![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Penampilan memang cukup penting untuk kelangsungan hidup. Begitulah pikir Kayla. Ia sadar betul bagaimana perlakuan rekan kerjanya dulu padanya, hingga kini setelah penampilannya berubah. Sangat bertolak belakang. Mereka yang memberikan perlakuan tak enak kini malah memujanya. Khususnya mereka para laki-laki. Untuk mereka para kaum hawa semakin menunjukkan rasa tak sukanya atas perubahan ini.
Beruntung tidak semua dari mereka membencinya, hanya sebagian kecil, tapi cukup mengganggu.
"Kayla," panggil Deevan yang tiba-tiba sudah ada di depan mejanya bersama Anggia.
"Iya Pak? Ada yang bisa dibantu?" jawab Kayla.
"Saya mau keluar dengan Anggia. Kalau ada apa-apa hubungi saya," ujar Deevan.
"Baik Pak," jawab Kayla.
Pandangannya tertuju pada Anggia, tatapan tajamlah yang ia dapatkan. Kayla menunduk seketika.
"Biasa aja kali lihatinnya," gumam Kayla saat bosnya pergi.
Kayla melanjutkan pekerjaannya, sebentar lagi juga jam pulang. Jadilah Kayla pulang sendiri.
"Kayla? Gimana kalau kita ke cafe dulu?" ajak Ningsih salah satu teman di divisinya.
"Emm, aku nggak biasa minum sama temen kantor Ningsih," jawab Kayla.
"Pliiss Kay... Ada yang mau disampai-in sama temen-temen yang lain," ujar Ningsih lagi.
"Emm, okee, tapi aku nggak bisa lama-lama ya... Masih ada kesibukan," jawab Kayla.
"Oke! No problem,"
Jadilah kini Kayla bersama rekan-rekan koleganya berjalan ke cafe dekat kantornya. Sejujurnya Kayla tak nyaman di sini, tapi ia tak sampai hati menolak tawaran ini.
Mereka tampak enjoy berbincang satu sama lain, tapi di sini Kayla cukup akwoard. Ia hanya tersenyum menimpali, terkadang juga menjawab jika ditanya. Biasanya ada Raka atau Vino yang mencairkan suasana, kini tak ada mereka. Berulang kali Kayla melihat jam tangannya, seolah jarumnya enggan berputar.
__ADS_1
"Sepertinya aku pulang duluan deh, udah ditunggu di rumah," ujar Kayla akhirnya.
"Kok buru-buru sih Kay? Bentar lagi napa," jawab Fina.
Setelah mengeluarkan jurus mencari alasan, akhirnya Kayla bisa terbebas juga. Kini Kayla tengah berjalan bersama salah satu rekan kerjanya. Ya! Dia bersikeras ingin mengantarkan Kayla pulang. Sekarang Kayla takut kalau sewaktu-waktu mereka bertemu dengan Deevan. Bisa-bisa ketahuan jika mereka tinggal bersama.
Selama di jalan, Kayla lebih banyak menjawab daripada membuka obrolan. Ia masih canggung bersama rekannya ini. Beruntung Rey pintar dalam membangunkan komunikasi, jadi tak garing selama perjalanan.
Tengah menuju ke tempat pemberhentian bus, tiba-tiba pandangan Kayla tertuju pada sosok yang tengah tertawa dengan renyahnya bersama pasangannya. Tampak Deevan tengah menikmati secangkir kopi bersama Anggia dihadapannya. Hatinya tiba-tiba terenyuh melihat hal itu.
"Kay? Ada apa?" tanya Rey membuyarkan lamunannya.
"Eh! Nggak papa kok, hehe. Kayaknya sampai sini aja deh Kak, saya udah biasa kok naik bus sendiri," jawab Kayla.
"Nggak papa, saya ingin mengantar kamu," Rey tetap kekeh.
Kayla yang terus menolak pun tak enak hati jika menolak kembali. Jadilah kini Kayla pulang diantarkan Rey. Beruntung bus kota masih beroperasi meskipun malam telah tiba. Memang lebih lama jika menggunakan bus kota, karena harus singgah dibeberapa pusat pemberhentian. Jika mobilnya ada di sini, tak mungkin ia harus berdesakan bersama Rey dan penumpang lainnya di dalam bus ini. Hendak memilih MRT pun Kayla tak tahu bagaimana caranya.
"Di kawasan Air Apartemen Kak," jawab Kayla.
"Serius? Kamu di situ? Denger-denger, Si Bos juga tinggal di apartemen itu lho," ujar Rey lagi.
"Aku numpang di apartemen sepupu di sana Kak, hehe," jawab Kayla menutupi kegugupannya.
Akhirnya sampailah di pemberhentian bus terakhir, mereka harus berjalan kembali agar sampai di depan apartemen. Kali ini mereka hanya diam menyusuri jalanan yang juga cukup ramai. Sepertinya Rey sudah kehabisan topik pembicaraan, setelah tadi sepanjang perjalanan ia mendominasi untuk bercakap.
"Kayla!" panggilan seseorang yang tak asing baginya.
Sontak Kayla dan Rey berbalik. Benar saja dugaannya, ternyata itu suara Deevan. Tampak ia tengah menggandeng Anggia. Kini mereka sudah ada di depan apartemen.
"Ba-bapak? Se-se-selamat malam Pak," jawab Kayla tergagap sembari menunduk. Diikuti Rey.
__ADS_1
Ntah kenapa Bos-nya itu berjalan, seharusnya mereka menggunakan mobil.
"Anggia, taksi kamu udah sampai," ujar Deevan.
"Kok kamu gak bilang sih sayang, kalau mesenin taksi? Aku kira kamu mau nganterin aku," jawab Anggia.
"Maaf sayang, tapi aku ada urusan mendadak, nggak bisa nganterin kamu," bela Deevan.
Dengan rutinitas yang sama yakni cipika cipiki, Anggia akhirnya memasuki taksi. Meski sebenarnya tak ingin. Jangan lupakan dengan tatapan membunuhnya untuk Kayla. Sedangkan Kayla dan Rey hanya diam membisu melihat pemandangan itu.
Deevan kembali melihat dua sejoli yang tadi disapanya.
"Rumah kamu juga di sini Rey?" tanya Deevan.
"Nggak Pak, saya cuma ngantar Kayla saja," jawab Rey. Deevan manggut-manggut menanggapi.
"Sepertinya kamu sampai sini saja mengantarkan Kayla. Saya ada perlu yang kebetulan berhubungan dengan Kayla," ujar Deevan.
Rey akhirnya mengikuti kemauan Deevan yang mengusirnya secara halus. Deevan yang hendak menggenggam jemari Kayla, sontak ditepisnya. Kayla berpamitan pada Seniornya kemudian berjalan mendahului Bosnya.
"Kamu kenapa sih harus pulang sama orang itu?" tanya Deevan saat mereka sudah berada di dalam lift. Kebetulan hanya mereka berdua.
"Kak Rey khawatir lihat saya naik bus sendiri. Jadi dia nganterin saya," jawab Kayla.
"Kak? What! Dia manggil orang itu dengan sebutan Kak, sedangkan denganku dengan sebutan Bapak? Emangnya aku udah tua apa?" batin Deevan bergejolak.
"Kamukan bisa bareng saya," ujar Deevan lagi.
"Saya yang nggak mau jadi obat nyamuk dari 2 sejoli yang sedang berpacaran," jawab Kayla gemas. Kayla langsung masuk ke kamarnya tanpa menunggu respon Deevan.
...Bersambung...
__ADS_1