![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Deevan segera masuk ke kantor dengan membawa buah-buahan yang sempat ia beli di supermarket sebelum sampai. Dibukanya perlahan pintu kantor agar tak mengganggu Kayla dan Vino. Deevan menangkap tindakan tak terpuji dari Kayla. Tampak Kayla tengah menyantap mie instan versi jumbo bersama Vino. Tunggu! Bukan hanya mie instan, tapi juga ada seblak di samping mie jumbo itu. Benar-benar harus diberi pelajaran perempuan itu.
“Sore! Waah! Enak ya makan sore-sore begini,” sapa Deevan dengan raut wajah seramah mungkin.
“Makan Bos! Enak bener seblaknya. Kedai pilihan Kak Kay bener-bener mantab!” jawab Vino dengan bahagianya yang terlihat.
Jika Vino dengan tenangnya mengajak Deevan makan bersama, berbeda dengan Kayla. Kini wajahnya sudah pucat pasi. Ia seolah tengah ketahuan mencuri kali ini. Padahal Kayla sudah mengajak Vino untuk makan di tempat tadi, tapi Vino bersikeras untuk makan di kantor. Kayla pikir Bosnya tak akan datang ke sini, karena memang sudah sore. Tapi dugaannya sama sekali tak benar.
“Iya? Enak banget ya? Boleh dong saya coba?” tanya Deevan mendekat ke meja Kayla.
Dirampasnya sumpit Kayla dan mulai menyendokkan seblak ke mulutnya. Enakkah? Iya, memang enak, makanan instan hampir semuanya enak. Kayla masih setia mematung di samping Deevan. Benar-benar habis dirinya nanti. Vino masih sasik menikmati seblaknya sendiri.
“Buat Bos aja ya seblaknya. Saya sudah kenyang, hehehe,” ujar Kayla lirih.
“Nggak! Saya maunya makan sama kamu,” jawab Deevan yang kini menarik kursi Raka untuk duduk di samping Kayla.
“Berani kamu main umpet-umpetan seperti ini dengan saya Kayla,” bisik Deevan tepat di dekat telinga Kayla.
Sekujur tubuh Kayla merinding mendengar bisikan Bosnya itu. Habis sudah dirinya. Perasaannya mulai tak enak, sepertinya nanti ia akan dihabisi oleh bos sekaligus coach-nya itu. Dengan gemetar, Kayla menyuapkan makanan ke mulutnya dari wadah yang sama dengan Deevan. Kayla melirik ke arah Vino yang tak merassa keberatan sama sekali menyantap makanannya. Vino sama sekali tak menyadari rasa gemetar yang Kayla rasakan.
Kayla tak merasakan kenikmatan sama sekali selama memakan makanannya. Deevanlah yang menghabiskan makanan itu, tapi auranya masih sama menakutkannya. Hingga menjelang petang, Vino pamit untuk pulang. Karena pekerjaan dan makanannya telah habis. Tinggallah Kayla dan Deevan di sini. Kayla semakin menciut dibuatnya. Tampak Deevan menatap Kayla dengan tatapan menghakimi. Kayla diam menunduk menerima tatapan Deevan. Ia mengakui jika dirinya salah.
“Kamu bayar kesalahan kamu di rumah! Ayo kita pulang,” ujar Deevan kemudian berlalu keluar kantor.
Kayla mengikuti Deevan setelah memastikan kondisi kantor sudah aman. Ia tak berani menyahuti Deevan sama sekali. Hingga dirinya ingat jika ia harus ke rumah orang tuanya mengambil foto untuk dokter Kevin dan mengunjungi Papa Mamanya.
__ADS_1
“Pak, saya harus mengunjungi Mama Papa,” lirih Kayla.
“Saya antar, tapi kamu tidak boleh menginap. Kamu harus tanggung jawab dengan lemak-lemak yang kamu isi tadi,” jawab Deevan tanpa menghadap ke arah Kayla sedikit pun.
Kayla mengangguk pasrah. Oke! Bulan ini ia tak usah tidur di rumah. Ia hanya perlu melihat orang tuanya sebentar saja. Selama perjalanan hanya alunan musik akustik yang terdengar. Itu pun Kayla memberanikan diri untuk menyalakannya. Terasa horror apalagi jika tak ada alunan lagu itu. Deevan benar-benar marah, pikir Kayla.
