![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
"Ini terlalu kecil untuk saya Mbak," lirih Kayla.
"Tidak Nona, gaun ini sangat pas untuk Nona pakai," ujar pramusaji itu lagi.
Setelah sekian lama beradu pendapat, akhirnya Kayla menyetujui karyawan butik itu. Dibantu salah satu karyawan, Kayla mengenakan gaun itu. Bukan hanya karyawan toko itu yang terperangah, Kayla sendiri juga terhipnotis dengan rupanya mengenakan gaun itu. Kayla yang tak pernah memuji dirinya, sontak terkagum-kagum melihat pantulan dirinya yang begitu cantik.
Terakhir kali ia mengenakan gaun seperti ini yaitu saat ulang tahunnya ke-17. Kini ia mengenakannya kembali. Kayla keluar ruang ganti disambut oleh beberapa pekerja di butik itu. Bahkan pemilik butik itu juga puas melihat rancangan terbarunya dikenakan Kayla.
"Boleh kami ambil gambarnya nona?" tanya pemilik butik.
"Kenapa harus saya? Saya pikir, akan lebih baik jika dikenakan model terpercaya," ujar Kayla.
"Saya rasa, model dadakan itu adalah anda. Nona begitu sempurna mengenakan gaun ini. Jadilah model kami Nona," jawab pemilik butik itu.
Kayla tersipu dibuatnya. Ia tak bisa.
"Jika tak mau, izinkan sekali ini saja menjadi model kami," bujuk pemilik butik itu lagi.
Kayla yang pada dasarnya tak enakan memilih untuk menyetujuinya. Beberapa gambar mereka ambil. Kayla yang pernah menjadi model sontak diarahkan oleh fotografer.
"Ada satu gaun lagi Nona," ujar karyawan butik kepada Kayla.
"Ini terlalu terbuka untukku," batin Kayla. Tapi tetap ia kenakan juga.
"Tenang Nona, untuk gaun yang kedua, saya hanya meminta Nona untuk mencobanya saja," ujar pemilik butik. Seolah tahu dengan pikiran Kayla yang berkecamuk.
Kayla lega mendengarnya. Tak apalah, sekali-kali ia mengenakan gaun terbuka. Hahaha.
Tepuk tangan mereka bersorak melihat Kayla keluar dari ruang ganti. Kayla benar-benar tak menyangka dapat mengenakan gaun seramping ini.
Kayla segera membayar gaun pilihannya. Ternyata sudah sangat lama ia meninggalkan apartemen.
"Nona, terima kasih sudah sudi mencoba gaun limited edition kami. Nona adalah orang pertama yang memiliki gaun ini. Karena gaun ini memang baru akan launching pekan depan." ujar pemilik butik.
"Tolong terima pemberian kami. Dan tidak usah membayar untuk gaun pilihan Nona," ujar pemilik butik itu sembari menyodorkan bingkisan berisi gaun merah yang dicoba Kayla tadi.
"Nggak bu, tidak, tujuan saya kemari memang untuk membeli gaun. Dan untuk yang tadi, saya hanya membantu saja," jawab Kayla menolak.
Kayla terus menolaknya karena merasa tak enak. Tapi pemilik butik itu terus membujuknya agar menerima.
"Kalau Nona tidak mau menerima gaun ini, Nona harus menerima tawaran transferan saya yang tadi," ujar pemilik butik itu.
"Jangan! Oke! Saya terima ini, tapi biarkan saya membayar untuk gaun pilihan saya," jawab Kayla spontan.
__ADS_1
Keluar dari butik, Kayla mengusap peluhnya. Padahal di dalam, AC tak mati sama sekali. Membayangkan jumlah nominal yang akan ditranfer oleh pemilik butik itu tadi, membuat Kayla sesak napas seketika. Apakah memang semudah itu menjadi model? Bayaran yang ditawarkan juga tak main-main. Sangat fantastis. Tapi Kayla tak percaya diri jika hari menjadi model permanen. Lebih baik menjadi penulis atau editor tulisan saja. Sesuai keinginannya dari dulu. Kayla bergegas kembali ke apartemen. Ia sudah menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam butik itu.
