Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Sebisanya berjalan tanpa pengantar


__ADS_3

Melda sudah mengatakan janjinya dengan baik.


Alex sudah puas dan sudah mendapatkan apa yang dia mau.


"Bagus lah... Kalo begitu aku akan kembalikan apa yang kau harapkan, Asal kau tetap pada Janji. Jika sekali ingkar kau bukan apa-apa di dunia bisnis gelap ini."


"Alex kau terlalu percaya diri kau pikir masalahmu selesai padaku, Kau pikir begitu? Tak apa pikirkanlah seperti itu. Aku tak mau ikut campur. Tapi, jika suatu saat di masa depan terjadi sesuatu diantara keturunan kita kuharap keturunanmu memiliki sifat tegas sepertimu dan pemaaf yang tidak terlalu baik juga kejam."


"Aku tahu apa yang kau maksud... tanpa sengaja kau minta aku untuk memantau Cucu mu bukan jika sudah lahir?"


Melda tersenyum.


"Aku tak perduli itu." Alex berlalu pergi dari ruangan Melda.


"Aku tak meminta padamu tapi, jika kau dan anakmu tahu dia jangan tinggalkan dia dan dia jadi seperti dipto!" Ujarnya masih Alex dengar dengan baik.


Alex terdiam pergi begitu saja tanpa membalas ucapannya. Melda tahu Alex pasti akan melakukan apa yang ia katakan. Alex juga sangat pintar.


Alex tahu bagaimana Melda, ia terlalu pintar menutupi sifat baiknya yang memang sifat aslinya. Sedangkan sifat palsunya itu jahat kejam dan membunuh tanpa merasa bersalah.


Jika berhadapan dan tak mengenal Melda mungkin orang menganggap Melda itu punya dua kepribadian.


Aslinya Melda itu tidak memiliki dua kepribadian.


Alex keluar dan turun tangga. Dari bawah Darto memperhatikan dengan tajam, tatapan mata Alex yang bergantian menatapnya dan Beno asistennya.


Saat sampai di lantai bawah tangga dasar tangga utama Beno mempersilakan Alex berjalan duluan.


Darto tak berani mengatakan apapun dan tak lama Melda keluar.


"Jangan sentuh keluarga Garendra mulai sekarang atau kalian akan langsung kuhabisi."


Darto menatap kakaknya.


"Kak!"


Melda tak memperdulikan apa yang adiknya ucapkan dengan nada tak terima.


Alex memberikan smirk meremehkannya.


Sampai sini tahukan siapa yang paling bisa dan berkuasa. Apapun bisa Alexzavero lakukan jika sudah diam jangan usik tapi, kenapa tetep di usik walaupun sudah sangat terganggu.


Melda menghela mafasnya. Menatap tajam sang adik dan semua berakhir bubar membereskan kekacauan.


*


Satu sisi Nayla belum sadar dari tidurnya saat tiga jam lalu. Terlalu nyaman karena ia sudah lebih tenang. Nayla sudah menginap di rumah sakit dan sudah sama seperti hotel vip rumah sakit.


Dan kamar ini pun sudah di gunakan Nayla pertama kali karena Vip ini hanya di gunakan untuk pasien dengan permintaan dan kebutuhan yang memang di khususkan. Perawatannya pun sama namun perhatian dokter lebih banyak di pasien dengan Vip khusus dari pada Vip biasa dan umum.


Alex baru akan sampai negara kelahiran sekitar Lima jam lagi walaupun dengan jet pribadi.


Hujan dan kendala cuca lainnya menghambat perjalanannya yang panjang.


Di apartemen yang tadinya tersusun dan tertata rapi cantik sekarang sedikit berantakan karena pemiliknya melampiaskan semua amarahnya dengan kasar dan brutal pada barang pecah belah yang ada di ddekatnya.


Marcella mengamuk karena semua usahanya meracuni Garendra dan membuat Prabudya tak menjadi satu perusahan sekarang malah menjadi satu perusahaan dan sudah berjalan sangat lama sampai puluhan tahun.


Dan Marcella baru sadar kenapa neneknya Alex kekeh meminta Alex segera mengambil hak waris itu dengan persyaratan menikah ternyata ada dua perusahaan raksasa dalam satu nama dan itupun barusan Marcella tahu, mengenaskan.


