![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Kayla sudah siap dengan pakaian cassualnya yang sempat ia ambil kemarin dari lemari Mamanya. Tinggallah polesan Terakhir, lip-balm untuk melembapkan bibirnya. Meski sebenarnya tak kering sekering gurun pasir.
Kayla melongokkan kepalanya di balik pintu kamar. Melihat posisi Deevan saat ini. Dilihatnya tak ada tanda-tanda Deevan di sofa tempat mereka tadi. Dengan mengendap-ngendap, Kayla keluar sembari menenteng tas selempangnya.
"Hyaa! Ngapain ngendap-ngendap gitu? Kayak mau maling aja," ujar Deevan mengageti Kayla yang baru saja keluar dari kamarnya. Pantas saja ia tak menemukan Deevan, dia baru saja muncul dari dapur. Yang tentunya tak terlihat dalam penglihatannya.
"Saya mau keluar Pak, ada yang mau dicari," jawab Kayla sedikit kaget karena ulah Deevan.
"Saya ikut! Tunggu sebentar," ujar Deevan langsung ke kamarnya.
Kayla hanya diam membisu melihat penampilan yang sudah rapi dengan setelan kaos hitam dengan perpaduan jins kotak-kotak mocca yang terlihat sangat pas ia pakai. Hanya sekejap Kayla menunggu, si empunya sudah kembali di hadapannya.
"Bapak yakin, mau ikut?" tanya Kayla memastikan.
"Iyalah, saya bosan di rumah terus! Ayo!" jawab Deevan yang kini sudah berjalan mendahului Kayla keluar.
"Tapi yang saya cari banyak Pak," ujar Kayla mencoba mencegah Deevan agar tak ikut. Bisa gerogi ia, jika bersama Deevan terus.
"Saya temani sampai malam pun tak apa," jawab Deevan tanpa menoleh ke arah Kayla.
Oke! Kayla sudah menyerah. Ia turuti saja kemauan bosnya itu. Selama perjalanan tak ada dari mereka yang berniat untuk membuka percakapan. Mereka sama-sama bergelut dengan pikiran masing-masing. Hingga timbullah rasa jenuh di antara mereka.
"Pak!"
"Kay!"
Secara bersamaan Kayla dan Deevan saling memanggil. Salah tingkah kembali terjadi di antara mereka.
"Ehm! Kamu dulu," ujar Deevan.
__ADS_1
"Saya minta maaf atas kejadian tadi," lirih Kayla dengan menunduk. Ia tak berani memandang langsung ke arah Deevan. Tangannya terus bermain dengan ujung dressnya untuk menutupi kecanggungannya.
"Saya juga, saya sendiri tidak tahu, bagaimana saya bisa berpindah ke bawah bersama kamu," jawab Deevan. Kayla hanya mengangguk menimpali ujaran Deevan.
"Kemana tujuan kita sekarang?" tanya Deevan.
"Pusat perbelanjaan kota Pak," jawab Kayla singkat.
Diputarnya kemudi menuju tempat yang Kayla maksud. Tak berselang lama akhirnya sampailah mereka di salah satu Mall ternama di kota itu. Mall yang terkenal dengan kelengkapan barang-barang yang diperlukan konsumennya.
Deevan mengenakan masker sebelum turun. Memang selalu seperti itu, untuk antisipasi jika bertemu dengab karyawannya. Bukan karena apa, tapi gengsinya begitu besar jika bertemu bawahannya. Bukan perkara baru untuk Kayla, ia tentu saja sudah tahu. Beberapa kali dirinya menemani Deevan untuk membeli perlengkapan kantor bersama.
"Repot kalau jadi pusat perhatian lagi," celetuk Deevan.
"Narsisnya nggak ilang-ilang," gumam Kayla.
Deevan yang memiliki paras super tampan membuat para wanita terkagum-kagum melihatnya. Bahkan saat memakai masker pun sering kali masih menjadi pusat cuci mata para perempuan. Beruntung Deevan memang benar-benar tampan, sehingga kenarsisannya tak sia-sia. Hehe.
