![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Sepeninggalan Deevan, Kayla diam mematung di tempatnya berdiri. Ia tak tahu harus melakukan apa, kemana, dan harus bagaimana. Hingga datanglah Pak Bagas dan Pak Handoko, salah satu petinggi perusahaan.
Kayla dan Vino membungkuk hormat menyambutnya yang kebetulan masih berdiri.
"Siapa gerangan Nona cantik ini? Aku baru melihatnya, apa kau karyawan baru di sini Nona?" tanya Pak Bagas.
"Saya Kayla Pak," jawab Kayla dengan senyumnya.
"Namanya sama pun tak apa, yang terpenting orangnya beda. Hahaha. Bos kalian sudah sadar ternyata, kalau sekretarisnya dulu memang bagus untuk dibuang," ujarnya.
Deg! Kayla gemetar seketika. Atasannya sama sekali tak berubah, mereka tetap semena-mena. Tahan Kay, tahan. Kayla menenangkan dirinya.
"Dia masih Kayla yang sama Pak," ujar Raka.
Pak Bagas tampak memicingkan matanya meminta penjelasan kepada Raka. Raka hanya mengangguk menimpali. Dua laki-laki paruh baya itu memandangi Kayla. Kayla yang dipandang pun tersenyum menimpali. Lebih tepatnya terpaksa tersenyum dengan hati yang dongkol.
"Apa kabar Pak," sapa Kayla.
__ADS_1
"Waahhh! Kamu operasi plastik?" celetuk Pak Handoko.
Kayla membulatkan matanya kaget atas ucapan laki-laki itu. Bisa-bisanya dirinya dikira oplas.
"Bagaimana mungkin tiba-tiba memiliki lesung pipi?" sambungnya mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi Kayla. Sontak Kayla memejamkan matanya.
"Bersihkan tangan anda dulu Tuan!" tungkas Deevan menepis tangan Omnya itu. Ntah dari mana, tiba-tiba Deevan kembali.
"Saya meminta kamu untuk ke ruangan saya," ujar Deevan pada Kayla.
Kayla membungkuk hormat kepada mereka yang ada di ruangan itu, kemudian mengikuti Deevan. Kayla benar-benar bersyukur Deevan datang.
"Saya nggak tahu kalau Pak Handoko mau menampar saya tadi. Saya nggak merasa berbuat salah," lirih Kayla.
Deevan dibuat melongo seketika. Menampar? Sekretarisnya ini mengira Pamannya akan menampar? Jelas-jelas tangan kotornya tadi hendak mengelus pipinya. Deevan menepuk jidatnya heran.
"Hubungi Vino dan Raka, kita adakan projek komik baru," ujar Deevan masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Baik Pak!" jawab Kayla.
Kayla menuju ke mejanya, segera ia menghubungi Raka dan Vino. Kayla memandangi mejanya sesaat, sudah lama sekali dirinya tak berada di sini.
Kini Kayla sudah berada di ruangan Deevan. Tentu saja bersama Raka dan Vino. Deevan sudah memiliki ide baru, komik yang akan mereka garap kembali. Dengan detailnya Deevan menjelaskan kerangka dan alur yang akan mereka buat nantinya.
Satu jam sudah mereka membahas projek baru, dan terhenti dengan kedatangan Anggia yang tiba-tiba sudah masuk. Meeting masih terus berlanjut, beruntung Anggia masih mau bersabar menunggu. Ia memilih menunggu Deevan sembari menyantap makanan yang ia ambil dari lemari pendingin.
Deevan yang kasihan melihat pacarnya, memilih untuk menghentikan rapatnya.
"Ada apa sayang? Aku masih sibuk," tanya Deevan. Hanya ada mereka berdua di ruangan ini.
"Kenapa udahan? Aku sabar kok nungguin kamu," jawab Anggia. Tak seperti biasanya, kini Anggia tampak pengertian.
"Aku kasihan sama kamunya, dicuekin," ujar Deevan.
Jika Deevan sibuk dengan pacarnya, berbeda dengan Kayla. Ia tampak berkutat dengan beberapa naskah yang harus disunting. Ditambah dengan gangguan para pegawai yang dengan sengaja mengunjungi mejanya. Alasannya memberikan file naskah, tapi sepertinya itu hanya alasan. Pasalnya mereka lebih banyak mengajak Kayla berbincang, bukan berbincang perihal pekerjaan, melainkan lebih ke arah hal tak penting.
__ADS_1
Hendak mengusir mereka pun tak enak hati, tapi ia sendiri terganggu. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang cukup menumpuk ini.
...Bersambung ...