Memasuki apartemen, masih tergolong aman. Tak ada tanda-tanda keberadaan Deevan di sini. Mungkin manusia itu masih berkutik di ruang kerjanya. Kayla mampir ke dapur untuk mengambil buah apel. Barulah ke kamarnya.
Oke! Saatnya merenov diri. Sudah lama Kayla tak mendandani dirinya. Semoga saja peralatan make-up nya tak expired (kadaluarsa). Ia begitu puas dengan belanjaannya kali ini. Inilah definisi beli satu, gratis satu.
Kayla membuka berangkas make-up nya. Menata tepat di hadapannya. Mulai memoles wajahnya sedikit demi sedikit dengan hati-hati. Hingga sampailah di tahap terakhir, polesan lipstik yang tak terlalu tebal dan mencolok.
Daebak! Ternyata kemampuan Kayla belum luntur. Ia masih jago mengaplikasikan sapuan demi sapuannya.
Kayla melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Sungguh cantik. Tak henti-hentinya ia berhenti kagum kepada dirinya sendiri.
"Apa ya yang kurang?" gumam Kayla.
Benar! Kakinya masih menggunakan sandal rumahan bercorak doraemon. Kayla ingat jika dirinya pernah membeli high hills waktu liburan tahun lalu. Ntah mengapa dirinya begitu ingin membeli 👠tinggi seperti itu. Meski ia tahu saat itu ia masih gemuk dan kakinya tak pantas mengenakan itu. Ia pikir hanya untuk pajangan saja membelinya, tapi ia salah. Kini ia bisa mengenakannya.
"Semoga saja muat," lirih Kayla mulai memasukkan kakinya.
"Daebak! Ini sangat memuaskan!" sambungnya.
High hills itu muat di kakinya. Terlihat sangat pas, meski sedikit kebesaran. Yang awalnya tak muat, kini terlihat sangat cantik. Kayla melihat pantulan dirinya kembali. Rasanya tak bosan memandang. Padahal sebelumnya, ia tak mau terlalu lama di depan cermin.
Pelan-pelan ia berjalan sebagai permulaan, barulah ia berjalan ala-ala di catwalk diiringi dengan alunan lagu yang ia putar sedari tadi. Ia sangat puas dengan penampilannya.
Kayla menoleh seketika. Tampak Deevan sama-sama terpakunya melihat penampilan Kayla. Seolah waktu berhenti sejenak, mereka berdua sama-sama tak berkutik. Hingga Kayla mencoba menenangkan gemuruh dadanya. Ia mendekati Deevan yang masih memandanginya.
"Kenapa bisa secantik ini, jantung! Ayolah, kondisikan! Kenapa harus berdebar sih?" batin Deevan bergemuruh.
Tak biasanya Deevan masuk tanpa mengetuk pintu. Kenapa kini malah nyelonong masuk? Pelan-pelan Kayla berjalan ke arah Deevan. Hingga tiba-tiba kakinya tersandung kaki sebelahnya sendiri. Oleng sudah tubuhnya.
Dengan sigap Deevan menyambut Kayla yang hendak terjatuh. Deevan memeluk Kayla dengan eratnya. Tapi Deevan tak sanggup menahan keseimbangannya hingga terjatuh dengan Kayla di atasnya.
"Aduhh!" kepala Deevan terpentok daun pintu kamar Kayla.
"Bapak!!!" teriak Kayla segera bangun dan membantu Deevan untuk duduk.
"Nggak usah teriaak, mendengung nanti ini telinga," ujar Deevan.
Kayla masih sibuk mengusap rambut Deevan. Kini pandangan Deevan ternodai sudah. Bagaimana tidak? Tepat di hadapannya, dua gunung kembar terpampang dengan indahnya.
