
Zoya yang baru saja beres dengan urusannya di ruang baca kampus atau lebih tepatnya perpustakaan kampus langsung pergi keruangan Dosen yang tadi mengajar di kelasnya mengumpulkan tugasnya.
"Permisi pak."
"Iya.. zoya..silakan masuk." Zoya melangkah mendekat dan memberikan tugasnya.
Saat yang sama Dosen itu memeriksanya langsung dan memberikan nilainya tapi, tak langsung mengembalikan tugas Zoya untuk di pelajari sebagai persiapan uts.
"Zoya.. kami para dosen dan rektor mengucapkan duka cita terdalam atas kepergian orang tua kamu dan maaf kami baru bisa mengatakan sekarang, jujur kami agak kaget karena kami kira kamu akan semakin Down dan terpuruk kenyataannya kamu bangkit begitu baik, Kamu malah bisa menggeser kedudukan maha siswa lainnya yang sekarang ada diatas awan."
Zoya senyum malu mengangguk pelan.
"Kamu mau menerima beasiswa sebagai murid teladan, ini kami berikan dengan pertimbangan matang walaupun agak tiba-tiba dan rasanya mungkin aneh bagimu tapi, kami tak bisa menunggu sampai Rektor yang melakukannya."
"Terimakasih Pak sekali lagi terimakasih," ucap Zoya sedikit terharu sambil menerima uluran amplop dari tangan Dosen didepannya.
"Dan ini untuk mu semester ini karena bukti dari kerja kamu begitu nyata." Zoya lagi lagi merasa terharu dan berterimakasih.
"Makasih pak.. Terimakasih."
Dosen tadi memberikan tugas Zoya lagi setelah di nilainya. Lalu Zoya pamit undur diri.
Zoya yang pergi untuk segera mencari pekerjaan sampingan masih diikuti Razefian di belakangnya. Saat yang sama juga Nayla dan Alex terdiam dengan kabar yang baru datang.
"Maninggal." Nayla menatap Alex dengan tatapan bingung.
"Cakra ditemukan meninggal dengan mencekik dirinya sendiri." Nayla menyeriyit heran.
Bukannya tadi mereka barusan sampai sana dan kenapa bisa setelah mereka dari sana.
Alex mengusap dagunya.
*
Pemakaman yang tak terlalu ramai dan hanya di hadiri petugas lapas ustad dan juga para pelayat yang bekerja di lapas.
Jadi terlihat seperti Cakra itu hidup sebatang kara.
"Kalian berdua orang terakhir yang masuk kedalam sana tapi, kalian keluar Cakra masih baik-baik saja." Petugas jaga lapas menjelaskannya.
Alex menatap wajah petugas itu dengan seksama.
Seketika terlihat tato di lehernya tato dengan lambang seorang anggota gangster paling berutal di kota ini.
"Iya.. terimakasih... atas informasinya."
Alex menarik perlahan sambil berjalan menuntun Nayla masuk kedalam mobil lalu pergi dari sana bersama mobilnya dalam perjalanan. Alex diam seribu bahasa dan itu membuat Nayla merasa aneh karena ini tak biasanya rasanya dekat dengan Alex seasing ini.
"Kenapa?" Seketika Alex menepikan mobilnya memegang kedua tangan Nayla.
"Buat sekarang nirut sama aku, Nay?" Nayla menerjap dan mengangguk tatapannya tajam dan serius itu menusuk hati Nayla.
"Em-emangnya kenapa? Apa ada masalah, petugas tadi?" Alex menatap kedepan dengan tangan masih menggenggam dan seketika Alex menatapnya dengan tatapan yang kuat.
"Petugas lapas itu palsu orang tadi itu juga orang sama yang ikut menghabisi orang tuaku waktu itu, selain abdulah dan ayahmu, selain apa yang di katakan Dipto!"
__ADS_1
Nayla membulatkan matanya.
"Apa yang dipto bilang benar?"
"Aku belum mengorek lebih dalam tentang masalah itu kupikir yang salah hanya abdulah dan ayahmu karena mereka sangat melekat di ingatanku dan mereka orang yang mengacungkan senjata."
Nayla membalas genggaman tangan alex.
"Iya aku akan menurut, lebih baik aku di rumah saja." Alex tersenyum.
Rasanya hatinya menghangat saat kata-kata yang Nayla keluar kan terdengar lembut dan sangat penurut rasanya.
"Kita pulang." Ajak Alex dengan lembut.
Sampai dirumah Zoya sudah sangat sore dan sudah melihat kakaknya mondar mandir bersama pelayan di dapur.
Zoya menghampiri Nayla dan sebelumnya mencuci tangan dan kaki laku mengambil semangkuk besar sayur untuk makan malam.
"Kakak aku dapat beasiswa dan uang santunan. Aku menerimanya apa itu boleh?" Nayla menoleh menghentikan langkahnya dan menarik kursi lalu duduk.
"Kamu dapet beasiswa?"
Zoya mengangguk dan segera mencari surat itu didalam tasnya memberikan pada Nayla dan dengan wajah harunya menerima uluran amplop putih dari universitas Garendra.
