![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Pagi harinya Kayla terbangun lebih dahulu. Dilihatnya Momy Sang Bos masih terlelap dengan damainya. Tunggu! Kayla speechless dengan tangan Tante Jassy yang memeluk dirinya. Ntah kenapa saat ini ia tengah gugup dipeluk oleh Momy dari Bosnya itu. Pelan-pelan Kayla memindahkan tangan Jassy agar bisa beranjak. Ia harus bersiap untuk lari pagi. Sendiri? Tentu saja! Karena tak ada Deevan.
Ya! Kayla belum tahu kalau Deevan ternyata sudah pulang. Dengan mengendap-endap, Kayla mencuci mukanya dan berganti pakaian, menyiapkan dirinya dan membuka pintu kamarnya pelan-pelan pula. Betapa terkejutnya Kayla melihat sesosok laki-laki di depan tv tengah meneguk kopi di tangannya.
Deevan? Tapi kenapa posturnya sedikit berbeda. Apa mungkin sebulan tak bertemu membuat perubahan yang sangat signifikan terhadap Deevan?
“Bapak? Bapak sudah pulang?” tanya Kayla menghampiri.
Betapa terkejutnya Kayla melihat laki-laki itu ternyata bukan Deevan. Tampak laki-laki itu tersenyum menanggapi Kayla yang sudah pucat pasi itu. Mulailah otak Kayla berkecamuk. Kebiasaan over thingkingnya mulai bereaksi. Masa iya ada maling di pagi-pagi buta seperti ini? Tapi, malingnya tampan dijajaran om-om seumuran itu. Kayla! Kamu mikir apa sih! Bukan saatnya untuk itu.
Laki-laki itu berdiri hendak menghampiri Kayla yang tampak terkejut dan diam membisu itu. Sontak Kayla putar arah hendak berlari ke kamarnya. Ia harus melindungi Tante Jassy. Tapi naas! Kayla terbentur dengan dada bidang seseorang di belakangnya.
“Ampun Om! Ampun! Saya bakal kasih apapun, tapi jangan sakiti saya!” teriak Kayla panik. Ia tertangkap sudah.
“Saya sudah kaya. Nggak perlu apapun dari kamu,” jawab orang itu yang tak sengaja memeluk Kayla.
Deg! Kayla tercengang. Ternyata itu Bosnya.
“Terakhir aku peluk dia waktu di pinggir jalan. Sekarang dia sudah tenggelam dalam pelukanku. Kerja bagus Kay, selamat kamu berhasil!” batin Deevan.
“Itu Dady, bukan komplotan maling!” sambung Deevan melepaskan pelukannya.
Kayla berbalik arah melihat laki-laki yang tersenyum padanya tadi. Benar! Mereka mirip bagaikan copy-paste.
“Emangnya ada maling setampan Om?” celetuk William menimpali. Kayla membungkuk hormat. Ia bersalah kali ini. Deevan memutar bola matanya jengah. Mulailah kenarsisan Dady-nya.
“Maaf Om,” lirih Kayla.
“Nggak papa,” jawab William.
Deevan mengajak Kayla keluar segera. Sudah lama ia tak menemani Kayla lari pagi seperti ini. Betapa lucunya Kayla memakai baju kedodoran. Ya! Deevan masih memperhatikan Kayla. Lesung pipi itu pula, kini semakin jelas terlihat, tiba-tiba dada Deevan bergemuruh. Apa sebentar lagi mereka akan berpisah?
__ADS_1
“Bapak tiba-tiba kok sudah pulang? Kan belum jadwalnya pulang,” tanya Kayla yang kini mensejajarkan langkahnya dengan Deevan.
“Urusannya kelar lebih cepat, jadi Dady ngajak langsung pulang setelah selesai,” jawab Deevan.
“Kamu gak ada niatan mau beli baru apa? Baju kamu udah kedodoran gitu,” sambung Deevan.
“Masih bagus, sayang kalau nggak dipakai lagi. Hehehe,” jawab Kayla.
Jika biasanya Deevan hanya menemani dan berbincang singkat, berbeda dengan hari ini. Deevan lebih banyak mengajak Kayla berbincang. Setelah beberapa saat mengelilingi taman, Deevan mengajak Kayla kembali ke apartemen.
Memasuki apartemen, suasana sudah berbeda. Bagaimana tidak? Ada Momy dan Dady Deevan di sana. Tampak Jassy tengah memasak di dapur ditemani suaminya. Kayla kembali dilanda rasa bingung. Ia harus melakukan apa kali ini? Dilihatnya Deevan yang ada di belakangnya seolah meminta solusi. Tapi Deevan hanya mengangkat dagunya tak paham dengan tatapan Kayla. Dasar gak peka pak bos!