Ia merasa di bohongi selama ini. Ia kira Prabudya itu adalah perusahan besar dan tak menyentuh Garendra walaupun punya masa kerja sama yang lama dan Malah kenapa sekarang menjadi satu perusahaan dan satu nama.


"Aaaa... semuanya berantakan kenapa? Kenapa aku bodoh sekali jika aku tak membunuh orang tua Nayla lalu menghasut nenek-nenek itu atau aku berbuat aneh dan sampai masuk penjara... kenapa aku tak melakukannya dengan baik dari dulu... Akrh!!"


Kembali melempar barangnya dengan kencang. Suara pecahan itu membuat suara yang keras didalam.apartemen tanpa terdengar ke tetangga sebelah atau bawahnya.


Sampai berhamburan kaca dan beling di lantai.

__ADS_1


Asistennya langsung memebereskan kekacauan nyonyanya tanpa mau menanyakan satuhal.


Sekarang Vansiska pun tak bisa melakukan apapun Orang tuanya mengirim Vansiska pada pemuda bernama Rayanza yang mana sudah memang harus bersama dengan pemuda itu.


*


Dari arah ruangan VIP khusus di rumah sakit di depan sana seseorang berjalan sambil memainkan pisau lipatnya.


Saat bersamaan Della dan Rafa melewatinya dan melangkah masuk ke kamar Anggrek tepat dimana Nayla dirawat. Didalam hanya ada Zoya dan Nayla yang sudah tidur.


"Apa dia belum bangun?" Tanya Della.


"Sudah tapi, katanya masih mau tidur dan sekarang sudah lelap lagi." Menatap Kakaknya sebentar dan menatap Della juga Rafa bergantian dengan segan.


"Ya udah kalo gitu... Kamu udah makan malam? Zia diamana? Ian?" Tanya Rafa pada Zoya.


"Oh itu tante Zia keluar katanya di panggil sama Om Zul di parkiran, Ian cari rokok katanya." Zoya mengatakan apa adanya.


Rafa menghela nafasnya.


"Oh.. iya, Tapi..." Ponselnya bunyi Rafa beranjak pergi permisi dengan istri dan Zoya disana.


Keluar mengangkat telponnya.


Zia dan Della berdua didalam.


Della mendekat memeriksa perkembangan deteksi jantung Nayla.


"Tekanannya berkurang, dia mulai tenang rileks juga." Tersenyum mengatakannya dengan bangga lalu menatap Zoya.


"Ayo makan sebentar. Ada suamiku didepan pasti tidak apa-apa." Zoya menatap kakaknya tapi, rasanya tak enak meninggalkannya.


"Ayo!" Zoya mengangguk.


Keduanya keluar.


Saat hampir sampai di kantin dekat ruangan VIP khusus Della berhenti.


"Eh.. hp ku ketinggalan Zoy.. Bentar yaa, kamu kesana aja dulu." Zoya mengangguk.


Zoya yang terus pergi melangkah menjauh dan begitu juga Della.


Orang dengan pakaian serba hitam itu mengulurkan tangannya ke bantal sofa.


Membawanya kedekat Nayla danengangkatnya diatas wajah Nayla. Seketika pintu terbuka terlihat Della membenarkan gelangjamnya dan saat yang sama tatapan matanya melihat orang asing.


"Yaak..." Pekiknya tertahan seperti mengumpat.


Seketika tertarik jaket orang itu. Terbanting kelantai. Tanpa sela Della memendang dan menari juga membanting orang tadi tanpa ampun.


Suara keras itu membuat tidur Nayla terganggu.


Rafa yangendengar suara keras dari kamar anggrek langsung mendekat masuk.


"Ya Tuhan... Sayang!" Rafa menarik istrinya sempat sebelum masuk Della melempar orang itu keluar pintu sangat keras membuat beberapa orang dan perawat yang ada di lorong melihat itu terpesona dan terpukau sekejap.


Dari sisi lain lorong Zoya menelpon Ian dan seketika itu Ian yang baru saja selesai merokok menyudahi menghsap sisa puntung nya dan membuangnya di tempatnya sambil berjalan masuk dengan urat marahnya.


Della menatap lelaki itu dari tempatnya berdiri. Wajah laeannya sudah babak belur berdarah di bagian sudut bibir dan pelipis kanannya.


"Besreskan!" Perintah Ian pada dua anak buahnya yang datang bersamanya. Dengan segera mereka membawa orang itu menjauh.


Di saat yang sama Alex baru saja mendarat dengan selamat di bandara.


