![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Turun dari panggung, Kayla disambut oleh Mr Robert yang ternyata baru saja datang setelah selesai dari pertemuan sastrawan awal tadi. Kayla tampak memaksakan tersenyum menyambut uluran tangannya.
"Keren kamu Deev! Pilihan kamu benar-benar tidak bisa diragukan," ujar Mr Robert memeluk Deevan.
"Ini ulah Mommy Om," ujar Deevan pasrah.
"Kalian sudah tinggal bersama hampir 6 bulan, atau bahkan lebih, mana mungkin Papa tega melihat anak gadisnya tinggal bersama laki-laki yang bukan tanggungjawabnya," ujar Papa Kayla.
"Dari sini kalian bisa saling mengenal lebih serius kedepannya. Keputusan ke depannya kami serahkan kepada kalian. Tapi jangan sampai kamu permainkan anak Om, Deev! Tangan Om nggak akan segan-segan melayang kalau kamu sampai membuat Kayla menangis!" sambung Papa Kayla.
"Tapi Kayla nggak suka sama Pak Deevan Pa," lirih Kayla.
"Itu hanya perspektif kalian saja sayang, kami melihat ada cinta di antara kalian kok! Makanya kami buat keputusan ini," ujar Mama mengelus lembut rambut anaknya.
"Tapi nggak harus dengan jenjang pertunangan Ma, Pa," sanggah Kayla lagi.
__ADS_1
"Apa mungkin Papa akan diam saja saat tahu anak gadis Papa tinggal serumah dengan laki-laki lain? Apalagi tidur berdua! Beruntung Papa nggak menikahkan kalian langsung sekarang," ujar Papa.
"Tapi kami nggak melakukan apapun Om, just sleep together," ujar Deevan membantu Kayla berargumen.
"Apapun itu! Yang jelas itu sama saja tak pantas dilakukan. Sudahlah, kalian jalani saja terlebih dahulu, Oke!" ujar Papi Deevan menimbali.
***
Notifikasi handphone Kayla tak henti-hentinya berdering. Bukan hanya dirinya, tapi orang-orang di luar sana yang mengenalnya pasti juga akan kaget mendengar kabar ini. Kini Kayla tengah duduk di ayunan yang ada di balkon hotel sisi aula. Sembari mengamati cincin kalian yang melingkar di jemarinya. Ia bahkan tak tahu hendak melakukan apa kedepannya. Ia tak tahu harus senang atau tidak. Seharusnya ia senang laki-laki impiannya akan menjadi miliknya. Tapi Kayla tahu benar jika laki-laki itu masih memiliki perempuan lain.
"Minum dulu," ujar Deevan menyodorkan segelas minuman pada Kayla.
"Maaf ya Kay, saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini," lirih Deevan.
"Kita sama-sama dinginkan pikiran terlebih dahulu ya Pak. besok kalau sudah tenang, baru kita bahas lagi," jawab Kayla dengan senyumnya menutup kegaduhan di dalam benaknya.
__ADS_1
"Saya calon suami kamu lho! Masak iya dipanggil Bapak? Nggak ada panggilan sayang apa?" canda Deevan.
"Nggak usah ngelawak! Saya juga masih nggak habis pikir dengan kejadian hari ini Pak," sambung Kayla.
"Hahaha, iya-iya maaf," jawab Deevan mengusap lembut rambut Kayla gemas.
Tengah asik berbincang, tak jauh dari mereka duduk, tampak seorang laki-laki mengamati mereka dengan raut wajah kekecewaan. Diremasnya tangannya sendiri melihat pemandangan di depannya.
"Sepertinya ini waktuku untuk bertindak," gumamnya dengan terus melihat ke arah Deevan dan Kayla.
Selesai acara Mama dan Papa mengajak Kayla bersamanya. Awalnya Deevan sempat protes, tapi kalah telak dengan ucapan Papa Kayla.
"Ayo Kay, pulang," ajak Deevan.
"Sudah Deev, nanti kalau sudah halal baru boleh tinggal bersama lagi," ujar Papa.
__ADS_1
Sontak mereka tertawa melihat Deevan yang mencoba mengajak Kayla kembali ke hotel mereka menginap. Pembelaan dengan dalih kamar yang berbeda pun tak dihiraukan para orang tua itu. Kayla sampai malu sendiri dengan spontanitas ajakan Deevan tadi.
...Bersambung...