The New True Beauty]

The New True Beauty]
Plagiat


__ADS_3

Sampai di bandara, Deevan segera meluncur ke kantornya. Tak lupa ia berpamitan dengan orang tuanya dan Kayla. Drivernya sudah menunggu di pintu keluar. Jika biasanya ia menggunakan mobil sendiri, Kini ia memilih menggunakan ojek online. Agar lebih cepat sampai di kantornya. Beruntung kopernya khusus untuk traveler, sehingga tak menyusahkan nya membawa. Perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya ia sampai di depan kantornya.


“Ini ongkosnya Pak, terima kasih!” ujar Devan memberikan beberapa lembar uang tunai untuk membayar ojeknya.


Dengan melongo bapak itu menghitung jumlah nominal yang ia dapatkan. Ini terlalu banyak untuk harga pengantarannya. Tergopoh-gopoh bapak itu menghampiri petugas keamanan di depan pintu masuk.


“Pak, saya ingin mengembalikan kembalian untuk Mas-mas yang saya antar-kan tadi, ini kelebihan banyak banget,” ujar bapak itu.


“Silahkan ambil untuk Bapak ya, biasanya beliau memang memberikan uang lebih untuk ojol yang ia pesan,” ujar satpam itu.


Dengan kegirangan bapak itu berterima kasih dan meninggalkan kantor itu. Tak disangka, hanya mengantarkan dengan jarak yang tak terlalu jauh, ia bisa bertemu dengan orang baik.


Sedangkan Deevan, selama berjalan menyusuri lobi hingga masuk ke lift tak henti-hentinya para karyawan membungkuk dan melihatnya terus menerus. Mungkin mereka syok ternyata bos mereka bukan orang sembarangan. Melainkan pewaris dari salah satu perusahaan terbesar di negara ini. Bukan hanya itu, berita pertunangannya dengan Kayla juga cukup menggemparkan. Bagaimana tidak? Sekretarisnya sendiri dan juga merupakan anak tunggal dari pengusaha sukses-lah yang menjadi tunangannya.


Sampai di ruang rapat, sudah siap setiap direksi untuk membahas kebocoran file produk terbaru mereka. Tak ada yang berani membahas mengenai hubungan Deevan dengan Kayla meski mereka semua penasaran. Mereka hanya diam menunggu rapat di mulai.


“Langsung saja kita bahas persoalan ini!” ujar Deevan setelah duduk.


“Kami sudah membahas mengenai plagiasi karya yang akan kita launching Pak, ternyata memang benar seluruh sinopsis dan juga lakon yang digunakan sama dengan milik kita.Bahkan setelah saya cek file yang ada di computer, sama persis. Tak ada perbedaan sama sekali. Hanya pada bagian terakhir yang berbeda, karena kita memang baru saja menyelesaikannya beberapa waktu yang lalu.” Ujar raka memberikan tanggapannya.


“Projek ini hanya saya, Kayla, Raka, dan Vino yang mengerjakan. Tidak pernah ada kebocoran seperti ini sebelumnya. Dan saya sudah menaruh kepercayaan penuh dengan mereka. Selebihnya itu tugas divisi publishing. Apa pendapat kalian mengenai hal ini?” tanya Deevan. Ia yakin pasti ada yang mencoba mempermainkannya.


“Kami bersumpah tidak ada kesalahan dipihak kami Pak! Kami benar-benar menjaga kepercayaan Bapak kepada kami, kami selalu menjaga keamanan setiap projek yang kami terima,” ujar manager publishing.


“Atau bisa jadi pihak yang sebenarnya sangat kita percaya itu yang tega membocorkan hal ini?” sambung yang lainnya.


Tak ada yang berani bersuara. Selama ini tak ada kendala sama sekali. Deevan berfikir keras mencari solusi. Tak ada satupun yang memberikan solusi di sini. Yang ada malah saling menyalahkan. Rapat dadakan tak membuahkan hasil sama sekali.


“Atau mungkin bisa diselidiki dari setiap divisi Pak, agar tidak terjadi saling tuduh menuduh dari setiap divisi. Saya pikir itu dulu yang bisa kita lakukan. Hendak menuntut pun kita belum memiliki bukti sama sekali,” ujar Raka.


"Itu jawaban yang saya tunggu sedari tadi! Sudah, saya tinggal rapatnya," jawab Deevan kemudian beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


Tak dapat dipungkiri, tubuhnya lelah sekali setelah acara tempo hari hingga perjalanan tadi. Tak sempat beristirahat ia langsung meluncur ke kantor. Deevan yang baru saja memejamkan matanya di tempat duduknya, kini sudah terusik dengan kehadiran Anggia.


"Baby... Kok jam segini kamu udah lemes banget sih?" tanya Anggia yang kini sudah duduk di pangkuan Deevan.


