![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Mau tak mau Kayla menurut. Tak enak ada banyak orang di sana jika ia harus mengabaikan Agam. Kayla menunjukkan arah di mana apartemen Deevan berada. Diselingi dengan obrolan-obrolan ringan di antara mereka. Hingga tak terasa sampailah mereka di depan gedung apartemen yang menjulang tinggi.
"Pokoknya terima kasih banget. Iyaa Mas, selamat malam," jawab Kayla setelah turun.
Agam tersenyum sumringah tak terlunturkan sedari tadi. Bahkan hingga kini ia melajukan kendaraannya setelah Kayla menghilang dibalik pintu masuk. Senyumnya tak luntur-luntur juga. Kayla memilih untuk duduk di pos security yang ada di lobi terlebih dahulu. Mengobrol bersama para bapak-bapak adalah pembangun mood terbaru untuknya. Jokes bapak-bapak terkadang membuat Kayla memiliki kebahagian tersendiri. Hahaha. Hitung-hitung sebagai obat kangen terhadap ayahanda di rumah. Jika dipikir-pikir, dirinya belum pulang ke rumah di bulan ini. Beruntung tadi Kayla sempat membeli cemilan untuk bapak-bapak itu juga. Bukan Kayla yang membeli sebenarnya, melainkan Agam.
“Tumbenan Neng nggak bareng ama Mas Deevan,” ujar bapak satpam 1.
“Pak Deevan sibuk di luar kantor tadi Pak. Jadinya saya nggak bareng,” jawab Kayla.
“Kalau dilihat-lihat, Neng Kayla cocok bener lhoo sama Pak Deevan,” sambung satpam 2.
“Nggak usah ngadi-ngadi deh Pak. Pak Deevan udah ada pacar,” sanggah Kayla sedikit salting. Hampir saja dirinya tak bisa menutupi kegugupannya.
“Lagian orang tuanya Mas Deevan juga nggak setuju, siapa sih di sini yang tahu soal itu? Mendingan ama Neng Kayla aja,” jawab Bapak Satpam 1.
“Jangan gitu Pak, khayalnya saya ketinggian nanti, hahaha” jawab Kayla.
“Mas Deev!”
Ternyata yang dibicarakan muncul juga. Deevan melambai pada mereka yang ada di posko lobi. Menyapa sebentar kemudian mengajak Kayla kembali bersama. Bapak-bapak di belakang mereka tampak tersenyum melihat dua pemuda dan pemudi itu berjalan berdampingan. Tak ada yang berbicara, mereka fokus berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
“Dari tadi kamu ngobrol sama bapak-bapak itu?” tanya Deevan saat mereka memasuki lift.
“Iyaa Pak, ngobrol bareng,” jawab Kayla.
Memasuki apartemen mereka disuguhkan dengan keadaan apartemen yang cukup berantakan. Karena memang pagi tadi mereka tak sempat membereskan apartemen. Ditambah dengan bangun tidur yang kesiangan.
__ADS_1
Huuft! Deevan menghembuskan napasnya berat. Kehendak hati ingin langsung istirahat, tapi malah moodnya kembali buruk melihat kondisi apartemennya. Kayla mengusap lembut Pundak Deevan. Mengajak Deevan untuk bekerjasama, lebih tepatnya membagi tugas. Deevan ragu mendengar saran Kayla, karena Wanita itu setahunya tak bisa bekerja rumahan.
“Saya jamin nggak bakal ngerusan barang apapun,” ujar Kayla sembari mengangkat dua jarinya ,eyakinkan Deevan.
“Kita makan dulu, setelah makan baru bersih-bersih,” jawab Deevan.
Diletakkannya tas jinjing dan jas miliknya di sofa kemudian berlalu ke dapur. Kayla mengikuti Deevan ke dapur. Deevan melipat lengan bajunya agar tak terkena noda-noda laknat di dapur. Tentu saja itu membuat Kayla kalang-kabut salah tingkah melihat Deevan. Laki-laki itu bertambah sekian lebih tambap dengan keadaan seperti itu.
“Pliss deh! Napa sih Bos Gua bisa se-sexy iniii!” batin Kayla bergejolak.
