![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Hari-hari berikutnya Kayla dan Deevan menjalani hari seperti biasanya. Satu bulan sudah Kayla menjalani program penurunan berat badannya. Setiap harinya Kayla melakukan olahraga dan makanannya tetap terpantau dengan teratur oleh Deevan. Sebelum berangkat kerja Deevan akan menyiapkan makanan untuk Kayla. Di tengah hari saat istirahat kantor ia juga akan Kembali ke apartementnya untuk memasakkan Kayla kembali.
Seperti pagi ini, setelah olah raga bersama, Deevan tengah memasak menu baru untuk Kayla. Jika biasanya Kayla hanya melihat Deevan dengan duduk di kursi pantry, kini Kayla mengajukan diri untuk membantu Deevan.
“Saya bantuin apa Pak?” tanya Kayla.
“Bisanya kamu apa?” bukannya menjawab, Deevan malah Kembali bertanya.
“Ngejek banget sih!” gerutu Kayla mendengar jawaban Deevan.
“Sini kamu potongin apel, anggur, sama strawberry-nya,” ujar Deevan mengalah.
Kayla menurutinya. Diambilnya pisau yang tertata rapi di dinding khusus pisau. Lagi-lagi Kayla dibingungkan untuk memilih pisau yang mana. Ada berbagai macam pisau di sana. Ia tak tahu hendak menggunakan yang model bagaimana.
“Pisau sebanyak ini, mana yang digunakan untuk buah Pak?” tanya Deevan.
Deevan menghembuskan napas beratnya mendengar pertanyaan Kayla. Bisa-bisanya ia tak tahu mana yang digunakan untuk mengupas buah. Diambilnya pisau di hadapan Kayla dan diberikan kepadanya. Kayla menerimanya dengan meringis. Kayla sudah siap mengupas pun Kembali bingung bagaimana caranya mengupas. Ia tak pernah mengupas buah, ia biasanya memakannya secara langsung tanpa mengupasnya.
Oke! Kita biarkan Kayla menggunakan instingnya dalam mengupas apel. Untuk mengurusi anggur dan strawberry ia tahu. Ia cukup membelah buah itu dan memisahkan bijinya. Kalau masalah apel, kita lihat saja nanti hasilnya. Dengan enjoy-nya Kayla mengupas. Hingga akhirnya masakan Deevan selesai, ia melihat pekerjaan Kayla. Betapa terkejudnya ia melihat hasil kupasan Kayla yang super tebal itu.
“Kay! Daging buahnya habis kamu kupas ini! Motongnya nggak karuan pula,” ujar Deevan.
“Ini sudah potongan versi terbaik Pak. Keren lho! Ini perdana saya ngupas apel,” jawab Kayla.
“Ambil apel di kulkas lagi. Biar saya yang kupas,” ujar Deevan mengambil alih pisau di tangan Kayla.
Setelah sarapan bersama, Deevan segera bersiap dan berangkat ke kantor. Di kantor Deevan tampak sibuk dengan meeting persiapan peluncuran komik terbarunya. Jika Deevan sibuk di kantor utama, Kayla memilih untuk pergi ke kantor cabang khusus anggota inti Deeevan. Di sana sudah ada Vino. Raka? Tentu saja ia mengikuti Deevan meeting. Karena dirinya kini menggantikan Kayla.
“Pagi Vino!” sapa Kayla.
__ADS_1
“Pagi Kak! Wuiih! Roman-romannya udah mulai berhasil nih program dietnya,” jawab Vino.
“Bagaimana? Benar-benar ada kemajuankan?” tanya Kayla exated.
“Luar biasa!” jawab Vino.
Kayla memang memberitahukan programnya kepada Vino dan Raka. Tapi ia tetap merahasiakan jika Deevanlah yang menjadi coach Nya. Hari ini pekerjaan mereka berdua hanya finishing. Jadi tak terlalu banyak yang akan mereka kerjakan.
Sekian lama berkutik dengan gambaran jemari handal mereka, Kayla mengajak Vino ke supermarket depan kantor. Lama menghadap ke layer membuatnya cukup lapar. Mumpung tak ada Deevan di sini, ia bisa mencuri waktu untuk membeli makanan di luar. Dengan senangnya Vino memenuhi keranjang belanjanya dengan Kayla. Tentu saja ia senang ditraktir oleh Nonanya itu.
“Wah! Wah! Wah! Kita ketemu ratu baper gengs!” tiba-tiba suara menggelegar keluar dari belakang Kayla dan Vino yang tengah membayar belanjaan mereka.