"Ya... Selamat... selamat kamu berhak dong, dan uang santunan nya kamu pake buat yang bermanfaat, Kamu pulang malem gini kamu dariana?" Nayla hampir mau menangis tapi, ia tahan. Ini terlalu membahagiakan.
Nayla ingin sekolah lewat beasiswa tapi, tak jadi keburu Alex memaksanya untuk seumur hidup bersama. Zoya kuliah sebelum Nayla mendapatkan surat rekomendasi.
"Ini rezeki kamu, kakak gak bisa tapi, kamu bisa, semanga!" Zoya tersenyum seketika menangis dan memeluk nayla.
Nayla juga sedih dan berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya.
Tiba-tiba bibi datang di saat tangisan Zoya hampir mereda dan memberikan tisu juga air putih segelas.
"Sekarang kamu boleh ngapain aja asal kamu gak boleh kjatuh ke lembah kegelapan, Kakak ada disini, cuman kita berdua dunia Zoya dunia kakak dunia kakak dunia Zoya ingat ya?" Nayla terdengar begitu dewasa bahkan Zoya kembali terharu.
Kenapa dari dulu ia membenci kakak sebaik ini kenapa ia membenci Nayla dulu.
Dari depan tangga Alex melihat sambil berjalan mendekat ke arah dua perempuan di meja makan yang terlihat habis menangis.
"Ada apa ini, kenapa sayang ?" Nayla tersenyum.
"Sudah lebih baik kita makan malam saja nanti aku ceritakan."
Alex memilih menurut. Dan Zoya sudah selesai makan malamnya lalu pamit pergi. Zoya sudah pernah bilang pada Nayla kalo ia malu dan segan dengan Alex jadi Nayla memakluminya.
"Iya.." Jawab nayla lembut. Saat Zoya pergi Nayla menceritakan tentang beasiswa dan uang santunan juga nilai Zoya di tambah dengan pekerjaan yang baru Zoya dapatkan.
Alex tersenyum sembari mengusap kepala Nayla lembut.
"Kamu yang terbaik sayang, Mau aku bantu apa untuk dia, kamu sangat menyayanginya bukan?" Nayla tersenyum lalu mencibir.
"Aku tahu apa maksudmu kenapa kau tiba-tiba seperti itu," ucap Nayla.
"Hehe... Istriku, sudah bisa membaca pikiranku ternyata."
__ADS_1
"Tidak!" tolak keras Nayla.
Seketika itu suara bel didepan pagar berbunyi dan ternyata kurir paket.
Satpam menerimanya dan menelpon Zoya untuk menerima paketnya.
Zoya keluar dan sempat di lihat Nayla juga alex melewati ruang makan.
"Ada apa pak?" Tanya Zoya pada pak satpam saat sudah dekat dengan pos.
"Ini paket tadi kurir bilang atas nama Zoya."
Zoya mengangguk dan agak ragu menerima dan mengatakan ia memesan paket.
Melihat dan membolak balikan box nya. Lalu mengocoknya mendekarkan lewat telinga apa isinya.
Tak bisa terdengar suara apa didalam.
"Pak minjem cutter ada?" Satpam mengangguk dan mengambil kannya.
Zoya membukanya didepan satpam dan kurir paket sudah pergi saat Zoya baru keluar rumah.
Terbuka pelastik pembungkusnya dan menyisakan kardus kotak coklat.
Nayla membukanya dengan gagang sapu dan satunya lagi dengan ranting panjang.
"Aaaa!" Terikan Zoya membuat Nayla terdiam. Alex dengan cepat bergerak keluar dan Nayla bersama bibi berdua melangkah keluar.
Pak Satpam menjauhkannya dan membuangnya tapi, Alex keburu datang dan melihat ap yang di bawa pak satpam. Hingga penciumannya tiba-tiba mencium bau bangkai.
"Zoya.. kenapa? Kenapa?" Nayla mendekat dan menarik adiknya yang masih terduduk menatap tanah dengan tatapan kosong.
Alex mendekat ke barang pak satpam pegang.
"Sial."
"Buang itu dan minta Zul kemari sekarang." Satpam mengangguk mengerti.
Alex menghubungi Beno.
Di saat yang sama Nayla di bantu bibi juga seorang pelayan lagi membawa Zoya masuk.
Baru Zoya diajak masuk dan melangkah melewati pintu rumah. Razefian datang dengan motornya dan di bukannya pagar oleh satpam tak lama Zul dan beno masuk.
Ian langsung memarkirkan motornya asal dan memperlihatkan sesuatu di ponselnya.
"Kak... Ini."
Alex meerima uluran ponsel Ian perlahan juga ragu tapi, tetap dengan wajah datarnya.
Foto Zoya Nayla dengan ****** Ayam dan darah dan ini ada tiga paket.
Lalu yang Zoya dapat adalah surat ancaman dengan tinta darah babi yang baunya busuk dengan kapas dan kain putih penuh cairan merah yang masih basah.
"Siapa yang berani melakukan ini !"
__ADS_1