The New True Beauty]

The New True Beauty]
next


__ADS_3

Kembali ke kamar, Kayla segera bersiap untuk menemani Deevan ke acara sore ini. Tak terasa ia menghabiskan waktu di luar cukup lama. Sebentar lagi Deevan pasti akan menjemputnya.


Tok Tok Tok!


Benar saja, saat Kayla tengah memakai body lotion pintu kamarnya sudah ada yang mengetok. Dirinya yang masih berbalutkan handuk tentu saja tak menghiraukan ketokan itu. Ia harus cepat selesai. Kayla tak pernah melewatkan diri untuk menggunakan lotion, ia tak mau orang-orang yang berdekatan dengannya mencium bau kecut. wkwkwk.


Ketokan pintu kamar yang tak ada hentinya membuat Kayla semakin gusar. Kayla menyembulkan kepalanya sedikit keluar, Deevan sudah berdiri dengan gagahnya di sana. Kayla nyengir menanggapi laki-laki di hadapannya.


"Saya belum selesai Pak, sebentar lagi siap," ujar Kayla.


"Dari tadi masak iya belum selesai Kay? Sebentar lagi acaranya mulai," ujar Deevan.


"Saya tadi ketiduran Pak, barusan selesai mandi," balas Kayla.


Tanpa aba-aba Deevan mendorong pintu kamar Kayla menerobos masuk. Betapa terkejutnya ia melihat Kayla yang hanya berbalutkan handuk. Pantas saja ia hanya menyembulkan kepalanya tadi. Deevan yang melihat pemandangan indah itu tentu saja salah tingkah sendiri. Jangan lupakan aroma manis yang Deevan cium. Deevan sempat terlena. Aroma yang biasa digunakan perempuan di depannya.


"Saya ganti baju dulu Pak," ujar Kayla menyambar dressnya dan segera ke kamar mandi.


Kayla yakin pilihan Mamanya memang tak pernah mengecewakan. Beruntung dress ini masih bisa ia kenakan. Dress yang ia pakai ini merupakan dress saat dirinya masih bersekolah dulu. Mamanya begitu teliti dalam menyimpan barang. Jelas saja masih terlihat cantik tanpa cacat.


Dibalutkan dengan dress berwarna putih bersih dengan rambut yang dicepol asal Kayla berjalan keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Deevan masih berada di kamarnya. Ia tengah duduk di sofa dengan fokus yang tertuju pada IPad yang ada di tangannya. Fokusnya pecah saat Kayla keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Sebentar lagi udah kok Pak, tinggal bedakan dikit habis itu ngerapiin rambut aja," ujar Kayla yang kini bergegas ke meja rias.


"Saya keluar dulu, nanti telpon saya kalau sudah siap! Jangan lama-lama Kay," ujar Deevan.


"Siap Pak," jawab Kayla.


Blamm!


Deevan menetralkan detak jantungnya setelah menutup pintu kamar Kayla. Ia bahkan menutupnya terlalu kencang. Jantungnya tak aman setelah melihat pemandangan indah tadi.


***



"Nona Kayla?" panggil seseorang pada Kayla yang hendak memasuki lift.


"Pak Agam?" balas Kayla yang sama terkejutnya melihat laki-laki yang ia kenal beberapa minggu yang lalu.


"Kamu di sini juga? ikut acara pertemuan sastrawan internasional?" tanya Agam.


"Iya Pak, " jawab Kayla.

__ADS_1


"Ini merupakan takdir yang sangat indah yang tak pernah aku tolak, hahaha" ujar Agam.


"Pak Agam bisa saja. Mari kita ke aula, " elak Kayla dengan ramahnya.


"Jangan panggil Pak, sayakan sudah pernah bilang," ujar Agam sembari mengikuti Kayla masuk ke dalam lift.


"Akan saya ingat, tapi selama waktu bekerja, saya akan tetap memanggil anda Pak," jawab Kayla.


"Terserah kau saja,"


Agam dan Kayla berjalan beriringan menuju ke ruang acara.


Tap! Tap! Tap!


Dengan raut wajah yang tak bisa Kayla artikan, Deevan berjalan dengan tergesa ke arahnya dan Agam. Berbeda dengan Kayla yang kini tersenyum manis menunjukkan lesung pipinya pada Deevan.


"Sayakan sudah bilang, telepon saya kalau sudah siap," ujar Deevan setelah tiba di hadapan Kayla.


"Saya sudah menelpon Bapak, tapi nggak diangkat sama Bapak," jawab Kayla memicingkan matanya.


Benar saja, Deevan mengecek gawainya sudah ada 7 panggilan tak terjawab dari wanita cantik dihadapannya. Deevan melirik ke arah laki-laki di samping Kayla.

__ADS_1


"Ouh! Perkenalkan ini Pak Agam dari penerbitan Sanstra," ujar Kayla memperkenalkan Agam pada Bosnya.


"Saya sudah kenal," jawab Deevan menyambut jabatan tangan Agam.


__ADS_2