorang lagi yang Nayla tak sadar jika itu Razefian.


Nayla menyiapkan semua sarapannya diatas meja dengan rapi dan Bibi menyiapkan piring dan nasi untuk Nenek dengan pelan dan tenang.


Saat Alex datang bergabung. Nayla segera membantunya menyiapkan makan yang Alex inginkan.


Sekarang pun Nayla tetap berangkat bekerja menjadi asisten Alex sampai semua masalah selesai dan satu lagi Nayla tetap menjalankan tugasnya melayani suami kecuali, ranjang karena semenjak ia sadar dari tidur panjang. Nayla sadar jika ia terlalu malas mengurus Alex untuk lainnya yang penting bukan, ranjang.


Setidaknya menyisakan kesan baik lalu Alex terluka dengan kepergian Nayla itu lebih baik.


Nayla suka itu, entah kenapa.


Karena jika Nayla memberikan semua yang ia punya secara nyata itu membuat Alex tak akan tersiksa, pikir Nayla, atau terluka tapi, perhatian yang setiap hari di berikan lalu menghilang.


Cinta kasih dan obrolan singkat pasti bisa meninggalkan kesan berarti jika sudah tak ada. Walau Nayla tak banyak bicara sekarang.


Tatapan Mata Alex sulit di artikan.


Ia terus mencari celah membaca sikap dan tingkah Nayla tapi, semua tak berhasil karena Alex tak menemukan keanehan justru hanya diamnya yang begitu terlihat jelas.


Semenjak Nayla sadar perubahan dan berbedanya Nayla begitu terasa oleh Alex.


*


Sampai di kantor. Alex dan Nayla memasuki lift yang sama.


Ketika Nayla akan menekan tombol untuk naik tiba-tiba seorang karyawan masuk.


"Permisi pak saya numpang lift ini karena lift karyawan sebelah, penuh."


Alex menganggukinya saja.


Tiba-tiba berhenti tertutup lagi ketika seorang karyawati masuk dan mereka akhirnya berpasangan di dalam lift, total empat orang.


"Bu.. Nay sudah sehat?" Nayla menoleh dan tersenyum mengangguki ucapan orang itu. Karyawan tadi berusaha berbasa basi tidak tahu kalo atasannya itu suami Nayla.


"Saya pikir ibu, benar-benar sakit parah, kabar berseliweran ibu di culik ya? Saya turut berduka atas musibah yang menipa ya bu..." Dan banyak lagi yang di katakan karyawan laki-laki yang lumayan tampan dan rapi itu.


Dari belakang tatapan mata Alex sudah mengintimidasi tapi, tak ada yang tahu.

__ADS_1


Alex juga mendengarkannya sejak awal merasa risih.


Seketika karyawati di sebelahnya membenarkan lipstik dan bedaknya. Merasa mencium bau tak enak seperti itu dari sampingnya yang ternyata karyawati perempuan yang umurnya hampir sebaya dengan Nayla.


Tapi, Alex tak perduli itu. Mau ia bersolek setebal apapun Alex juga tak akan mengajaknya bicara.


"Maaf Pak, Saya numpang sini lagi, lift sebelah penuh soalnya." Tersenyum malu lalu menoleh ke depan samping melihat Nayla.


"Hehe Bu, Bu Nay?" Nayla tersenyum mengangguk menjawab sapaannya.


Nayla menoleh ke Alex. Ia tak perduli dengan apa yang Karyawan ataupun karyawati itu lakukan padanya ia lebih baik diam itu lebih dari cukup.


Saat pintu lift lantai mereka terbuka.


Keduanya keluar bersamaan.


"Terimakasih pak Bu." ucap mereka tidak secara bersamaan.


"Iya," ucap Alex dengan berusaha ramah karena Nayla langsung tersenyum dan menutup kembali pintu lift.


"Kau kenapa... apa yang kau lakukan Nay?"


"Memang kenapa, bukannya itu mengganggumu?"


Alex menghela nafasnya.


"Kau masih ada yang ingin di tanyakan, kau mau bertanya apapun aku akan menjawabnya."


"Tak perlu baik." Lift kembali berhenti dan pintu terbuka.


Ketika itu Alex melihat Zulfikar dan Valenzia.


