![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Deevan bercakap-cakap bersama Si Mbok. Deevan juga mengamati foto yang terpajang di sepanjang dinding megah ruang tamu itu. Seorang gadis cantik nan manis, serta anggun tengah tersenyum ke arah kamera.
“Senyumnya nggak ngebosenin dari dulu sampai sekarang,” batin Deevan.
“Cantik ya Non Kayla. Tapi kasihan sekarang malah banyak yang ngatain. Padahal Non Kay juga nggak pernah salah,” celetuk Si Mbok yang menyadari jika Deevan memandangi foto Kayla.
“Iya Mbok, karena Kayla terlalu baik makanya dia malah ditindas,” jawab Deevan.
“Den, Si Mbok minta tolong jagain Nona kalau di luar rumah… si Mbok nggak tega kalau lihat Non Kay nangis tiap pulang,” ujar Si Mbok menggenggam jemari Deevan.
“Mbok tenang saja, saya pasti jagain Kayla,” jawab Deevan.
“Kamu pasti bisa Kembali seperti dulu Kay,” batin Deevan.
Setelah beberapa saat berbincaang, datanglah Kayla dengan membawa map kecil berwarna coklat di tangannya. Kembali ke bawah, ia sudah berganti pakaian. Sepertinya Kayla menyempatkan dirinya untuk mandi terlebih dahulu. Deevan segera mengajak Kayla pamit sebelum hari semakin malam.
Kayla menyerahkan map coklat itu kepada Deevan setelah mereka masuk ke mobil. Deevan yang awalnya berniat untuk lang sung pulang, memutar kemudinya untuk ke tempat Dokter Kevin. Deevan ingin segera mengecek potensi penurunan Kayla. Lebih cepat progress dibuat lebih cepat pula progress dijalankan.
“Malam dokter,” sapa Kayla dengan senyuman manisnya.
“Malam Kay… mari silahkan masuk. Kamu bantuin istri saya di dapur dulu Kay, saya mau ngobrol dengan Deevan sebentar,“ ujar Dokter Kevin.
Dokter Kevin mengajak Deevan ke ruang prakteknya. Dokter Keevin mengamati foto yang Deevan berikan.
“Nggak nyangka, dulu Kayla secantik ini,” celetuk Dokter Kevin.
“Sampai sekarang saja juga cantik,” jawab Deevan.
“Sejak kapan kamu main hati saat jadi coach Deev?” tanya dokter Kevin dengan senyum gelinya.
“Siapa yang pakai hati? Dokter saja yang tidak perhatian. Coba dokter lihat wajah Kayla, mulus, bersih, tanpa cela. Hanya postur tubuhnya saja yang berlebihan,” bela Deevan.
“Iya-iya saya percaya. Tapi saya lebih setuju jika kamu bersama Kayla dari pada bersama pacar kamu itu,” ujar Dokter Kevin.
__ADS_1
“Kayla akan sempurna sebentar lagi Deev,” sambungnya.
Deevan hanya memutar bola matanya jengah. Jika Deevan tengah malu digoda dokter Kevin, berbeda dengan Kayla. Ia tengah membantu istri dari Dokter Kevin untuk menyiapkan makan malam. Bukan membantu sebenarnya, tapi lebih dominan Nyonya Aida yang mengajari Kayla.
“Deevan kalau ngajarin Kayla suka marah-marah. Nggak kayak Tante yang sabar bener,” ujar Kayla yang kini mulai bisa mengupas buah apel.
“Hahaha, bukan marah sayang… Tapi gemas sama kamu,” jawab Aida istri Dokter Kevin.
“Kamu gigih banget nurunin berat badan, Tante salut deh! Bentar lagi kamu pasti berhasil Kay,” sambungnya.
“Aamiin, semoga aja Tante… Tapi Kayla udah buat Deevan marah lagi. Tapi itu murni kesalahan Kayla kok Tan,” ujar Kayla.
“Memangnya Kayla ngelakuin kesalahan apa?” tanya Aida.
“Aku makan makanan jalanan sembarangan sama makan mie instan,” jawab Kayla.
“Jangan diulangi lagi ya, hahaha” pesan Tante Aida.
