The New True Beauty]

The New True Beauty]
Agam


__ADS_3

Kayla memang sedekat itu dengan Kak Reyhan. Sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Kayla yang merupakan anak tunggal tentu saja ingin memiliki saudara dekat. Kak Reyhan-lah yang paling dekat dengannya. Sering kali Kayla curhat pada kakak sepupunya itu.


***


Disebuah kamar penginapan, seorang laki-laki baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat berat, pusing juga tengah ia rasakan saat ini. Disaat dirinya hendak beranjak, barulah teringat jika dirinya bersama Anggia sedari malam tadi. Dibukanya selimut yang ia kenakan, benar saja dirinya bug*l kini. Bajunya dan juga milik perempuan itu juga masih berserakan di lantai.


Agam mengacak rambutnya frustasi. Ia mabuk semalam, dan kembali melakukan hal biadab itu dengan Anggia. Sejak dirinya bertemu sosok Kayla, ia sudah bertekad untuk tak melakukan hal itu. Setelah tadi malam, ia malah kembali melakukannya.


Berulang kali Agam memukul kepalanya, untuk menghilangkan pengar.


"Bodoh Kamu Agam!!! Bodoh!" rutuknya pada dirinya sendiri.


"Ngapain kamu berakhir di tempat tidur bersama Anggia lagi!!" gerutunya lagi.

__ADS_1


Ini memang sudah kesekian kalinya Agam tidur bersama sahabatnya. Ya! Anggia merupakan sahabat Agam, yang tentu saja tanpa sepengetahuan Deevan. Anggia adalah sahabatnya sedari kecil. Mereka tumbuh dilingkungan yang sama. Setelah orang tua Anggia meninggal, ia dirawat oleh orang tua Agam. Kuliah di negara tetangga yang terlampau bebas, membuat mereka hilang kendali saat mencoba minuman beralkohol itu.


Agam memilih untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk bekerja. Pekerjaannya tertunda akibat acara semalam. Ditambah dengan melihat acara tunangan wanita idamannya, membuatnya frustasi.


Agam mengerjakan ketikannya yang terakhir setelah menyegarkan tubuhnya. Sebulan ia merencanakan publikasi karya sastranya yang baru. Balkon menjadi tempat pilihannya mengetik. Butuh waktu tiga jam ia bisa menyelesaikan part terakhirnya. Selama tiga jam itu pula ia tak beranjak dari tempat duduknya.


"Huufft! Selesai juga! Kita lihat reaksi kamu Deevan!" gumam Agam mengirimkan filenya, kemudian menelepon pekerjanya di kantor.


...----------------...


"Lha kenapa kok berhenti. itukan impian kamu Kay jadi komikus dan penulis, harusnya kamu itu bisa buktiin kalau kamu layak buat kunyuk itu," jawab Kak Rey.


"Kunyuk apaan?" tanya Kayla.

__ADS_1


"Ya calon suami kamu itu,"sambung Kak Rey.


Kayla memutar bola matanya jengah. Ntah bahasa Kakaknya yang beragam, atau bahasanya yang memang kudet. Reyhan menggenggam tangan Kayla mengajaknya jalan-jalan. Tak lupa ia meminta izin pada ayahanda mereka.


"Mau kemana sih Kak?" tanya Kayla dengan berteriak.


“Nanti kamu juga tahu sendiri,” jawab Kak Rey tetap memacukan sepeda motornya melewati jalanan yang cukup sepi siang ini.


Kayla mengencangkan pelukannya karena takut. Berulang kali dirinya meminta kepada Kakaknya itu untuk pelan-pelan, tapi tetap saja mengebut. Hingga kini sampailah mereka di pinggiran pantai yang tak terlalu ramai. Tepatnya di depan sebuah café. Mungkin karena hari sedang terik-teriknya.


“Dibilangin jangan kenceng-kenceng juga! Mana panas banget lagi! Akukan nggak bawa sunblock sama kacamata item!” cerocos Kayla dengan memukul Kakaknya beberapa kali.


“Adududuh! Sakit! Dari apa sih tangan kamu itu? Ini pakai topinya, biar nggak panasen!” keluh Kak Rey sembari mencegah pukulan Kayla dan mencari topi pantai yang tadi dirinya pinjam dari Sang Mama. Tak lupa dipakaikannya pada gadis di depannya itu.

__ADS_1


Pertengkaran mereka berdua tak luput dari pandangan Deevan. Ya! Mereka memang berhenti di depan café yang ditempatinya. Deevan tampak mengamati wanita itu. Ia tahu itu seperti Kayla yang ia kenal, tapi ia masih tak yakin. Anggia tak melihatnya karena posisinya membelakangi.


...Bersambung ...


__ADS_2