Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris

Terpaksa Terikat Pernikahan Pewaris
Neraka


__ADS_3

Di kedai Abdulah menjambak rambutnya frustasi tak bisa menyelamatkan Nayla dan ayah Nayla hanya bisa lemas menerima putrinya di bawa pergi.


Amela, ibu tirinya hanya bisa diam dan lebih memperhatikan suaminya yang terlihat kesehatannya menurun.


"Baguslah jika Kak Nayla pergi," ujar Zoya dengan entengnya.


Ayah menoleh menatap tajam.


"Dia saudari dari ayah, walaupun beda ibu, kalian tetep anak ayah tapi, kau mengatakan seolah kau sama sekali tak mengenal bahkan tahu siapa itu Nayla."


"Sayang." Ibu Zoya menyela ayah Nayla agar tenang.


"Zoya.. kau seharusnya paham makna tentang persaudaraan bahkan kau tak pernah kesulitan selama ada Nayla, sekarang kau malah seperti tak tahu terimakasih."


"Amela." Sentak ayah. Kedua perempuan kesayangannya sampai terkejut padahal hanya istrinya yang di bentak.


Ayah berdiri dan berjalan menjauh Abdulah hanya diam memperhatikan drama didepan matanya.


*


"Kau gila... Apanya aku menikah kontrak dengan mu, Kau gila? aku tanya kau waras tidak, Tuan!"


Alex tersinggung dengan ucapan Nayla yang mengatakan dirinya Gila terus menerus.


"Aku tahu kau dekat dengan Abdulah kedai itu, dan kau putri dari pengurus kuda dan ibumu sudah tiada dan kau hanya ada ibu dan saudara tiri."


Nayla mendecih.


"Terserah! Aku tidak perduli kau mau tahu atau tidak aku..."


"Tapi, aku mau kau menikah kontrak denganku mau atau tidak itu untuk membayar tanggung jawabmu yang lalai dan membuat Tonic terluka."


Nayla menatap kedua mata alex bergerak menatapnya semakin tajam.


Memukul dada membentak berteriak dengan kencang.


Seketika kedua tangannya di cekal Alex dengan kencang sampai Nayla kesakitan.


"Kenapa? Apa yang kau mau uang atau apapun aku berikan tapi, aku tidak akan meminta apapun darimu jatah waktu kita hanya tujuh bulan setelah itu selesai."


Nayla mengeram marah membentak kencang.


"Pergi! Lepas!"


"Aku akan memaksa untuk menikahimu walaupun kau tidak mau, Nona!"


Nayla menatap galak Alex.


"Alexzavero Garendra."

__ADS_1


Seketika kedua mata Nayla bergerak kesana kemari dengan binggung mencari kalimat lain.


Nama itu membuat Nayla langsung tersadar dengan segera melepas cengkraman tangan Alex yang mencengram kedua tangannya yang terus memegangnya dengan kuat.


Mundur kebelakang perlahan.


"Kau paham sekarang," ujarnya seketika selangkah mendekat tangannya sekali tarik menyeret tangan kiri Nayla yang tubuhnya menolak di tarik di bawa Alex pergi.


Nayla meronta lagi.


"Kalian semua urus semua minta Beno membantu mengurus semuanya."


Anak buahnya mengangguk dan segera pergi meninggalkan Alex dan Nayla, separuhnya menunggu disana.


Masuk ke dalam mobil dan memasangkan sabuk juga langsung menutup pintu.


Nayla langsung melepas sabuk pengaman dan membuka pintu tapi, Alex lebih cepat masuk dan pintu tak bisa di buka lagi.


"Kau tidak akan bisa pergi jika aku tak melepaskanmu."


"Kau gila, Kau aneh, aku tah butuh izin mu kau selalu memaksa Tuan muda, Lepaskan aku, aku mohon!"


Alex pura-pura tak mendengar dan terus mengemudikan mobil melaju pergi dari tempat kandang kuda keluarga.


"Kau tidak dengar," ujar Nayla frustasi menjambak rambutnya sampai terus mengusap dahinya dan wajahnya.


Percuma. Semua yang Nayla katakan dengan nada tinggi tak berguna di telinga Alex yang terus fokus mengemudi.


*


"Nenek dimana Alex.. kenapa?"


"Kenapa? Dia tidak datang." Arah tatapan mata Darma menatap Nenek lalu ke arah lainnya.


"Dia akan pulang sebentar lagi tunggu saja."


Darma mengangguk wajahnya tersenyum cantik seperti malaikat.


Tapi, saat Nenek mengalihkan wajahnya Darma terlihat kesal.


