
Sampai di kantor Alex langsung membawa Nayla masuk dan itu membuat beberapa karyawan bertanya-tanya.
"Bos?" Ketika Beno ingin memberikan kursi roda dan saat pintu lif terbuka ternyata bosnya sudah ada disana. Dengan cepat masuk dan Beno menekan kembali tombol dan Alex meletakkan Nayla di kursi roda yang Beno bawa.
Alex merenggangkan ototnya dan menatap tajam Nayla mengambil alih dorongan dari tangan Beno tak perduli jika tangannya masih mengeluarkan darah sekalipun.
"Tangan anda?" Alex melirik tajam.
"Apa pekerjaanmu beres."
"Semua rapat penting di tunda dua jam kedepan dan Dokter Rafa sudah menunggu anda di ruangan anda."
Alex keluar begitu lift sampai di lantai ruangan.
"Bawakan pakaian ganti untuk Nayla dan aku juga minta OG mengirimkan makan siang keruanganku."
Beno segera pergi menjalankan tugasnya.
Di ruangannya Rafa terkejut dengan Nayla dan Alex yang terlihat begitu parah.
"Kau tidak menjualnyakan lalu berubah pikiran?" Alex menatap sinis Rafa.
"Kau pikir aku untung menjual dia, dia tidak ada harganya di pasar gelap, Cantik tidak bahkan sangat membosankan." Nayla semakin membenci Alex dan Alex menyadari hal itu.
"Kenapa kau membiarkan putranya Cakra membawanya."
"Kau pikir ini putra yang mana, dia putra kandung Cakra bukan putra dari istri lainnya dia sangat pintar bahkan dia menghabisi banyak wanita untuk di jadikan hasil karyanya yang menyeramkan."
Rafa bergidik.
"Nyonya silakan saya bantu membersihkan lukanya." Perlahan Rafa mengobati luka dan memar di tangan kaki juga luka di wajah Nayla yang ternyata terkena serpihan kaca.
"Terimakasih Nyonya karena bekerja sama. Sekarang semua selesai. Beristirahat dulu sebentar dan saya akan bicara empat mata dengan suami anda." Di akhiri senyuman manis.
Saat semua luka bersih dan tertutup perban, sekarang Rafa dan Alex keluar ruangan dan tak lama seorang wanita paruh baya masuk membawa nampan dan kantong coklat.
"Nyonya mari saya bantu." Nayla tersenyum malu. OG itu membantu Nayla mengganti dan membantu makan siang.
Di depan ruangan istirahatnya Alex dan Rafa bicara empat mata sambil mengobati luka di telapak tangannya.
"Kau terlalu ceroboh bahkan kau tak bisa membuat musuhmu untuk tak menyentuhnya, Sayang secantik itu harus terluka."
"Kau pikir aku tahu, dia saja yang ingin selingkuh dariku."
Seketika Rafa menekan obat merahnya di luka Alex membuatnya meringis.
"Yang namanya selingkuh itu tak ada niat dia terjadi begitu si wanita suka dan lelakinya juga bahkan yang kulihat kau bahkan tak membiarkan Nayla menyukai siapapun dan meminta Nayla untuk terus bergantung padamu." Alex mendengus. Rafa menatap tajam sikap kekanakan seorang yang dewasa tapi, kalo jatuh cinta gila buta dan obsesi semua halal.
"Kau bahkan menikah dengannya sebentar, Kau tak ada niatan membatalkan kontrak." Ucapannya lagi-lagi membuat Alex terdiam dan enggan menjawab.
__ADS_1
Tiba-tiba Rafa terhenti merasa instingnya tentang ucapan Alex akan tak mengenakan.
"Aku akan mencari penggantinya dan menikah lagi aku akan membiarkannya bebas setelah enam bulan atau setengah tahun kurang lebih ini berkas tahta Garendra aku pegang sepenuhnya."
Nahkan benar apa Rafa bilang, Rafa pikir nih otak temannya memang harus di rombak atau doa untuk membuat orang menyesal sedemikian rupa ada tidak ya?
"Kau akan menyesal!" Sinis Rafa.
"Tidak akan pernah." Jawaban angkuh Alex membuat Rafa pasrah dengan gelengan kepalanya.
"Bergantilah pakaian setidaknya setelah memberikan obat lukamu tak begitu perih jika terkena air."
Alex melangkah pergi mengambil paper bagnya dan masuk ruang istirahatnya dan melihat Nayla makan di temani OG.
Nayla tak melihat Alex, pura-pura saling tak kenal.
Di depan Beno dan Rafa bicara di ruang khusus merokok.
"Semua tak ada yang berpihak pada pernikahan Alex ataupun Nayla bahkan orang tua Nayla pun tak terdengar kabarnya."
"Tidak, Fa... Kau tahu semua orang sedang mencari tahu dengan siapa Nayla menikah termasuk tetangga yang sangat tak menyukai Nayla. Jika ibu tirinya sibuk mengurus keluarganya ia seperti bahagia tak ada Nayla diantara mereka. Zulfikar kemarin mengabarkan jika Ayahnya harus menjalani oprasi ring jantungnya dan kau tahu Dipto yang menangani pengobatannya."
