![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Sayup-sayup Deevan membuka matanya, sudah terlampau cukup dirinya tidur. Pandangannya langsung tertuju pada sang Momy yang duduk dengan menyilangkan tangannya. Duduk di sofa sebrangnya.
“Mom?” panggil Deevan dengan suara serak khas bangun tidurnya.
DEG!
Deevan teringat dengan posisinya kini. Semalam ia sempat terbangun, ia juga terkejud dengan posisi tidurnya yang memeluk Kayla. Tapi tetap melanjutkan tidurnya, tak ingin membangunkan Kayla. Bukan hanya memeluk lengan Kayla seperti posisi awal, tapi kini malah memeluk seluruh tubuh mungil Kayla.
“Moomm,” lirih Deevan dengan wajahnya yang sudah memerah tertangkap basah sudah dirinya.
“Syuuuth, jangan keras-keras, nanti menantu Momy bangun,” jawab Momy dengan berbisik pula.
“Sudah dua jam Momy nungguin kamu bangun, untung kamu dulu yang bangun, bukan Kayla,” Ujar Momy.
“Kamu apain menantu Momy? Kalian belum sah Deev,” bisiik Momy.
“Beneran Mom, kami Cuma tidur aja kok,” jawab Deevan yang tak berani bergerak, takut Kayla terbangun.
“Lihatlah Deev, meski sedang tidur pun dia tetap cantik,”
“Kamu harus segera menikahi Kayla Deev. Momy bakalan menyiapkan segalanya,” ujar Momy menunjukkan foto yang diambilnya tadi.
“Mom! Ini beneran nggak sesuai dengan yang Momy kira,” sanggah Deevan yang tak sengaja mengusik tidur Kayla.
Momy langsung menyembunyikan gawainya, mengubah posisi duduknya seanggun mungkin menyambut pagi sang calon menantu. Kayla mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya disekitarnya. Matanya melebar seketika saat di depannya sudah ada senyuman manis dari Ibunda Sang Bos.
“Tttanntee,” ujar Kayla tergagap.
“Pagi sayang, gimana tidurnya nyenyak?” tanya Momy dengan lembut, berbanding terbalik saat dengan Deevan tadi.
Kayla melihat ke belakangnya yang ternyata masih ada Deevan. Sontak Kayla berangsur duduk diikuti Deevan yang juga duduk di samping Kayla. Dapat dipastikan Kayla panik setengah mati melihat posisinya tidur dengan Deevan tadi.
“Tant,”
“Kalian pastil apar, ayo sayang Momy siapkan sarapan. Oh iya, Si Mbok tadi kemana ya?” potong Momy saat Kayla hendak berbicara.
Kayla dan Deevan sontak bertatapan satu sama lain. What! Si Mbok? Berarti bukan hanya Momy yang melihat? Kayla menutup wajahnya dengan telapak tangan. Sudah kepalang malu dirinya. Mengusap wajahnya kasar di hadapan Deevan. Deevan menghalangi tangan Kayla yang mengusap wajahnya dengan kasar.
“Jangan terlalu dipikirkan, mandilah, setelah itu sarapan dengan Momy,” ujar Deevan.
“Mana bisa nggak kepikiran Pak?” keluh Kayla kembali menutup wajahnya dengan telapak tangan.
“Bapak sih pakai meluk tangan saya! Udah coba dilepasin nggak bisa-bisa,” sambungnya.
“Ya maaf, saya-kan tidur, mana tahu kalau lagi meluk kamu,” jawab Deevan. Kayla memilih untuk segera ke dapur membantu Mommy Deevan.
“Adududuuu,” teriak Kayla, ternyata lututnya terasa semakin sakit setelah tadi malam.
“Masih sakit banget ya?” tanya Deevan panik.
“Ya iyalah Pak, gosong gini,” jawab Kayla sewot.
__ADS_1
Momy dan Si Mbok yang ada di dapur sampai berlari ke ruang tv mendengar jeritan Kayla.
“Ya Ampuuun! Ini kenapa Sayang? Kok bisa biru gini lututnya?” tanya Momy yang telah khawatir.
“Semalam nggak sengaja jatuh Tante,” jawab Kayla.
“Deev, bantu Kayla jalan,” ujar Momy.
Dengan cekatan Deevan memapah Kayla untuk berjalan. Tak tega melihat Kayla pincang, Deevan memilih untuk membopongnya. Tentu saja Kayla terkaget-kaget. Berbeda dengan Momy dan Si Mbok yang tersenyum nyengir melihat mereka.
“Hey! Bapak mau ngapain?” tanya Kayla saat Deevan kembali akan membopongnya.
“Bantuin kamu ke kamar mandi,” jawab Deevan santai.
“Nggak usah! Saya udah bisa sendirii, bapak keluar aja,” sanggah Kayla.
Mau tak mau Deevan menurut.
“Nanti kalau sudah telepon saya, nanti saya bant uke ruang makan,” ujar Deevan sebelum benar-benar keluar.
“Ini baru kepentok, gimana kalau bener lumpuh?” gumam Kayla sembari berjalan pincang ke kamar mandi.
“Amit-amit dah!” sanggahnya lagi.
***
Dengan perlahan Kayla berjalan ke dapur. Ia memilih tak memanggil Deevan, kasihan jika direpotkan terus-terusan. Tak lupa ia membawa tasnya. Setelah sarapan ia kana langsung ke kantor. Meski ia tau jika dirinya sudah terlambat sangat lama. Setelan yang Kayla pilih yaitu kaos putih polos dengan paduan blazer abu dengan celana hitam.