Jelas saja jika Deevan murka besar. Siap-siap saja nanti sampai rumah dihukum habis-habisan oleh Deevan. Hahaha. Deevan tak main-main dengan ucapannya, ia akan mendisiplinkan muridnya yang berulah. Tenang saja, Deevan tak sekejam itu. Kita lihat saja apa nanti hukuman untuk Kayla.
“Waahh, enak nih kayaknya,” ujar Deevan.
“Enak dong! Kan dibantuin Kayla,” jawab Aida.
“Sepertinya bukan bantuin, tapi ngajarin,” sanggah Deevan.
“Jahat banget jadi Bos!” jawab Kayla tak terima.
Pulang dari kediaman Dokter Kevin, Kayla diberi waktu untuk istirahat oleh Deevan terlebih dahulu. Baru setelah itu hukuman untuk Kayla dijalankan. Deevan mengajak Kayla untuk berolahraga mala mini. Bahkan sekarang sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Dengan berat hati Kayla menuruti perintah Deevan. Karena memang itu kesalahannya.
Kayla menuju ke ruang olah raga terlebih dahulu, sedangkan Deevan menyiapkan cemilan untuk istirahat mereka nantinya. Suara deringan telepon begitu mengganggu Deevan saat mengupas buah di dapur. Dengan malasnya ia mencari sumber suara. Kamar Kayla sebenarnya tergolong jauh dari arah dapur, tapi kenapa nada deringnya bisa sampai dapur?
“Maaf Kay, bukan bermaksud lancang, nada deringmu mengganggu sekali,” gumam Deevan masuk ke kamar Kayla.
__ADS_1
Dicarinya gawai itu berkeliling kamar. Dari satu meja ke meja yang lain hingga tertujulah ke atas tempat tidur. Gawai itu masih terus berdering tak henti-hentinya. What! Mama? Mana mungkin Deevan mengangkatnya? Oke, kita biarkan gawai itu diam dengan sendirinya. Deevan hanya perlu mengubah gawai Kayla mode silent. Nanti setelah ke atas, baru ia berikan kepada Kayla.
Dugh!
Kress!
Deevan menendang sesuatu dari kolong tempat tidur. Betapa terkejudnya Deevan melihat satu kantong besar berisi ciki-ciki. Deevan naik darah seketika. Diambilnya satu kantong jajanan itu menuju lantai atas dimana Kayla berada. Dilihatnya Kayla tengah berolahraga tanpa menyadari aura menyeramkan dari Deevan.
“Bapak? Kok diem-diem bae udah naik?” tanya Kayla saat sadar jika Deevan sudah datang.
Pandangan Kayla tertuju pada kantong harta berharganya yang ada di genggaman Deevan. Wajahnya pucat pasi seketika. Kayla sudah berencana untuk membuang atau memberikan kepada Vino, tapi sudah ketahuan terlebih dahulu oleh Deevan. Kayla berjalan secara perlahan ke arah Deevan dengan gemetar.
“Apa ini?” tanya Deevan dengan nada menghakiminya.
“Pak…” lirih Kayla dengan wajah takutnya.
“Kamu kalau memang nggak serius mau menurunkan berat badan nggak usah menyetujui penawaran saya!” tegas Deevan.
“Pak… maaf,” lirihnya.
Hanya kata maaflah yang berhasil ia ucapkan. Karena memang itu salahnya.
“Nggak akan diulangi lagi, beneran…” lirihnya lagi memelas.
“Bapak… saya jarang makan itu kok, beneran…” sambungnya.
“Saya bukan bapak kamu.” jawab Deevan yang kini luluh melihat permainan popil eyes Kayla.
Dibuangnya bingkisan jajanan itu ke pinggir sofa.
"Ayo lanjutkan olah raganya!" ujar Deevan.
Kayla membuang napasnya lega. Tapi ia harus menanggung akibatnya. Ia harus menjalani konsekuensinya. Jika biasanya Kayla olah raga malam hanya dua jam, kini harus dua kali lipatnya. Tenang saja, Deevan tak sekejam itu. Ia tetap mendampingi Kayla dan memberikan waktu istirahat yang cukup.
__ADS_1
...Bersambung ...