Tak sengaja pandangan Kayla tertuju pada beberapa kantong plastik di jok belakang berisi buah-buahan dan beberapa minuman yogurt. Kayla tahu sekarang! Bos-nya pasti sibuk di kantor utama menyiapkan acara peluncuran komik. Makanya ia tak sempat pulang atau ke kantor cabang untuk memberi makan siang untuknya.
Harusnya Kayla tak sepenuhnya salah dong! Karena jadwal makan siangnya dilupakan. Makanya ia mengajak Vino membeli makanan. Jika tidak, ia bisa kelaparan menunggu Deevan yak pasti. Oke! Kamu tak perlu merasa bersalah Kayla!
“Bapak nggak bisa dong diamin saya gini! Di sini Bapak juga salah tidak memberikan saya makan siang! Kalau saya kelaparan gimana? Makanya saya beli makanan instan. Toh saya tidak bisa masak kalau beli bahan baku!” protes Kayla tiba-tiba.
“Kamu sudah dewasa Kay. Kalau kamu tidak bisa memasak pun, kamu bisa membeli buah-buahan di dekat kantor. Saya tahu saya juga salah. Saya tudak bisa 24 per 7 selalu bersama kamu,” jawab Deevan dengan tenang. Bukan itu yang Kayla harapkan. Ia tak bisa melihat bosnya jika menampakkan wajah bersalah itu. Sangat cute!
“Bapak kenapa masuk gerbang?” tanya Kayla.
“Kamu membiarkan Bos kamu menunggu di pinggir jalan? Di mana adab kamu?” serka Deevan.
Kayla diam sesaat berpikir.
“Bapak tunggu di sini ya… Mama saya galak kalau bertemu orang asing, serius!” ujar Kayla beralasan.
“Saya Bos kamu Kay! Kamu anggap saya orang asing?” protes Deevan.
“Eh! Bukan gitu Pak, maksudnya, maksud saya, orang baru! Iya, benar! Orang baru,” jawab Kayla gelagapan.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Deevan, Kayla berlalu ke rumahnya. Meninggalkan Deevan yang menggelengkan kepalanya heran.
Berulang kali Kayla memanggil Mama dan Papanya. Tapi sama sekali taka da sahutan. Hingga datanglang Si Mbok yang setengah berlari menghampiri Nonanya itu. Ternyata Mama dan Papanya sedang keluar.
“Sepertinya Tuan dan Nyonya akan makan malam di luar Non, Mbok gak boleh masak juga soalnya. Jadinya Si Mbok Cuma masak untuk orang di belakang saja,” ujar Si Mbok.
Kayla manggut-manggut kecewa. Padahal ia ingin memeluk Mamanya.
“Ayo kita pulang!” ujar Deevan yang ternyata sudah ada di belakang Kayla dan Si Mbok.
Sontak Kayla terlonjak kaget dibuatnya. Bisa-bisanya Deevan masuk ke rumahnya walaupun sudah ia larang. Si Mbok tak kalah terkejudnya dibuat Deevan. Kita pulang? Kalimat itu mengganggu jalan berpikir Si Mbok.
“Pulang? Nona satu asrama dengan laki-laki?” lirih Si Mbok dengan syok.
“Mbok, nggak mbok! Dia teman kantor Kayla. Asrama Kayla satu jalan dengan rumahnya dia. Tadi Kayla nebeng mobilnya dia. Mobil Kayla mogok,” jawab Kayla beralasan.
“Oalaah! Mbok kaget Non. Ya sudah, Den Bagus silahkan duduk dulu, Mbok bikinkan minum dulu,” ujar Si Mbok menuntun Deevan untuk duduk di sofa ruang tamu.
Kayla menatap ke arah Deevan sinis. Beruntung Si Mbok percaya dengannya. Ditinggalkannya Deevan sendiri bersama Si Mbok. Kayla harus ke kamarnya untuk mengambil album foto mininya.
Deevan bercakap-cakap bersama Si Mbok. Deevan juga mengamati foto yang terpajang di sepanjang dinding megah ruang tamu itu. Seorang gadis cantik nan manis, serta anggun tengah tersenyum ke arah kamera.
“Senyumnya nggak ngebosenin dari dulu sampai sekarang,” batin Deevan.
...Bersambung...
__ADS_1