“Vino! Kamu dikasih waktu sama Pak Deevan untuk bekerja dari rumah, malah enak-enakan sama mpok Ndut ini! Eh tunggu! Sepertinya sebulan ini Mbak mogok makan biar bisa kurus ya? Tapi kayaknya bakal butuh waktu satu tahun deh biar dapet tubuh langsing…. hahaha” ujarnya disambung dengan tawaan dari temannya.
“Atau malah masuk UGD?” sambungnya lagi.
Kayla tak menggubris ucapan Sisil. Ya! Pemilik mulut kotor itu adalah Sisil. Ntah kenapa mereka bisa bertemu di sini.
Kayla segera menarik tangan Vino untuk keluar dari supermarket itu. Tak mau dia membuat Vino adu mulut dengan nenek lampir itu. Percuma saja melawan Sisil, tak ada manfaatnya. Vino menggenggam lengan Kayla menghentikann langkahnya.
“Itu nggak bisa dibiarin Kak!” geraam Vino.
“Biar aku yang membuktikan kepada dia kalau aku bisa No! kamu pikir, aku akan diam aja? Nggak No! biar aku yang membuktikan kepadanya kalau aku bisa!” tegas Kayla.
Vino terdiam mendengar tuturan Kayla.
“Tapi jangan sampai ngedrop,” lirih Vino yang kini memeluk Kayla.
Setelah pertemuan dengan Sisil, mereka tak langsung ke kantor. Mereka memilih untuk menikmati belanjaan mereka di pendopo yang tersedia di pinggir jalan. Dengan senang hati Kayla mau, agar tak ketahuan bos-nya juga jika ia makan cemilan.
__ADS_1
Sedangkan di kantor utama tengah heboh dengan kedatangan Niken. Ia bersikeras masuk ke ruang meeting menemui Deevan. Deevan yang mendengar keributan di luar sontak mempercepat meeting. Keluar dari ruang rapat, Deevan berhadapan langsung dengan pacarnya. Ditariknya tangan Niken ke ruangannya.
“Kenapa? Ada apa? Puas kamu membuat keributan di kantor ini?” tanya Deevan menahan amarahnya.
“Kamu yang kenapa? Kenapa nggak angkat telepon aku? Kenapa nggak balas chat aku? Kenapa tiap aku ke sini pasti kamu nggak ada?” jawab Niken dengan amarahnya yang memuncak.
“Tunggu-tunggu! Aku memang beberapa kali nggak angkat telepon kamu. kalau chat, kamu tahu sendiri kalau aku memang jarang buka chat. Satu lagi! Saat aku nggak merespon kamu, setelahnya aku pasti ngabarin kamu Nike! Kamu tahu sendiri, aku lagi sibuk dengan peluncuran komik baru. Aku nggak bisa 24/7 sama kamu!” tegas Deevan.
“Aku butuh perhatian kamu Deevan!” ujar Niken.
“Gimana sih caranya biar kamu tuh ngertiin aku! Selalu aja seperti ini. Aku kerja juga untuk kamu kok! Setiap ada waktu luang, aku pasti nyempatin ke kamu kok,” jawab Deevan kemudian duduk di kursi kebesarannya.
“Deevan!” teriak Niken.
“Udah Nike, aku capek! Sekarang mau kamu gimana? Aku nggak bisa kalau harus selalu merhatiin kamu saat ini. Aku masih ada tanggungan di kantor,” ujar Deevan melirihkan suaranya.
“Aku curiga kamu punya yang lain selain aku,” serka Niken.
“Sepertinya kepercayaan kamu ke aku udah hilang Nike. Terserah kamu mau menduga apa. Aku mau istirahat, sebentar lagi aku mau lanjut meeting” jawab Deevan memejamkan matanya.
“Kamu nggak ada pemotretan hari ini?” tanya Deevan dengan lembut.
“Ada,” jawab Niken kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Deevan.
“Kamu bilang ke Raka kalau mau berangkat. Biar diantar Pak Hasyim ke tempat pemotretan,” ujar Deevan.
Deevan memesan makanan dari kantin untuk ia makan bersama dengan Niken. Tepat juga sekarang waktunya makan siang. Dari pada amarah perempuan itu terus-terusan meledak, sebaiknya ia meredamkannya. Tak mungkin pula ia mengusirnya.
Deevan berada di kantor hingga sore hari. Seketika Deevan teringat jika dirinya tidak memberikan Kayla makan siang. Dengan terburu-buru dikemudikan mobilnya dengan kencang agar segera sampai di apartemen. Tunggu! Ia ingat jika Kayla hari ini bekerja di kantor khusus. Deevan Kembali memutar kemudinya menuju kantor cabang khusus. Semoga saja Kayla masih di sana.
__ADS_1
...Bersambung ...