Marcella marah karena lagi-lagi orang kirimannya kalah.


"Minta Marcella meninggalkan negara ini dan jangan kembali jika ia memaksa tinggal masukkan saja ke rumah sakit jiwa beri dia tempat khusus menghabiskan waktunya seumur hidup."

__ADS_1


Beno mengangguk mengerti.


Keduanya menaiki mobil berbeda.


Nayla tersadar dan kekacauan tadi langsung di kendalikan mudah oleh Rafa dan juga kakak sepupu Della yang juga orang penting di rumah sakit Ayodya.


"Siapa orang tadi?"


"Gak usah di pikirin Nay."


"Tapi, della dia mau bunuh aku kan?"


"Sekarang enggak kan, aku disini, Zoya biar ngisi perut sama Ian sebentar. Suamiku ada di depan. "


"Lagi pula Nay, Aku udah ada kejutan kalo kamu bakalan ngelahirin dengan selamat jadi tunggu sebentar jangan tertekan atau panik sterespun jangan ya..." Perhalus perkataannya membuat Nayla terdiam tenang.


Mengangguk menurut terlihat wajahnya agak takut, sempat sebentar Nayla melihat Della begitu galak dan menakutkan menghajar orang tadi tapi, itu juga keren.


"Della, kamu keren." Seketika Della tertawa keras membuat Rafa agak kaget saat masuk mendengar tawa Della sekeras itu.


"Itu biasa."


*


Malam semakin larut. Alex tiba di rumah sakit dan saat ia sampai Rafa dan Della menunggunya didepan ruangan nayla.


"Zoya dan Ian aku minta pulang kasihan mereka sepertinya lelah." Kata Della sebelum Alex bertanya dimana dua anak yang menunggu istrinya.


"Iya itu tak apa," ucapnya menjawab della dan menatap Rafa.


"Salah satu pembunuh bayaran yang Marcella kirimkan, patah tangan dan leher oleh istriku... Dia hampir membuat Nayla tiada. Istriku yang bilang." Seketika itu Alex terdiam wajahnya berubah mengencang.


Penjelasan Rafa cukup membuat Alex merasa sedikit kepikiran tapi, di apartemen marcella Beno duduk di hadapan Marcella.


"Anda tinggal memilih pindah dan kami akan memberikan rumah tempat juga usaha untuk Anda jika tidak Abdaharus mau menerima tempat yang kami pilihkan."


Marcella terkekeh. Mengambil dokumen itu dan merobeknya Seketika mengacungkan senjata.


Melepaskan tembakannya dengan cepat Beno menghindar memecahkan meja kaca dengan kaki yang masuh menggunakan sepatu pantofelnya.


Membuang melempar senjata setelah membuat tangan Marcella kesakitan.


"Bawa dia dan bereskan tempat ini, aku sangat lelah...haah. Siapkan ambulan untuk membawanya." Ketiga anak buahnya mengangguki apa yang beno perintahkan.


Dengan santainya Beno keluar sambil merokok dan meninggalkan dua anak buahnya didalam ruangan marcella. Dari belakang nya, Asisten Marcell menyuntikkan biusnya.


Alex disini di ruangan Nayla seketika tangan pucat putih terpasang infus bergerak membuat tangan Alex terkejut dengan pergerakan tangan Nayla.


"Kau sudah bangun?"


Nayla menatap Alex.


"Aku takut." Alex menggeleng.


cAku disini, aku bersamamu." Nayla memeinta alex mengusap dan terus menggengam tangannya. Seketika Alex memeberikan kecupan di kening Nayla cukup lama.


*


Di saat hari persalinan Nayla. Melda menatap rumah sakit dari halaman depan, Nayla kan segera melahirkan anak pertamanya dan Melda juga akan melihat bagaimana wajah bayi itu.


"Tidak ada yang aman untuk seorang pangeran di medan perang, tahta atau singga sana bisa derebut orang lain yang bahkan tak memiliki darah bangsawan dan Nayla bisa menggeser kedudukan darah bangsawan dengan pewaris asli yang mewarisi singgasana."


"Permaianan darah pewaris tahta itu bisa sangat indah bisa juga menyeramkan dan saling membunuh...."


Dari pernikahan terpakasanya dengan pewaris yang ternyata memang di takdirkan untuknya, Nayla merasa Takdir tak selalu berawal baik untuk berakhir baik.


...Selesai....

__ADS_1


__ADS_2