“Saya sudah bilang beberapa kali Kay, jangan berjalan di belakang saya! Berjalan di samping saya!” tegas Deevan.
kayla mengangguk patuh, dan kembali berjalan. Kayla semakin risih diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya. Ia semakin bergidik ngeri saat ada laki-laki yang terang-terangan tersenyum smirk kepadanya. Sontak Kayla menggenggam erat lengan Deevan.
“Kenapa?” tanya Deevan.
“Ngeri lihat orang-orang di sini,” jawab Kayla asal.
Deevan melihat orang yang dimaksud Kayla, benar saja! Orang itu dengan terang-terangan menelisik memandangi Kayla. Deevan Kembali menggenggam jemari Kayla agar terasa aman. Langkah Deevan berhenti di sebuah perbelanjaan jam tangan. Sebenarnya yang memiliki rencana berbelanja itu siapa? Kenapa jadi Deevan yang memilih-milih? Kayla memilih untuk duduk di kursi tunggu melihat-lihat jam di etalase sembari menunggu Deevan.
“Bagus yang mana?” tanya Deevan yang sudah membawa dua kotak jam tangan.
__ADS_1
Pilihan Deevan memang selalu yang terbaik, disinilah peran Kayla, menentukan satu dari dua pilihan terbaik. Jam tangan branded buatan mancanegara ini membuat Kayla harus memahami masing-masing dari beberapa pilihan. Beruntung ia sudah terlatih. Tampak Kayla melihat tiap gaya, kualitas dan keunggulan masing-masing jam tangan itu.
“Bapak belum punya style yang ini, sepertinya juga cocok untuk Bapak.” Jawab Kayla memilih salah satu jam itu.
Deevan manggut-manggut menimpali. Sibuk mengamati setiap etalase, Kayla tersihir melihat salah satu jam tangan elegan tapi tak kalah cantiknya dengan yang lain.
“Mbak, jam tangan yang itu, saya coba lihat,” ujar Kayla sopan.
“Ini jam tangan lemeted edision Nona. Silahkan dicoba, sangat cocok dengan kulit Nona,” ujar pegawai itu.
Kayla tersenyum menimpali. Pegawai di stand ini sangat ramah, membuatnya senang berbelanja di sini. Kayla melihat lebel harga pada jam itu. Rp. 24.499.500,00! Daebak! Hanya seutas jam tangan saja semahal ini? Tak heran memang, tak mungkin pula Sang Bos akan mampir di kedai kelontong membeli jam lima puluh ribuan. Bukannya Kayla tak mampu membeli, hanya saja ia terlampau hemat semenjak bekerja sendiri. Ia tak mau uangnya dihamburkan hanya dengan pernak-pernik aksesoris.
“Beli saja, jam itu cantik kamu pakai. Saya rasa, jam tangan kamu juga sudah usang.” Celetuk Deevan.
Kayla melongo dibuatnya. Usang katanya? Wahh! Minta dihajar orang itu! Jam tangan pemberian Mama Papanya cukup banyak di rumah, makanya Kayla pikir dua bahkan tiga kali untuk membeli. Percayalah, jam tangan yang sering Kayla pakai pakai masih bagus. Karena memang Kayla rawat.
“Apa tabungan gajimu masih kurang untuk membeli itu? Tenang, akan saya naikkan bulan depan,” sambung Deevan.
Kayla semakin tak habis pikir dengan ujaran Bosnya itu.
“Saya rasa, ini bukan kebutuhan mendesak Pak, hehehe. Saya hanya melihat-lihatnya saja,” jawab Kayla.
“Terima kasih ya Mbak,” ujar Kayla mengembalikan kotak jam tangan itu kepada pegawai toko.
Kayla meminta izin kepada Deevan untuk keluar terlebih dahulu. Bisa-bisa ia tergiur beneran melihat jam-jam itu. Ia harus bisa hemat. Targetnya adalah membeli apartemen sendiri tahun ini. Sedangkan tujuannya keluar adalah untuk membeli perlengkapan kantor.
“Bungkus jam itu dengan milik saya tadi Mbak,” ujar Deevan sembari memberikan black card miliknya.
“Baik Pak, mohon ditunggu,” jawabnya.
__ADS_1
###
^^^Bersambung^^^