"Sudah-sudah, kamu mau ke mana dandan kayak gini?" tanya Deevan sembari mendorong kedua pundak Kayla agar menjauh darinya.
Posisi seperti itu mungkin saja membuat Deevan khilaf. Telapak tangannya mengelus kepalanya yang terbentur. Benar-benar membuatnya puyeng.
__ADS_1
"Iseng-iseng nyoba make-up Pak. Nantikan malamkan ada acara launching komik baru Bapak," jawab Kayla membenarkan posisinya agar pweenak.
"Siapa yang ngizinin kamu berangkat? Nggak! Kamu di apartemen aja! Biar saya saja yang berangkat," ujar Deevan.
"Lho! Nggak bisa gitu dong Pak! Kan saya juga ikut andil dalam pembuatannya," bantah Kayla.
"Saya bilang tidak ya tidak! Ayo makan, saya mau pergi mengecek persiapan acara nanti malam," jawab Deevan kemudian berlalu ke dapur.
"Saya nggak akan biarin orang-orang melihat pundak mulus dan wajah ayu kamu Kay," batin Deevan.
"Selamat Kay, kamu benar-benar berhasil merubah penampilanmu. Tapi kenapa aku tak rela jika kamu nanti pergi," batin Deevan bergejolak.
Selama di meja makan Kayla terus membujuk Deevan agar memberikan izin. Kini Kayla sudah menghapus make-up nya gaess. Deevan masih saja kekeh tak mengizinkan. Hilang sudah harapannya untuk makan besar di acara.
Selesai makan siang, Deevan langsung berangkat ke lokasi acara. Tinggallah Kayla sendiri di sini. Ia tengah memikirkan cara untuk tetap pergi. Ia tak mau hanya diam di tempat.
👠👠ðŸ‘
Menjelang malam, Deevan sudah kembali. Kayla tengah duduk manis sembari menonton serial drama favoritnya. Tentu saja ini sebagian dari rencananya. Agar Deevan percaya. Tanpa menyapa Kayla Deevan nyelonong masuk ke kamar. Sepertinya dia buru-buru sekali.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit, Deevan sudah rapi dengan setelannya.
"Pilihan kamu lumayan juga. Jangan coba-coba untuk kabur ke acara Kay! Saya berangkat dulu," ujar Deevan yang memuji sekaligus mengancam.
"Siap Bos!" jawab Kayla.
Kayla sengaja menyiapkan jas dan setelan Deevan. Bukan tanpa izin, tadi Kayla sudah meminta izin kepada Deevan untuk masuk ke kamarnya. Ntahlah, tiba-tiba Kayla ingin memilihkan pakaian untuk Deevan.
Kayla segera memastikan kepergian Deevan. Setelah dirasa aman, ia segera bersiap untuk dirinya. Tak lupa ia memberitahukan kepada Raka agar menjemputnya sebelum berangkat ke lokasi acara.
Satu jam sudah Kayla mempersiapkan diri.
"Omo! Bidadari dari mana ini? Semoga tak ada yang mengenaliku di sana," ujar Kayla.
Kayla bergegas merapikan rambutnya dan mengenakan high hills. Menyambar tasnya dan segera turun. Pasti Raka sudah menunggu lama. Benar dugaannya, Raka sudah menunggu di lobi.
"Aku benar-benar sedang menunggu seorang pitri kayangan," celetuk Raka melihat penampilan Kayla yang luar biasa.
"Sudah ayo! Kita sudah terlambat," jawab Kayla masuk ke mobil Raka.
"Kalau begini, tak akan ada yang mengenali Kakak," ujar Raka.
"Benarkan? Aku sedikit gugup. Takut orang-orang akan mengenaliku," jawab Kayla.
__ADS_1
Selama dua bulan ini Kayla memang sengaja tak bertemu dengan orang-orang kenalannya. Deevan ingin Kayla go publik dengan penampilan baru saat kembali ke kantor.
...Bersambung ...