Ini sulit sekali aku harus menggodanya sebelum aku mendapatkan seluruh miliknya di sini, sangat beruntung sekali diriku ini, batinnya begitu bersemangat sudah memiliki firasat jika ia pasti akan bisa menikah dengan Alex dan itu akan berlangsung segera.


Di sini di KUA.


Kantor yang hampir akan tutup tiba-tiba terbuka lagi dengan semua anak buah Alex termasuk sekertaris asistennya


Kenapa harus terasa mencekam seperti ini, batin salah satu pegawai kantor urusan agama.


"Kalian sudah selesai segera buatkan buku nikahnya secepatnya." Tekan asisten Alex dengan nada rendah tapi, terdengar mencekam di telinga pegawai kantor.

__ADS_1


Sampai Alex dan Nayla di kantor urusan agama dan langsung melangkah turun dengan Nayla yang terus menolak di ajak Alex untuk masuk.


"Lepas! Aku tidak mua menikah denganmu!"


"Tuan!"


Alex berhenti menatap kebelakang memiringkan tubuhnya.


"Tolong lah, Pahami aku, Kita bahkan tak mengenal aku tak menyukaimu, Aku bahkan tak mau menikahimu bukan karena aku tidak mencintaimu saja, Aku tahu batasan antara kasta dan tingkat kita di mata masyarakat sosial dan Anda pasti tahu tak mungkin darah biru bersatu dengan rakyat biasa seperti aku yang sama sekali tak ada sedikitpun darah biru di dalam diriku, Mengertilah aku orang biasa dan aku sama sekali tak mau, tuan!"


Alex mengeraskan rahangnya. Entah kenapa rasanya ia, merasa benci jika Nayla sangat merendah seperti ini berucap dengan nada tenang nya yang kalimat ia ucapkan juga panjang.


"Ikut ti aku dan menurutlah atau kau akan menerima hal yang tak akan pernah kau bayangkan sebelumnya."


Nayla terdiam dengan ancaman Alex yang begitu terdengar serius tanpa menatap bahkan wajahnya bicara sudah berpaling membelakangi Nayla.


Alex kembali menarik tangan Nayla melangkah masuk kedalam gedung.


Tidak ada penolakan lagi dan Alex merasa kali ini Nayla sangat patuh padahal ia sendiri yang baru saja memaksanya masuk dengan tangan terus di gandeng hingga duduk dan bicara dengan penghulu juga beberapa orang-orang penting untuk menjadi saksi pernikahan dadakan sekaligus akan selamanya.


Nayla yakin jika pernikahan ini akan menjadi yang begitu membuatnya terasa begitu menyakitkan. Perasaan Nayla tak nyaman dan terasa begitu buruk.


Setiap harinya pasti akan terasa seperti neraka.


Nayla melirik Alex di sebelahnya begitu tegas dan berwibawa bahkan dari samping tatapan hingga bentuk wajahnya yang penuh keyakinan membuat Nayla tak bisa meragukan jika ini hanya permainan. Ia mengatakan kontrak tapi, kenapa perasaan senang juga sedih lebih besar menguasai hampir seluruh tempat di hatinya. Nayla meremas ujung bajunya diatas pangkuan, kencang sampai urat di punggung tangannya terlihat.


Seketika ayahnya datang dan itu membuat ayahnya semakin terkejut.


Alex menoleh menatap Nayla yang tertunduk.


"Kau bisa memulainya segera." Suara asisten Alex yang melihat ayah Nayla yang mematung di belakang kedua pengantin yang akan melangsungkan pernikahan.


"Putri ku." Pelan terdengar sedih sambil melangkah pelan di kawal dua orang bawahan Alex sampai duduk didepan Alex.


Nayla terdiam dengan wajah bingung masih menatap kebawah.


Tiba-tiba jabat tangan terjadi Nayla dengan santai tanpa tahu siapa didepannya.


"Ayah."


Keduanya saling menatap matanya berkaca-kaca.


Ayah mengangguk menatap sang putri.


"Maafkan ayah nak, Ayah tak bisa berbuat banyak." Bisisknya.


Nayla menatap benci Alex sampai akhirnya Akad itu berlangsung dengan baik dan lancar.


Suara Sah, menggema di ruangan tempat mereka mengadakan akad. KUA sampai di perhatikan orang yang mondar mandir didepan karena begitu banyak mobil dan orang dengan pakaian rapi, seperti sedang mengawal orang penting. Bahkan tukang jualan makanan gerobak berhenti hanya untuk berharap ini adalah pejabat dan pasti akan jajan banyak.

__ADS_1


Kenyataannya kalo Alexzavero Garendra berada disana dan kebanyakkan dari warga tidak tahu wajah Alexzavero Garendra.


__ADS_2