![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Deevan tak paham dengan dirinya sendiri. Kenapa dirinya seolah kebakaran jenggot sendiri melihat Kayla berdekatan dengan laki-laki lain?Amarahnya seolah naik lebih tinggi saat melihat Kayla berbincang dengan laki-laki lain. Apalagi jika ditambah dengan senyumannya yang manis itu. Tak rela rasanya jika laki-laki lain melihat lesung dekik di pipinya. Ada apa dengan dirinya ini? Deevan mengusap rambutnya kasar. Gusarlah yang ia rasakan kini.
Deevan memilih untuk berkutik dengan pekerjaannya. Seharian ini ia belum mengecek email yang dikirimkan kepadanya. Benar saja, sudah banyak email yang belum ia cek. Dapat dipastikan malam ini ia harus melemburkan diri. Keberadaannya sebagai pewaris CEO memang belum ada yang mengetahui. Itulah mengapa ia tak bisa seenaknya meninggalkan kantor penerbitan untuk mengurus perusahaan sang ayah.
Jika Deevan tengah sibuk dengan pekerjaan sampingannya, berbeda dengan Kayla kini ia tengah asik menonton drama Korea terbarunya. Terkikik sendiri sembari melihat layar laptopnya. Sudah dua jam ia telungkup dengan menonton. Pastilah otot-ototnya tegang. Kayla menghentikan videonya terlebih dahulu. Bermaksud untuk merenggangkan ototnya. Air dalam tumbler minumnya pun telah kandas. Ia harus mengisinya ulang. Keluar darri kamar, suasana luar sangatlah sepi. Seolah taka da kehidupan sama sekali. Kayla sempat merinding sebentar melihat kegelapan ini yang memang seluruh lampu dimatikan meninggalkan lampu temaram saja.
Kayla memberanikan diri melangkahkan kakinya kea rah dapur. Secepat mungkin ia mengambil air dan bergegas kembali ke kamar. Bagai dikejar makhluk takkasat mata, Kayla ngibrit ke kamarnya. Hendak membuka pintu, tiba-tiba fokusnya terbuyarkan oleh sorot cahaya terang dari balik pintu ruang kerja Deevan. Kayla tak jadi masuk ke kamarnya lagi. Ia memilih untuk ke ruangan Deevan. Diketoknya pintu itu tapi tak ada sahutan. Dua kali hingga tiga kali tetap taka da sahutan. Kayla memberanikan diri membuka pintu itu. Betapa terkejudnya Kayla melihat Deevan tertidur di kursinya dengan kertas yang ia pegang. Dilihatnya jam yang tergantung telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Ternyata lama ia menghabiskan waktu untuk menonton.
Didekatinya Deevan dan diambilnya kertas yang ia pegang. Betapa tampannya laki-laki ini, apalagi dengan paduan kaca mata yang bertengger dengan miring bersanggahkan hidung mancungnya. Kayla tersenyum melihat laki-laki yang ia sukai itu. Kayla melepaskan kaca mata itu. Jemarinya bergerak halus menyusuri alis hingga hidung mancung mulus Deevan. Bulu mata Panjang Deevan juga menyita perhatian Wanita itu.
Pergelangan tangan Kayla dicekat Deevan seketika. Mata indah itu sudah terbuka kini. Jangan tanyakan bagaimana ekspresi Kayla, sudah pasti ia terkaget-kaget mengalami situasi seperti ini, matanya terbelalak seketika. Ntah kenapa dirinya bisa berani mengusik tidur Sang Pemilik Rumah. Kayla mencoba menarik tangannya, tapi sia-sia saja.
Deevan terusik dengan elusan lembut dari Kayla yang mengganggu istirahat sejenaknya. Deevan sedikit tercekat dengan dress tidur Kayla yang hanya menyisakan seperempat paha. Benar-benar menguji keimanan Deevan. Deevan sadar benar Kayla ingin dilepaskan tangannya, tapi Deevan justru menariknya hingga Kayla terduduk di pangkuannya.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Deevan.
Bukan sekedar bertanya, lebih tepatnya berbisik sembari meletakkan dagunya di Pundak Kayla. Kayla tertegang seketika. Geli, gugup, takut, bercampur menjadi satu. Apakah ia telah membangunkan singa kelaparan kali ini?
“Jawab Kay,” bisik Deevan lagi dengan suara khas bangun tidur. Tangan Deevan kini telah melingkar di pinggang Kayla.
“Ss-ss-ssaya lapar Pak,” jawab Kayla. Ia takt ahu harus menjawab apa. Ia tak tahu hendak melakukan apa masuk ke ruangan Deevan ini. Ia hanya menjawab asal kali ini.
