![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Deevan membukakan pintu Kayla, mempersilajkannya keluar. Tapi kaki Kayla ternyata sakit. Mungkin karena mengenakan highhills sambil berlari tadi.
"Auuhh! Sebentar Pak. Sakit banget, nanti saya nyusul ke atas deh!" ujar Kayla memijit kakinya.
Deevan berjongkok di hadapan Kayla. Kayla tentu saja syok melihat perlakuan Deevan. Ia membuka sepatu Kayla, dilihatnya tumit kakinya sudah lecet. Pantas saja Kayla meringis sedari tadi.
Dengan sigap Deevan membopong Kayla dari mobil.
"Bapak! Jangan gitu! Dilihat orang-orang nanti! Pak!" teriak Kayla yang berusaha turun dari gendongan Deevan.
Mau tak mau Deevan menurunkan Kayla.
"Aduuhh,"
Sekali menapak, terasa sudah sakit di tumitnya. Kayla bertumpu pada Deevan untuk menahan tubuhnya.
"Kalau dikasih tahu itu didengerin," ujar Deevan kembali membopong Kayla.
Kali ini ia diam. Menenggelamkan wajahnya di dada Deevan agar tak terlihat orang. Hanya mereka berdua di dalam lift. Itu membuat suasana semakin akwoard.
Sampai di apartemen Kayla didudukkan di sofa. Deevan segera mengambil kotak P3K. Berjongkok di depan Kayla dan mulai melepaskan high hillsnya. Kayla sudah meringis menahan rasa perih.
"Kenapa pakai sepatu tinggi banget sih?" tanya Deevan mulai mengobati luka.
"Biar maching sama gaunnya Pak. Lagian sayang nggak dipakai, kalau udah beli," jawab Kayla.
"Aauuuhhh, perih bangeet," lirih Kayla.
"Kalau gini, kaki kamu yang kasihan. Dah, selesai," jawab Deevan, menyelesaikan tugasnya.
Devan mengembalikan kotak obatnya. Merasa canggung jika hanya diam, Deevan memilih mengupas buah untuk cemilan. Dilihatnya Kayla tengah menonton tv. Dasar! Bukannya istirahat atau mengganti baju, malah menonton.
"Kamu minta buahnya nggak Kay?" tanya Deevan.
"Boleh!" Jawab Kayla.
Deevan membawa potongan buah itu untuk bergabung bersama Kayla. Ntah karena tak fokus, atau memang konsentrasinya yang tak stabil, Deevan menginjak sepatu hak tinggi yang tergeletak di lantai. Potongan buah itu terpelanting di berbagai arah. Sedangkan Deevan terhuyung ke depan.
Deevan terhuyung tepat di depan Kayla. Bukan! Melainkan menabrak Kayla.
__ADS_1
Cup!
Kedua benda kenyal itu saling bertabrakan. Jika biasanya orang berciuman akan merasa nikmat, berbeda dengan mereka berdua. Dua benda kenyal yang bertabrakan dengan lumayan kencang akan menyisakan rasa ngilu yang luar biasa.
Cklek!
“Astagaaa!!!! Kalian ngapain!!!” teriak Momy Deevan dengan tak kalah kagetnya.
Kayla mendorong Deevan dengan spontan. Yang didorong pun lantas terjungkal di lantai.
“Aduh!” keluh Deevan.
“Tante, tante, ini bukan sepert__ auuhh!” Kayla yang sudah panik, sampai terlupa jika kakinya masih sakit. Kayla yang hendak menghampiri Jassy sontak kesakitan.
“Astaga saying! Kamu kenapa?” teriak Jassy segera menghampiri Kayla yang kesakitan.
“Tante, tadi itu salah paham,” ujar Kayla menggenggam kedua tangan Jassy.
“Tenang dulu ya… itu kita bahas nanti saja. Sekarang kamu jelasin kepada Tante, kenapa kamu kesakitan?” jawab Tante Jassy.
“Orang lain dikhawatirin, anak sendiri jatuh nggak digubris!” protes Deevan.
"Ya ampuun! Tapi udah nggak papakan?" tanya Jassy lagi.
Sebenarnya Jassy hanya ingin mampir sejenak memberikan martabak yang ia beli bersama William tadi. Tapi ia malah disuguhkan dengan pemandangan yang aduhai. Tak ada rasa marah, ia justru senang melihat adegan ciuman tadi. Meski sebenarnya itu tak disengaja.