"Hay anak manis... Sini sayang, Momy udah buatin sarapan untuk kita," ujar Jassy menghampiri Kayla.
Kayla merona seketika. Tante Jassy memanggilnya anak manis. Ia maluu. Ia bukan anak-anak lagi, tapi senang dengan panggilan itu.
"Makanan Kayla, Deevan yang ngurus Mom," ujar Deevan.
Kayla menyapa Dady Deevan sebentar, barulah duduk. Ia masih tak enak hati setelah kejadian pagi tadi. Tapi fokusnya teralihkan dengan aroma sedap dari nasi goreng buatan Jassy. Mumpung Sang Bos memberikan izin untuk memakan makanan berminyak itu. Mari kita manfaatkan.
Kayla dapat menyantap makanan itu dengan tenang, damai, sejahtera tanpa bantahan dari Deevan. Sering-sering ke sini aja Tante Jassy, agar Kayla bisa makan bebas tanpa rasa bersalah karena melanggar.
Mereka menyantap makanan bersama dengan tenang. Sesekali terdengar pula perbincangan antara Deevan dan William membahas pekerjaan mereka.
"Sejak kapan Kayla tahu kalau Deevan bantuin Dadynya ngurus kantor?" tanya Jassy.
"Sejak Pak Deevan berangkat keluar kota kemarin Tan... Setahu saya malah Pak Deevan cuma ngurus penerbitan dan komika saja," jawab Kayla.
"Iya, Deevan memang tak mau kalau orang-orang tahu siapa orang tuanya. Dadynya dari dulu ingin Deevan melanjutkan kinerjanya. Tapi, Deevan terus menolak. Ia hanya ingin membantu saja. Hanya orang-orang tertentu yang tahu. Dia ingin sukses dengan caranya sendiri. Dan itu benar-benar ia buktikan," ujar Jassy.
Kayla tertegun mendengar penjelasan Tante Jassy. Deevan yang masih fokus berbincang dengan Dadynya tak menyadari jika Momynya tengah curhat. Daebak! Ternyata Bosnya memiliki pekerjaan ganda. Hahaha.
__ADS_1
Selesai dengan makan pagi mereka, Jassy dan William kembali ke kediaman mereka. Sedangkan Kayla tengah membantu Deevan membersihkan meja makan. Hanya mengelap, karena ia belum ahli dalam membantu yang lain. Deevan mencuci peralatan makan mereka.
Hari ini Deevan bekerja di rumah. Karena masa cutinya masih tersisa satu hari. Sedangkan malam nanti ia langsung ke acara launching komik baru. Semua sudah Deevan serahkan kepada orang-orang kepercayaannya untuk mempersiapkan seluruhnya. Siang nanti ia akan melihat persiapan untuk malam ini.
Kayla tak ada pekerjaan kali ini. Karena tugasnya sudah selesai. Kayla memilih untuk melanjutkan tontonannya kemarin hari. Karena kehadiran Jassy, Kayla menjadi sungkan menonton drakor. Sedangkan Deevan memilih bekerja di ruangannya.
Tiba-tiba terbesitlah keinginan Kayla untuk menyiapkan gaun. Tentu saja gaun untuk menghadiri acara nanti malam. Oke! Kayla bergegas ke kamar mengambil gawainya. Memesan gaun di toko langganan adalah pilihan terbaik. Tunggu! Kayla tak tahu ukuran bajunya sekarang.
Bukan pilihan yang tepat jika membeli secara online. Oke! Lebih baik Kayla membeli secara langsung. Tanpa sepengetahuan Deevan, Kayla bersiap untuk pergi. Tak jauh, hanya membutuhkan waktu lima belas menit menuju butik langganannya. Bukan langganannya, lebih tepatnya langganan sang Mama.
"Siang Nona, ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu pramuniaga.
"Saya mau lihat-lihat dulu ya," jawab Kayla.
Dari gaun satu ke gaun lainnya Kayla memilah dengan teliti.
"Sepertinya ini kekecilan," gumam Kayla.
Berulang kali Kayla menggumam. Padahal ia belum mencoba gaun itu.
"Nona, butik kami ada gaun limited edition. Bisakah Nona berkenan untuk mencobanya?" tanya pramuniaga yang melayani Kayla.
Kayla yang notabenya kepo, sontak menyetujui.
"Ini terlalu kecil untuk saya Mbak," lirih Kayla.
"Tidak Nona, gaun ini sangat pas untuk Nona pakai," ujar pramusaji itu lagi.
...Bersambung...
__ADS_1