"Udah tahu kakinya pincang, masih aja pakai sepatu tinggi (👠)," celetuk Deevan melepaskan heels Kayla. Diambilnya sendal ringan di rak dan memakaikannya pada Kayla.
"Masak iya saya kerja pakai sendal Pak?" tanya Kayla.
"Berani dilepas, saya potong gaji kamu," ancam Deevan.
"Ancamannya nggak asik ih!" jawab Kayla kembali memakai sendal itu.
Mommy dan Si Mbok tersenyum-senyum melihat interaksi mereka. Kayla sadar kembali jika bukan hanya mereka berdua di ruangan ini.
"Ehm!" Kayla berdeham menutupi kegugupannya.
"Wuiiiihhh! Banyak bener Tante sama Mbok masaknya," celetuk Kayla.
"Iya dong, Mommy tahu kamu gak bakalan bisa makan puas kalau cuma sama Deevan. Iya kan?" jawab Momy Deevan.
"Bener bangeet Tanteee," sambung Kayla mendukung Tante satu ini.
Deevan memutar bola matanya jengah. Moomy-nya benar-benar pilih kasih jika dengan Kayla. Sarapan kali ini lebih menjurus ke arah makan siang. Karena kini memang sudah menunjukkan pukul 11. Momy rela sarapan siang demi bertemu dengan calon menantunya itu. Mereka sarapan dengan diwarnai perbincangan antara Momy, Si Mbok, dan Kayla. Tidak dengan Deevan, karena ia memang tak diajak berbincang. Deevan sesekali menimpali agar mereka sadar jika di ruangan itu tidak hanya para wanita, tapi ada satu lelaki.
“Kaylanya harus diantar sampai ruangannya Lho! Awas saja kalau Momy sampai tahu kalau Kayla jalan sendiri,” ujar Momy sebelum dua pemuda pemudi itu keluar.
__ADS_1
“Siap Bos!” jawab Deevan dengan sikap hormatnya bak abdi negara.
Jadilah kini Kayla dipapah Ketika berjalan.
“Nggak papa Pak saya jalan sendiri, saya masih bisa kok. Lagian, tante nggak lihat kita sekarang,” ujar Kayla Ketika mereka sudah memasuki lift.
“Moomy punya mata-mata banyak Kay, saya nggak mau susah kebelakangnya,” jawab Deevan.
Lagi-lagi Kayla tak bisa menolak. Ia hanya bisa pasrah saat Deevan membawakan tasnya kemudian merangkulnya untuk membantu berjalan. Kondisi kaki Kayla semakin membiru dibagian lututnya. Itulah yang membuat Deevan bersalah hingga kini. Ia terlalu kencang mendorong Kayla tadi malam. Bukan hanya satu lutut, tapi dua-duanya tampak memar.
“Kamu nanti masuk kantor sama saya seperti perintah Moomy,” ujar Deevan saat mereka hendak sampai di kantor.
“Tapp-” Kayla tak diberi kesempatan menyela.
“Kita beralasan kalau kita sedang ada kerja di luar kantor. Kamu menemani saya sebagai sekertaris,” sambung Deevan.
“Baik Pak,” jawab Kayla.
Di sinilah mereka sekarang. Di depan lobi kantor. Kayla masih dibantu Deevan untuk berjalan. Baru sampai pintu masuk pun mereka berdua sudah disambut oleh tatapan kebingungan para karyawan. Bagaimana tidak, Sang Bos besar tengah memapah sekertarisnya untuk berjalan.
“Mbak Kayla kenapa Pak?” tanya Bu Inggit salah satu manager pembukuan.
“Tidak sengaja tadi terjatuh saat menemani saya keluar lapangan,” jawab Deevan.
“Biar saya bantu,” ujar Bu Sonia lagi.
Diambil alihnya posisi Deevan yang memapah Kayla. Tak ada perbincangan selama perjalanan ke lantai mereka bertugas.
“Terima kasih Pak Deev sudah membantu saya,” ujar Kayla saat mereka keluar lift.
“Sama-sama” jawabnya kemudian berlalu ke ruangannya.
“Kamu beneran habis jatuh Kay?” tanya Bu Sonia.
“Ya bener bu, Bu Sonia mau lihat?” tanya balik Kayla.
Bu Sonia mengangguk. Dari pada dirinya terus menerka-nerka, lebih bai kia meelihat faktanya. Kayla duduk di kursinya dan mulai menggulung kain celana hitamnya. Lututnya sempat ia perban melingkar tadi. Niatnya supaya mengurangi gesekan antara kain celana dengan memarnya.
“Ya ampuun, ini mah bener-bener memar Kay, aku kira Cuma kesandung biasa,” celetuk Bu Sonia.
“Kalau kesandung ringan ya nggak mungkin saya sampai dipapah Pak Deevan Bu,” jawab Kayla.
Bu Sonia pamit undur diri setelah melihat luka Kayla. Percayalah, wawancara barusan pasti digunakan untuk bahan gopisan mereka para karyawan. Kayla melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertunda. Pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan pagi tadi, harus ia rekap dengan pekerjaan siang ini atau bahkan sampai sore?
"Ini, oleskan di memar kamu. Saya mau ke kantor Ayah saya ada meeting," ujar Deevan sembari memberikan salep luka kepada Kayla.
"Terima kasih Pak. Nanti jika ada yang mencari Bapak, saya sampaikan Bapak sedang ada keperluan di luar," jawab Kayla.
Deevan mengangguk dan bergegas pergi. Kayla kembali berkutat pada layar di depannya.
...Bersambung...
__ADS_1