The New True Beauty]

The New True Beauty]
Part 6


__ADS_3

Malam ini merupakan malam perpisahan Kayla dengan orang tuanya. Ya! Selama kurang lebih tiga bulan ini Kayla akan meninggalkan rumah untuk menjalankan programnya. Mama memasakkan makanan super banyak untuk anaknya. Setelah ini anak gadisnya akan dibatasi pola makannya. Padahal tadi pagi sang Mama memberikan roti saja, eh malamnya diberikan makanan yang banyak lagi.


Dengan senang hati Kayla menghabiskan makanan itu. Bahkan kini di piring Kayla sudah penuh dengan seefood, pregedel, tumis-tumisan, hingga perayaman. Nasi yang ada di piringnya pun sampai tak terlihat. Mama geleng-geleng kepala melihat nafsu sang anak yang besar itu.


Selesai dengan makan malamnya, Kayla terungat dengan Bosnya. Apakah sang bos sudah makan? Tanpa piker Panjang lagi, Kayla mengambil kotak bekal dan memasukkan beberapa lauk di dalamnya. Hal itu tak luput dari perhatian sang Mama.


“Sayang, di sana nggak ada catering makanan ya?” tanya Mama.


“Hehehe, siapa tahu nanti malam Kayla laper Ma… nanti kalau temen Kayla mau juga, jadinya bawanya agak dibanyakin deh!” jawab Kayla.


Mama tersenyum mendengar jawaban Kayla. Setelah semuanya dirasa sudah siap, Kayla pergi sendiri menggunakan mobilnya. Mana mungkin ia diantar oleh supir, bisa-bisa Kayla ketahuan jika tujuannya ke apartement bukan ke asrama. Sampai di basement, Kayla meminta bantuan kepada petugas apartement.


Deevan yang baru saja membuka pintunya terkejoed dengan barang bawaan Kayla yang super banyak. Ada dua koper dan tiga tas jinjing. Sudah seperti pindah rumah yang sesungguhnya. Mau tak mau ia membawakan barang-barang itu ke kamar Kayla. Tak lupa ia memberi tip kepada petugas yang membantu Kayla.


“Apa aja yang kamu bawa Kay!” ujar Deevan.


“Perlengkapan dari ujung kepala hingga ujung kaki dong Pak,” jawab Kayla dengan santainya.


“Bapak keluar dulu deh! Saya mau beres-beres dulu,” ujar Kayla mendorong Deevan keluar dari kamarnya.


Di dalam kamar, Kayla segera menyembunyikan cemilan yang sengaja ia bawa. Dilihat-lihat tempat yang paling aman itu berada di bawah kolong tempat tidurnya. Satu ransel ia masukkan ke bawah tempat tidur yang mana di dalamnya penuh dengan cemilan atau ciki-ciki. Kayla tahu betul jika dalam kertas perjanjian tidak boleh ngemil ciki-ciki, makanya Kayla menyembunyikan.


Kayla keluar kamar dengan membawa sat utas jinjing berisi makanan yang ia siapkan Bersama Mama. Tampak Deevan tengah menonton bola di sofa. Disusunnya makanan itu di atas meja depan Deevan. Dengan herannya Deevan melihat begitu banyaknya makanan. Kayla tahu benar jika Deevan pasti belum makan, karena sering kali dirinya lupa makan kalau di kantor.


“Bapak belum makan malamkan? Tadi Mama saya bawain bekal buat saya,” ujar Kayla.

__ADS_1


“Kamu yang masak semua ini?” tanya Deevan dengan antusias.


“Hehehe, ngaklah Pak… saya nggak bisa masak,” jawab Kayla dengan ringisannya.


Deevan mencoba seefood yang terlihat paling menggoda. Benar tebakannya, makanan ini begitu nikmat dan cocok di lidahnya. Kayla melihat bosnya lahap pun tersenyum puas.


“Kamu nggak makan?” tanya Deevan.


“Udah tadi sebelum berangkat ke sini,” jawab Kayla.


