The New True Beauty]

The New True Beauty]
Makin Cantik?


__ADS_3

Kayla membungkuk sopan menyambut kedatangan Agam. Kayla dapat melihat pemandangan mata Deevan yang sudah mulai tak mood dengan kehadiran Agam.


"Pak Agam datang kemari sendiri?" tanya Kayla basa-basi.


"Nggak, tadi saya sama sekretaris saya, sepertinya sedang ke kamar mandi," jawab Agam.


Kayla manggut-manggut menimbali. Ia tak tahu harus membahas apa lagi. Suasana di sini begitu awkward. Ditambah dengan Deevan yang tak mau membuka percakapan sama sekali. Jadilah kini Kayla hanya tersenyum canggung pada Agam yang juga mengambil makanan.


Deevan yang melihat Kayla bersama Agam sontak mengajaknya duduk di meja yang ada di balkon hotel. Angin yang semriwing menghembus membuat kulit Kayla yang tak tertutup baju sedikit menggigil.


"Saya boleh bergabung?" tanya Agam yang kembali menghampiri Deevan dan Kayla.


Kayla yang notabennya tak enakan pada orang tentu saja menyetujuinya. Deevan yang melihat Kayla mengelus lengannya tampak sadar jika wanita itu kedinginan. Deevan melepaskan jasnya dan mengenakannya pada Kayla. Diantara mereka tak ada percakapan. Hanya sesekali Kayla menjawab pertanyaan dari Agam.


Tiba-tiba Deevan mendapat telepon dari Mami-nya. Mau tak mau ia sedikit menjauh dari jangkauan Kayla dan Agam.


"Kay, ayo ikut saya!" ujar Deevan setelah menutup teleponnya. Ia tak senang melihat orangnya tampak akrab dengan Agam.


Ia meletakkan piringnya kemudian mengambil alih piring Kayla juga. Digenggamnya pergelangan tangan Kayla untuk mengikutinya. Mau tak mau Kayla mengikuti Deevan yang berjalan sedikit lebih cepat.

__ADS_1


"Kita mau kemana Pak?" tanya Kayla setelah memasuki mobil.


"Mommy sama Papi ada di Bali juga! Ada acara peresmian hotel katanya. Saya disuruh ke sana sama kamu," jawab Deevan.


"Sejak kapan kamu kenal sama laki-laki itu?" tanya Deevan tiba-tiba.


"Laki-laki yang mana ya Pak?" tanya Kayla tampak berpikir.


"Ooohh, sama Pak Agam? Ketemu beberapa waktu lalu di cafe baru dekat kantor Pak," sambungnya.


"Kamu dekat sama dia?" tanya Deevan lagi.


"Jangan terlalu dekat dengan dia! Saya nggak suka," ujar Deevan tiba-tiba.


"Kenapa Pak?" tanya Kayla.


"Saya bilang jangan ya jangan!" tegasnya lagi.


Kayla mengangguk menuruti Bosnya. Sepertinya mood Sang atasan benar-benar sedang tak baik. Deevan mengajak Kayla berhenti di salah satu butik terlebih dahulu untuk mengganti pakaian mereka. Tampak Kayla tengah memilah satu demi satu pakaian yang terjejer di depannya.

__ADS_1


Tak sabar dengan Kayla yang sangat lama memutuskan membeli barang yang mana, Deevan berinisiatif mengambilkan beberapa pakaian untuk dicoba Kayla. Beberapa kali Kayla mencoba pakaian yang dipilih Deevan, tapi sampai yang ke tujuh belum ada yang disetujui olehnya.


Hingga pilihan yang ke sembilan jatuh pada dress berwarna cream dengan perpaduan brokat dan selendang tile di sisi sampingnya.



Deevan kembali memakaikan jasnya pada Kayla agar pundaknya tak terekspos. Ia tak ingin orang lain melihat kulit mulusnya, tapi pilihan dressnya jatuh pada dress dengan pundak terbuka. Solusinya yaitu dengan menutupinya menggunakan jasnya.


Sedangkan Kayla tampak sibuk membenarkan gaunnya yang cukup merepotkan menurutnya.


"Kenapa malah kayak gaun kawinan sih? Perasaan cuma pesta biasa deh," batin Kayla melihat kembali pada gaunnya.


Jika tadi Deevan membawa mobilnya sendiri, kini ia meminta supir untuk membawanya dengan Kayla.


"Kalau saya pakai jas Bapak buat nutupin pundak, kenapa nggak pilihin dress yang tertutup aja sih Pak? Atau kalau perlu pakai hijab aja sekalian," ujar Kayla yang tadinya hendak melepaskan jas Deevan tapi dicegah olehnya.


"Kamu makin cantik pakai dress ini," jawab Deevan singkat.


Sukses membuat pipi Kayla merona.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2