__ADS_1
“Saya ngantuk, minggir!” ujar Deevan mendorong Kayla ke samping.
Kayla yang tak sempat bertumpu pada kakinya jelas saja tersungkur di lantai. Sontak Kayla memanyunkan bibirnya tak terima. Lututnya pasti biru terpentok lantai. Sakit sekali dirasanya.
Percayalah, Deevan tak bermaksud mendorong Kayla, ia hanya mencoba mengendalikan singanya, tak mungkin ia memperlakukan Kayla seperti itu. Deevan yang sudah kepalang malu sontak meninggalkan Kayla yang masih cemberut di lantai.
“Dasar! Gua tahu gua salah! Tapi nggak usah didorong juga kali!” geram Kayla saat Deevan telah keluar.
Belum selesai detak jantungnya bergemuruh, sudah diberikan kesan menjengkelkan oleh sang empunya. Kayla berjalan tertatih keluar. Dilihatnya Deevan tengah berkutik di dapur. Apa Deevan benar-benar akan memasakkannya? Tapi ini sudah malam,
“Kamu tunggu dulu, saya buatkan salad,” ujar Deevan.
Kayla langsung berjalan ke sofa ruang tv dengan tertatih. Lututnya benar-benar terasa nyeri. Kayla memilih menyalakan televisi agar tak terlalu sepi. Siaran yang ia pilih pun tak tentu. Sebentar-sebentar ia ganti, di jam segini memang taka da siaran yang sesuai dengan kehendaknya.
Tunggu! Tangan kirinya memegang kotak P3K. Deevan duduk di lantai menghadap Kayla. Mengelus lutut Kayla lembut.
“Maaf ya, gara-gara saya lutut kamu jadi biru gini,” ujar Deevan.
“Ehm-Ehm! Saladnya enak, Bapak mau nyobain?” Kayla mengalihkan pembicaraan.
“Kamu makan saja, setelah ini lekas tidur, sudah malam,” jawab Deevan sembari mengobati luka Kayla.
__ADS_1
Deevan duduk di sebelah Kayla setelah selesai mengobati lukanya. Ia menonton pertandingan bola sembari menunggu Kayla makan. Deevan yang notabenya sudah mengantuk lantas tertidur. Kayla berinisiatif mengambilkan selimut untuk Deevan. Menyelimutinya agar tak kedinginan, jujur saja Kayla sendiri merasa dingin karena mengenakan dress pendek. Kayla melanjutkan makannya yang masih banyak, jelas saja masih banyak, wong dirinya tak lapar, malah dikasih makan. Deevan menyenderkan kepalanya di Pundak Kayla, Kayla sadar benar jika Deevan tak sadar, tapi jantungnya kembali bergerumuh.
Diletakkan mangkuk itu di atas meja. Dan ia tak berani bergerak kembali. Takut mengganggu Deevan. Tapi tak mungkin pula ia biarkan Deevan seperti ini. Pelan-pelan Kayla menyingkirkan kepala Deevan, tapi sang empu malah terusik.
“Di sini aja Kay, semalam ini aja, aku udah ngantuk banget,” lirihnya sembari mengubah posisi menjadi berbaring. Sedangkan tangannya mencegah Kayla yang akan beranjak.
Ditariknya Kayla hingga terbaring di sampingnya. Deevan memeluk lengan Kayla dan kembali tertidur. Gemuruh detakan jantung Kayla kembali tak terkontrol. Ini benar-benar tak baik untuk kesehatannya. Ia masih berusaha melepaskan pelukan di lengannya, tapi percuma. Kayla melihat jam yang telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Gawat! Sudah menjelang pagi ini. Bisa-bisa ia mengantuk besok. Kayla yang tak bisa melepaskannya pun memilih untuk menyerah. Ia berusaha memejamkan matanya hingga kini ikut tertidur di sofa yang tak terlalu sempit ini.
###
CKLEK!
Sinar matahari sama sekali tak mengusik tidur dua sejoli yang telah berpelukan ini. Bahkan suara pintu utama dibuka pun tak mengusik mereka juga.
“Omo!” seru dua perempuan paruh baya menyaksikan penampakan di depannya.
“Nya, apa yang harus kita lalukan?” tanya Si Mbok kepada majikannya.
“HP Mbok, ini harus diabadikan,” jawab Momy Deevan.
Ya! Perempuan itu adalah Sang Ibunda. Selain terkejud, ia juga amat sangat bersemangat mengabadikan kelakuan putranya yang tengah tidur bersama gadis kebanggaannya. Bukan hanya tidur, tapi juga memeluk. Ia segera memotret putranya itu. Momy Deevan tampak tersenyum memikirkan rencananya yang sudah pasti akan berhasil.
__ADS_1
...Bersambung...