"Selamat pagi bu Nayla." Sapa Zia dengan tersenyum manis.


Nayla menghentikan langkahnya dan menatap ramah. Lalu menatap tanya wajah Zulfikar.


"Dia asistenku dan Nyonya, itu panggilan nya jangan Bu lagi Zia."


Zia mengangguk.


"Maaf Nyonya saya baru bekerja beberapa hari, maaf ketidak sopanannya."


"Tidak masalah, Zia kamu bekerja dengan Zulfikar, Cantik... Hijap, Jaga dia Zul... Jangan seperti bos mu!" Seketika Zia terdiam bingung lalu Zulfikar ikut bingung.


Nayla langsung pergi setelah mengatakan itu beberapa detik kemudian Beno menghampiri Nayla dan memberikan tiga dokumen untuk Alex lalu pergi. Mata Beno dan Zulfikar sempat saling tatap.


Di dalam ruangan Alex. Nayla meletakkan berkas diatas meja tepat didepan Alex.


"Beno bilang berikan padamu, Aku tak bisa membacanya kerena ini rahasia."


Alex mengambilnya dan membacanya Lalu Nayla fokus pada pekerjaan diatas meja.


Waktu terus berjalan jam makan siang tiba. Nayla yang sibuk membaca hasil cetak Dokumen yang selesai tiba-tiba di tarik dan di rebut paksa.

__ADS_1


"Ayo makan di luar." Alex mengajaknya.


Dan ini aneh. Nayla mengeluarkan bekalnya dan seketika Alex menatapnya kesal, Nayla tak peka pikirnya.


"Bawa makanan itu kita tak makan beli tetap makan apa yang bawa dari rumah cuma aku mau suasana terbuka."


Nayla menatapnya dan segera membereskan bekal makan siang.


"Iya."


Keluar dari kantor seketika itu Nayla yang menunggu Alex mengambil mobil. Melihat disana depan kantor tepatnya di terotoar jalanan.


Seorang ibu menggendong anaknya panas-panasan.


Nayla ingat ia membawa payung.


"Aku berikan atau..tidak?"


Saat akan melangkah memberikan payung pada ibu itu Nayla ingat ini bukan barangnya dan Nayla tak berhal melakukannya. Tapi, ketika ia menoleh ternyata suami perempuan itu datang memberikan payung untuk ibu dan anak.


Rasanya iri melihat perempuan lain bahagia dengan pernikahannya dan penuh cinta lalu ibu-ibu paruh baya dan ibu hamil di sebelah itu terlihat akur dan rukun.


Nayla merasa miris dengan dirinya.


Kenapa-kenapa dirinya begitu harus sedih terus di paksa kuat terus.


Tiin tin...


Kelakson membuatnya kaget. Ternyata Alex datang dan melihat Nayla melamun dan tak langsung masuk kedalam mobil.


Alex memperhatikan apa yang Nayla lihat saat ia terdiam menatap ke samping lalu depan.


Alex peka tapi, Alex akan diam saja.


"Apa yang mau kau beli?" Sambil mobil berjalan dan alex berinisiatif mencari topik pembicaraan.


"Tidak ada." Mengangguk anggukan kepalanya dengan jawaban Nayla yang terdengan jutek.


Alex merasa sedikit aneh karena biasanya mereka debat dan Nayla mengatakan banyak hal lalu cerewet membahas semua masalah masa lalu lalu Alex juga tak mau kalah.


Sekarang Kalimat dan kata hanya sedikit setelah Nayla sadar dari tidur panjangnya.


"Kau suka eskrim?" Alex berusaha besikap layaknya orang berkencan tapi, ia benar-benar terpaksa.


Nayla menjawab cepat kalo ia tak mau makan eskrim.


Ini semua untuk dirinya agar tak menjadi bulan-bulanan Della.


Alex sampai pusing menghadapi Dokter galak itu karena Nayla jadi lebih murung dan pendiam.


"Baiklah aku akan beli tapi kau harus makan kau tidak mau aku mau."


Nayla diam saja tak ada kata lagi yang keluar.

__ADS_1


Aduh! Hampir pecah kepala Alex ia sebenarnya bodo amat tapi, kenapa jika sikap Nayla yang di seperti ini mudah membuatnya emosi dan frustasi.


__ADS_2