"Nekat juga?" Rafa kembali menghisap rokoknya.
"Tak ada yang baik atau tak ada yang buruk jika aku bisa mendukung aku akan biarkan Nayla dengan Dipto."
"Apa kau bilang?" Sentak Beno tak terima dengan aura dinginnya.
"Laah apa lagi pikirkan lah?" Jawaban santai juga pertanyaan bersama Rafa ucapkan dengan sangat santai.
Di dalam ruangannya di depan meja kerjanya Alex menatap kosong ruangan didepannya atau warna sofa didepannya.
"Kenapa rasanya sangat kesal bahkan apa ini perasaan kecewa untuk Nayla?" Alex menggeleng dan menelpon Beno untuk keruangannya dan bersiap untuk rapat.
Di tempatnya yang kini sedang kedatangan dokter mengobati lukanya.
Cakra di temankan Darma menatap kesal Dipto.
"Kau tinggal membawanya keluar negeri dan kau tak akan bertemu dengan Alex."
"Kau pikir mudah, Nayla punya masalah kesehatan dimana di penerbangan manapun kesehatannya sudah terdaftar tak bisa terbang." Jawab Dipto menatap Darma tajam.
Darma tak menyangka ada masalah kesehatan dimana orang itu sama sekali tak bisa tebang. Ini aneh.
Di tempaynya Zulfikar kedatangan petugas bandara membawa satu amplop coklat yang begitu agak tebal.
"Tuan Laporan semua maskapai penerbangan tentang nama Dipto dan Nayla sudah saya buatkan laporan terperinci hingga deskripsi jelasnya."
"Baik, Terimakasih." KataZulfikar lalu bergerak pergi dari ruangan di rektur utama dan sempat menjabat tangan sebelum pergi.
__ADS_1
Di ruangan rapatnya Alex menatap semua orang yang terlihat terntunduk dengan perasaan malu. Mereka mengakui jika banyak kesalahan yang mereka timbulkan.
Alex benar-benar tak bisa membiarkan Farhan mengacaukan perusahan lagi dengan terus memberikan pengaruh penyakit jamurnya.
"Sangat menyusahkan." Kesalnya seketika berdiri membenarkan jasnya.
"Kalian bereskan semua masalah yang terdapat sangkut pautnya tentang Farhan dan perusahaan atau semua sudaranya yang masih berhubungan dengannya. Aku tak mua ada yang tersisa semua harus pergi dan menghilang, mengerti?"
"Siap pak, kami paham." Sahut mereka bersamaan dengan tenang. Menatap kedepan dimana Alex berdiri dengan gagah dan terlihat kedua tangannya di perban. Alex bahkan mengacuhkan tatapan iba para sekertaris orang-orang yang rapat dengannya barusan.
Nayla sudah duduk di sofa memeriksa semua laporan juga pekerjaan Alex lalu merapikan meja dan juga membersihkan berkas yang harus di hancurkan setelah di baca dan di sahkan karena tak boleh tersebar jadi segera di hancurkan saja.
"Kau ingin lepas dariku."
Seketika Nayla menoleh kebelakang.
"Aku tak mengerti.
*
Perjalanan pulang kerumah sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
Sebelum masuk keruangannya setelah dari rapat Alex menghampiri Zulfikar yang terlihat berjalan kearahnya. Mereka bicara di ruangan Beno.
"Ini semua data penerbangan Nayla dan semua maskapai mendengarkan apa kata bos, mereka melarang Nayla terbang bahkan serempak kompak memberikan pernyataan masalah kesehatan Nayla sudah terdaftar di pusat dan tidak dapat terbang."
Penjelasab zulfikar membuat Alex senang tapi, juga membuatnya masarah karena Dipto sungguhan akan membawa Nayla jauh darinya.
"Beri mereka bonus akhir tahun dan hari besar lebih dari kemaren karena kerja mereka cukup baik."
Alex keluar begitu saja dari ruangan Beno setelah mengatakan itu. Alex menghampiri Nayla dan bertanya apakah ia ingin bebas dari Alexzavero.
Nayla hanya menanggapi, apa maksudmu?
Alex benar-benar merasa jika ia aneh hari ini.
Tak terasa mobil sampai di depan rumah dan Alex juga Nayla turun dari mobil bersamaan. Alex memberikan kunci mobil pada penjaga garasinya.
Di dalam rumah Nenek tiba-tiba keluar dan menyambut kepulangan Alex.
"Bagaimana kabarmu, dan kenapa tanganmu terluka nak?" Alex melepaskan pegangan tangan Nenek yang hampir menekan luka tengahnya di telapak tangannya.
"Aku baik Nek hanya luka kecil besok akan sembuh."
Nenek melirik Nayla dengans enyum mengembang.
Darma juga merasa sesuatu ada yang merenggang dan akan terdengar suara talak sepertinya.
Nayla mengikuti Alex yang juga pamit pada nenek sebelum pergi ke lantai dua kamarnya.
__ADS_1