![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Kayla mengendus kesal mendengar tuturan Agam. Kayla yang sebenarnya menyukai kucing di sekitarnya mendadak tak menghiraukan keberadaan beberapa anabul lucu itu sama sekali..
Keluar dari café, Kayla disuguhkan dengan kehadiran Deevan bersama dengan Anggia tak jauh dari dirinya berdiri. Kayla yang awalnya tak mood mencoba untuk menutupi kebenciannya terhadap Agam. Kayla tersenyum manis menghampiri Deevan. Tapi sepertinya raut wajah Deevan-lah yang tak bersahabat.
“Siang Pak! Maaf saya baru bisa kembali ke kantor,” sapa Kayla.
“Saya nggak nyangka sama kamu Kay! Ternyata kamu dalang dari semua ini? Kamu yang membocorkan karya saya demi laki-laki b*adap di belakang kamu itu?” amarah Deevan membuncah seketika. Bahkan seolah terlihat kobaran api dari mata tajamnya itu.
Dengan sedikit bingung Kayla mencoba menjelaskan jika Bos-nya itu tengah salah paham terhadap dirinya. Ternyata Agam sudah berdiri di sisinya kini. Dengan muka sok polosnya.
“Buk-bukkan Pak! Bapak salah paham!” tangkas Kayla.
“Saya salah mempercayai kamu! Jangan pernah kamu datang lagi ke kantor saya! Urus saja laki-laki itu!” tegas Deevan.
“Satu lagi, SAYA PASTIKAN PERNIKAHAN KITA TIDAK AKAN PERNAH TERJADI!” tegasnya lagi dengan menekan disetiap ujarannya.
Selepas mengutarakan amarahnya Deevan langsung pergi meninggalkan Kayla yang masih speechless dengan kata-kata kasarnya. Kayla berbalik spontan menampar Agam dengan kekuatan ekstranya. Gara-gara orang itu Deevan menjadi salah paham. Setelah puas menamparnya Kayla langsung bergegas ke pinggir jalan dan menaiki taxi. Percuma juga jika dirinya mengikuti Deevan. Pasti tak akan diterima.
Kayla memilih untuk pulang ke rumah Mama Papanya. Dijalan Kayla hanya diam membisu. Supir yang mengerti dengan raut wajah masam milik Wanita ayu yang ia antarkan pun tak berani untuk sekedar menyapa. Benar-benar suasana yang teramat sangat canggung.
“Sudah sampai Neng,” ujar supir itu membuyarkan lamunan Kayla.
“Ini Pak, kembaliannya buat bapak saja,” jawab Kayla.
Memasuki gerbang utama Kayla sama sekali tak menghiraukan sapaan petugas keamanan yang berjaga. Ia hanya melenggang masuk ke rumahnya.
__ADS_1
“Tumbenan Si Eneng nggak nyaut ke kita?” celetuk Pak Samsul.
“Lagi datang bulan palingan,” jawab Pak Indro menimpali temannya bertugas itu.
Memasuki rumah, terdengar obrolan ringan dari arah ruang makan. Sepertinya Sang Mama sedang di rumah kali ini. Mama Kayla memang sudah tak sesibuk dulu. Usahanya yang sudahnya yang sudah berkembang dan karyawan yang cukup mumpuni membuatnya lebih sering memiliki waktu luang untuk ia habiskan di rumah.
“Sayang? Kamu udah pulang ta?” ujar Mama yang melihat anak sematawayangnya.
Kayla tersenyum simpul menanggapi Mama-nya. Kayla mengecup pipi Mama-nya sekilas dan segera naik ke kamarnya. Sang Mama yang melihat anaknya murung pun terheran-heran. Bahkan di sana ada Kak Rey dan Kak Ilham juga tak disapanya.
“Kenapa itu anak? Tante tinggal ke atas dulu ya Rey, Nak Ilham,” ujar Mama hendak menghampiri anaknya.
Kriet!
Dibukanya perlahan pintu kamar Kayla. Dilihatnya Kayla tengah berbaring tengkurap menenggelamkan wajahnya pada bantal yang ia kenakan.
Yang mendapat perlakuan itu pun hanya pasrah tanpa membantah sedikit pun. Kayla tengah dilanda bingung kali ini. Ia akan memberi tahu orang tuanya jika dirinya dipecat oleh calon suamminya sendiri atau tidak?
Sebenarnya ia senang akhirnya Deevan berupaya untuk membatalkan perniikahan mereka, tapi Kayla tak terima jika alasannya adalah fitnah akan dirinya. Ia tak bisa membiarkan harga dirinya tercoreng dengan tindakan yang tidak ia perbuat.
“Kenapa hey? Cerita dong sama Mama,” lirih Mama sembari mengusap lembut rambut Kayla.
“Kayla mau bantuin Papa di kantor deh Ma!” ujar Kayla.
“Serius? Tumben banget, dari dulu Papa minta kamu gabung ke perusahaan nolaknya mati-matian,” jawab Mama yang semakin syok.
__ADS_1
“Pengen aja, kayaknya Kayla udah cukup puas ngerasain kerja di penerbitan. Papa-kan udah janji mau nungguin aku di kantor,” ujar Kayla lagi.
“Iya-iya, nanti kita obrolin sama Papa. Papa pasti seneng akhirnya kamu mau ke kantor,” jawab Mama.
Oke! Sepertinya begini lebih baik. Biarlah Mama Papa tahunya Kayla sudah bosan di penerbitan. Ia tak perlu memberitahu masalahnya dengan Deevan.
Sedangkan di kantornya Raka dan Vino tengah tergopoh-gopoh meminta Deevan untuk menonton video CCTV ruangan Deevan yang berhasil mereka dapatkan.
"Saya sudah melihat video itu," ujar Deevan tiba-tiba.
Raka dan Vino pun bingung mendengar hal itu. Lantas mengapa Bos-nya itu masih nekat tidak mempekerjakan Kayla?
"Kalian bantu saya menjalankan plant B, Kayla sengaja tidak saya libatkan agar ia bisa rehat sejenak," ujar Deevan.
"Sudah benar dia ada di Bali, kalian malah membocorkannya," sambungnya.
"Bos! Bos udah menaruh hati ke Kak Kay ya?" jiwa kepo Raka menggebu-gebu.
"Mati saya kalau hatinya diambil," sanggah Deevan.
Raka mesam-mesem mendengar penuturan Bosnya. Ia merasakan ada sesuatu yang menjanggal antara Deevan dan Kayla. Ia yakin itu. Vino yang notabenenya kategori laki-laki coll sontak menoyor rekannya yang berbicara sembarangan itu.
"Terus Nona Anggia gimana Bos?" tanya Raka lagi tak kapoknya.
"Itu urusan saya Raka! Sana cepat selesaikan tugas kalian!" jawab Deevan meminta agar dua bujangan itu keluar. Vino lantas mengapit leher Raka dan menyeretnya keluar dari ruangan Deevan.
__ADS_1
...Bersambung ...