"Aku capek, belum sempet istirahat dari kemarin," jawab Deevan.


"Ada yang nyolong karya aku sayang... Mau menuntut pun percuma nggak ada bukti. Bahkan karya yang diplagiat itu belum aku publish," sambung Deevan dengan frustasi.


"Aku nggak lihat sekertaris kamu, dia nggak bantu kamu nyelesain masalah ini?" tanya Anggia.


"Dia lagi cuti," jawab Deevan sembari memijit pangkal hidungnya yang pusing.


Jika Deevan tengah sibuk dengan pekerjaan, berbeda dengan Kayla. Baru saja dirinya selesai membantu Budenya menyiapkan makanan untuk acara arisan warga di sekitar rumahnya. Ia bahkan tak sempat melihat gawainya sama sekali sedari tadi pagi.


Kayla duduk di samping Kak Rey yang kini juga tengah menanti kehadiran warga sekitar. Setahunya arisan itu untuk ibu-ibu, ternyata disini untuk umum. Kayla yang tak mengenal siapapun di sini hanya diam membisu terkadang menyahuti obrolan Kak Rey.


"Pacar kamu ini Rey?" celetuk salah satu ibu-ibu yang sudah datang.


"Masyaallah, kamu ganteng, eneng-nya cantik, nggak ada produk gagal ya di keluarga kamu? hahaha," celetuk ibu itu.


Kayla hanya tersenyum menimpali. Hal awkward merupakan rasa yang sangat dibenci Kayla. Biasanya ia akan happy di rumah ini. Tapi kali ini ia tak senang dengan suasana ini. Jelas sekali orang-orang memandangnya. Ia tahu jika saat ini posisinya merupakan orang baru, tapi orang-orang itu secara terang-terangan memandangi bahkan membicarakan dirinya. Tentu saja itu membuatnya risih.


Di penghujung acara Kayla memilih untuk duduk di ayunan samping rumah. Orang-orang di dalam tengah menyantap makanan yang disediakan. Ntah mengapa ia belum ingin mengisi perutnya.


"Permisi kak, boleh aku bergabung?" tanya seseorang menghampiri Kayla.


"Boleh, silahkan," jawab Kayla dengan senyumnya.


"Mau nggak kak? Aku bawa cemilan nih," ujar perempuan itu menawarkannya jajanan.


"Iyaa makasih, lagi pengen minum aja," jawab Kayla sembari mengangkat jus wortel plus tomatnya.

__ADS_1


Ina, nama perempuan yang menghampiri Kayla tadi. Katanya masih SMA, masih jauh di bawah Kayla tentu saja. Tua'an Kayla maksudnya. hehehe


Banyak Kayla dan Ina berbincang. Hingga acara di dalam selesai. Bahkan Ina masih bersama Kayla saat orang tuanya pulang. Semakin lama semakin asik obrolan mereka. Sampai Bude membawakan cemilan dan minuman lagi untuk mereka. Kayla masih setia dengan jus buatannya tentu saja.


"Dek! Lusa jadi pulang?" tanya Kak Rey ikut bergabung dengan mereka. Bukan hanya Rey, tapi juga dengan temannya.


"Jadi kak, nggak enak libur kelamaan nanti," jawab Kayla. Matanya sempat bertatapan dengan teman Kak Rey.


"Kenalin ini Ilham, temennya Kakak sama abangnya Ina," ujar Kak Rey memperkenalkan temannya.


"Hay Kak, salam kenal aku Kayla," sapa Kayla menyambut uluran tangan Ilham.


"Ini toh, kakak yang kamu ceritain tadi dek?" sambung Kayla pada Ina. Yang ditanya pun hanya nyengir menanggapi.


Kayla pikir perbincangan mereka akan sangat awkward, ternyata tidak. Ilham ternyata cukup humble, meski tak seceriwis adiknya. Tengah asik berbincang tiba-tiba gawai Kayla berdering.


Vino? Ada apa anak itu menghubungi Kayla?


"Maaf, sebentar ya Kak," ujar Kayla meminta izin mengangkat teleponnya.


"Hallo? Ada apa Vin?" tanya Kayla.


"Sebenarnya Pak Deevan melarang aku untuk ngasih tahu kak Kay. Tapi coba Kakak baca artikel yang aku kirim deh," ujar Vino.


"Oke-oke, aku baca ya," jawab Kayla kemudian menutup teleponnya.


Ia dapat mendengar kepanikan dari suara Vino. Dengan secepat kilat Kayla segera Kayla membuka link yang dikirimkan Vino.


"Ada apa Kay?" tanya Kak Rey penasaran.


"Nggak tahu kak, ini juga baru mau baca," jawab Kayla.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2