“Bantuin saya ngupas bawang Kay,” ujar Deevan membuyarkan lamunan Kayla.
Kayla mengangguk patuh, mendekati Deevan yang memberikannya beberapa bawang-bawangan untuk dikupas. Kayla menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghempaskan pikiran kotor dari otaknya, dan mulai mengupas bawang. Sekali dua kali kupasan tampak aman-aman saja. Dikupasan selanjutnya, mata Kayla mulai berair bahkan kini sudah menggenang dan mengalir. Semakin diusapnya malah semakin perih. Kini ia bahkan merem-merem dan mulai meraba mencari keberadaan Deevan.
“Pa-paak- paakkk,” panggil Kayla.
“Jangan diusap, nanti tambah perihh,” lirih Deevan.
Dituntunnya Kayla ke arah wastafel untuk mencuci wajahnya. Setelah berkurang rasa perihnya, Deevan menuntun Kayla untuk duduk di meja makan. Memang ide buruk mengajak Kayla untuk memasak bersama.
“Gimana? Masih sakit?” tanya Deevan.
“Udah mendingan Pak, maafin saya ya,” jawab Kayla selirih mungkin.
“Kamu di sini saja ya, saya lanjutkan memasak,” ujar Deevan kemudian kembali kejajaran pantry.
Kayla menepuk jidatnya geram. Bisa-bisanya ia tak bisa membantu Deevan. Merasa tak enak, Kayla memberanikan diri mendekati Deevan. Tampak Deevan memicingkan matanya melihat Kayla, seolah berkata ‘Kenapa? Mau ngganggu saya lagi?’.
__ADS_1
“Saya mau lihat bapak masak,” ujar Kayla.
Deevan mengangguk menanggapi Kayla. Deevan tampak lihai mengoperasikan tiap alat yang ada di dapur. Kayla sampai insecure sendiri melihat laki-laki itu. Aha! Kayla ingat jika ruang tengah mereka masih kotor. Lebih baik Kayla membersihkan ruangan itu. Hitung-hitung membantu Deevan. Ia dulu di zaman sekolah masih melakukan piket mingguan, setidaknya ia masih bisa menyapu dan mengepel. Walaupun tak jago di dapur. Kayla berlari mencari sapu dan pel. Deevan sampai terlonjat kaget mendengar Langkah larinya, sampai geleng-geleng kepala heran.
***
“Kay? Ayo makan,” ajak Deevan mencari Kayla.
Kayla tepar di atas sofa setelah menyelesaikan pekerjaannya. Deevan yang melihat rumahnya sudah bersih tersenyum sumringah. Meski tak sebersih jika ia ataupun Si Mbok yang mengerjakan. Not bed-lah untuk pemula seperti Kayla. Deevan memandang wajah ayu perempuan itu yang masih terpejam dengan damainya. Hidung mancungnya, dan lihatlah bibir dengan lipstick merah itu. Cukup menggoda seorang Deevan. Deevan mengusap lembut hidung mancung Kayla untuk membangunkan.
“Emmhhh,” kayla mengerjap menyusaikan cahaya sekitar.
Mata indahnya mengerjap melihat wajah tampan di hadapannya. Apa dirinya masih bermimpi? Jika iya, ia ingin memperpanjang mimpinya.
“Ayo makan, makanannya sudah siap,” ujar Deevan.
Kayla mengusap matanya, ternyata ia sudah berpisah dengan alam mimpinya. Tak apalah, yang penting masih bersama Deevan. Kayla melepas blazernya agar lebih nyama. Menyisakan kaos putih polos pendek.
"Kay, besok temani saya menghadiri acara ya," ujar Deevan.
"Apa tidak dengan Nona Anggia Pak?" tanya Kayla.
"Saya butuh kamu yang bisa Berbahasa Perancis. Saya kenalkan kamu dengan salah satu rekan novelis dari Perancis," jawab Kayla.
Kayla berbinar mendengarnya. Jika benar, besok adalah perdana baginya bertemu novelis luar negeri. Kayla mengangguk semangat menyetujui.
Ting! Tong!
__ADS_1
...Bersambung...