Kayla yang notabenya ngefans dengan Deevan begitu bahagia bisa memandangnya terus-terusan. Deevan sama sekali tak menyentuh nasi, ia hanya memakan lauknya saja. Makanannya saja beragam macam, dapat dipastikan ia kenyang tanpa nasi. Selesai dengan makanannya, Deevan mencuci peralatan makannya tadi. Kayla masih menunggu di sofa ruang tv. Ada yang akan Deevan bicarakan katanya tadi.


Sesekali Kayla mengamati apartement Deevan yang lebih tepat dikatakan sebagai penthous. Tapi dugaan Kayla, ini memang penthouse. Tadi hendak naik ke lantai ini, mereka menggunakan lift khusus. Kemudian luas apartement ini juga tak kecil. Fiks! Ini merupakan penthouse. Perabotan yang ada di sini pun bukan main-main. Sangat mewah!


“Orang-orang kantor nanti tahunya kamu ambil cuti selama tiga bulan. Untuk sementara tugas kamu sebagai sekretaris dan editor novel akan diambil alih oleh Raka. Tapi hanya numpang nama saja,” sambungnya,


“Maksudnya numpang nama?” tanya Kayla.


“Yang mengerjakan pekerjaan itu tetap kamu. Tapi dengan nama Raka. Saya masih kurang percaya kalau memberikan Amanah itu untuk Raka sepenuhnya,” jawab Deevan. Kayla manggut-manggut mendengarkan penjelasan Deevan.


“Pak, tapikan untuk peluncuran komiknya kurang dua bulan lagi. Saya nggak ikut berarti?” tanya Kayla dengan sendu.


“Kita bicarakan lagi itu nanti,” jawab Deevan. Dan itu sama sekali tak menjawab pertanyaan Kayla.


Selesai dengan perbincangan mereka, Deevan meminta Kayla untuk istirahat ke kamarnya. Bahkan waktu tidur untuk Kayla di atur pula oleh Deevan. Mau tak mau Kayla menurutinya. Meski sebenarnya ia tak tahu nanti akan benar-benar tidur atau tidak.

__ADS_1


Di dalam kamarnya, Kayla segera mengunci pintunya dan mengambil ciki-ciki dari bawah kolong tempat tidurnya. Menikmati ciki-ciki sembari menyelesaikan gambarannya merupakan hal yang tepat. Setelah mengantuk, Kayla segera membuang bungkus jajannya di tong sampah. Agar tak ketahuan Deevan. Barulah ia tidur.


‘’’’


Sudah lima belas menit Deevan mengetok pintu kamar Kayla. Tapi tak juga ada tanda-tanda untuk dibuka. Hingga tiba-tiba keluarlah kepala Kayla mengintip Deevan dari celah pintu. Masih dengan muka bantalnya. Deevan sudah berkacak pinggang melihat Kayla. Yang harusnya mereka olahragapada pukul setengah enam tepat, kini harus molor dua puluh menit gara-gara Kayla.


“Kita sarapan dulu dong Pak!” ujar Kayla.


“Di sini Coach-nya saya atau kamu?” tanya Deevan.


Kayla hanya menunduk mendengar jawaban Deevan. Deevan mengajak Kayla mengelilingi taman Kembali.sama seperti kemarin. Jika kemarin ia lari hanya satu keliling, kali ini Deevan memintanya untuk berlari dua keliling. Tak lupa dengan pemanasannya tentu saja.


Setelah selesai, barulah Deevan mengajak Kayla sarapan pagi. Deevan memberikan sepiring untuk Kayla dan sepiring untuknya.


“Cuma ini Pak?” tanya Kayla kaget.


Pasalnya hanya nasi sedikit, dengan sayuran, salad, buah, dan udang. Biasanya Kayla akan makan dengan porsi full. Kayla melihat Deevan makan dengan lahapnya menggunakan menu itu. Tapi tak ada udang di sana. Tapi malah ada makanan tadi malam yang ia bawa.


“Itu porsi untu kamu Kay,” jawab Deevan dengan menikmati makanannya.


“Lauk yang saya bawakan masih ada Pak… saya bolehkan makan itu?” tanya Kayla lagi.


Sorotan mata tajamlah yang Kayla dapatkan. Oke! Kayla harus menurutinya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2