"Tante, tadi beneran cuma salah paham... Nih buktinya, bibir Kayla sakit gara benturannya keras. Tadi Pak Deevan kepeleset highhills aku, Apelnya juga berserakan," rengek Kayla.
" Kalaupun disengaja juga nggak papa kok." ledek Jassy.
"Mom," tegas Deevan.
"Ya sudah, ini martabaknya. Momy mau langsung pulang. Kasihan Dady nungguin di depan." pamit Jassy.
"By manis," sambung Jassy mengusap lembut rambut Kayla.
"Kamu bantu Kayla ke kamar nanti! Awas kalau Momy tahu kamu nggak bantuin," ancam Jassy sebelum benar-benar keluar.
Deevan menyimpan martabak bawaan Momynya di dalam kulkas. Tak akan ia biarkan Kayla memakan minyak-minyakan itu.
__ADS_1
"Ayo saya bantu ke kamar," ujar Deevan.
"Belum ngantuk!" jawab Kayla dengan bibir manyunnya. Tapi percayalah, itu justru membuatnya semakin lucu.
"kenapa? Kamu marah sama saya? Itu bukan murni kesalahan saya kok! Itu gara-gara sepatu kamu yang tergeletak sembarangan. Kamu pikir saya seneng ciuman sama kamu? hahaha. Yang ada malah kamu yang kesenengan mendapatkan ciuman perdana saya." oceh Deevan panjang x lebar x tinggi. Dan itu sukses membuat Kayla murka.
"Kyaakk! Mana ada saya seneng? Itu juga ciuman perdana saya asal Bapak tahu! Saya nggak rela ciuman saya diambil Bapak! Saya nggak senang sama sekali! Malah sakit yang ada!" tegar Kayla tak terima.
Sontak Kayla berdiri menahan perih di kakinya menuju kamarnya. Yang awalnya ada secercah rasa senang meski sakit, kini rasa itu sudah hilang seketika. Ia justru sebal mendengar tuturan Deevan. Ia tak menyangka Deevan akan berkata seperti itu.
"Sini saya bantu," ujar Deevan meraih lengan Kayla. Dan itu ditepis mentah-mentah oleh Kayla.
Deevan yang tak tega melihat Kayla tertatih, sontak membopongnya tanpa persetujuannya. Tentu saja Kayla berontak mencoba melepaskan diri. Deevan menurunkan Kayla tepat di atas ranjangnya. Kayla sendiri tak henti-hentinya berteriak dan berusaha turun. Deevan justru mengukung Kayla tepat di bawahnya. Menelisik tatapan Kayla.
Tentu saja hal itu membuat Kayla ciut seketika.
"Jangan sampai kaki kamu semakin cidera dan semakin merepotkan saya! Ganti baju dulu sebelum tidur, atau saya bantu menggantikannya?" ujar Deevan dengan penuh penekanan.
Kayla memberanikan diri untuk mendorong Deevan untuk kesekian kalinya.
"Bapak keluar!" ujar Kayla.
"Sebelum kamu siap dengan pakaian tidur," jawab Deevan.
Deevan tak mau Kayla kesulitan. Ia ingin membantunya. Setidaknya membantu untuk memapahnya.
"Nggak mungkin saya ganti baju di depan Bapak!" sewot Kayla.
Tanpa persetujuan Kayla, lagi-lagi Deevan bertindak absurd. Ia membuka lemari pakaian Kayla, dan memilihkan pakaian untuknya. Sedangkan Kayla tentu saja histeris.
"Pegang ini," ujar Deevan memberikan dress tidur kepada Kayla.
Lagi-lagi Deevan membopong Kayla menuju kamar mandi. Mendudukkannya di atas closet.
"Kalau sudah panggil saya," ujar Deevan menutup pintu kamar mandi.
"Itu orang punya hobi baru gendongin aku apa ya? Mentang-mentang udah kurus. Coba kalau masih jadi gajah. Dianggurin gua," gerutu Kayla mulai mengganti bajunya.
Dengan tertatih, Kayla kembali ke kamar. Ternyata Deevan sudah tak ada di sana. Syukurlah, ia bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
...Bersambung ...