![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
“Ini, saya potong dari gaji bulanan kamu untuk melunasinya,” ujar Deevan memberikan bingkisan kepada Kayla.
“Lho! Pak! Saya nggak beli ini dan saya nggak mau hutang!” jawab Kayla.
“Anggap itu bonus kamu bulan kemarin, pemasaran komik berjalan dengan sangat pesat,” sambung Deevan.
“Beneran Pak? Makasiiih Bapak!” ujar Kayla dengan semangatnya. Jika diberi dengan Cuma-Cuma tentu saja dirinya mau.
“Ayo! Kamu mau membeli apa?” tanya Deevan kemudian.
Deevan membawa Kayla menuju stand pembelian pakaian kantor. Dengan senangnya Kayla memilah pakaian yang ia pikir cocok untuk dirinya. Ia sampai kewalahan bingung memilih yang mana untuk dirinya. Alhasil, Deevan turun tangan. Deevan mengambil setiap pakaian yang menurutnya cocok untuk Kayla. Sudah ada satu lusin pakaian yang Kayla bawa hasil pilihan Deevan.
“Mbak! Tolong bantu adik saya untuk membawa pakaian ini,” ujar Deevan.
Kayla diam seketika mendengar Deevan menyebutnya sebagai adik. What! Ada secercah rasa senang, tapi juga ada rasa kecewa di hatinya. Benarkah Deevan hanya menganggapnya sebagai adik? Padahal Kayla masih menyimpan rasa kepada bosnya itu. Sepertinya memang tak ada harapan untuk mendapatkan hati Deevan. Anggia benar-benar sudah berlabuh di hati Deevan.
“Nona, mari saya bantu,” ujar pegawai stand menyadarkan lamunan Kayla.
Kayla mengangguk dengan senyuman manisnya kepada pegawai itu. Dilihatnya Deevan tengah asik melihat layar teleponnya dengan santainya duduk di sofa yang telah tersedia. Kayla mencoba satu persatu pakaian yang dipilihkan Deevan. Dan semuanya pas di tubuhnya. Kayla yang hendak meminta pendapat Deevan pun tak terhiraukan. Mulai dari pakaian kantor, sepatu, tas, hingga pakaian harian sudah terbungkus rapi. Kayla pikir hanya pakaian kantor saja, tapi ini terlalu banyak. Apa sebingung itu menghabiskan uang? Sehingga ia dengan tenangnya membelikan berbagai barang untuk Kayla?
“Semuanya sudah dibayar oleh Tuan, Nona,” ujar pegawai itu memberikan bingkisan yang terlampau banyak itu kepada Kayla.
Pantas saja Anggia betah bersama Deevan, sudah tampan, perhatian, kaya lagi. Kurang apa dirinya?
“Terima kasih Pak, tapi sepertinya ini terlalu banyak,” ujar Kayla menghampiri Deevan.
“Anggap saja itu sebagai hadiah untuk kamu, karena telah berhasil memenuhi projek diet dengan baik. Minggu depan kita akan ke rumah Dokter Kevin untuk melihat perkembangan selanjutnya,” jawab Deevan.
Kayla tersenyum mengangguk menanggapi Deevan. Mereka tak langsung pulang, Deevan mengajak Kayla ke stand penjualan elektronik. Ini kali kedua Kayla memasuki stand elektronik, sebelumnya ia mengantarkan Mamanya berbelanja. Tampak Deevan memilih beberapa peralatan memasak, tak jarang pula Kayla yang kepo bertanya kepadanya. Beruntung ada jasa pengantaran barang ke mobil, kini Kayla tak perlu repot membawa barang belanjaannya.
“Emangnya Bapak bisa bikin roti?” tanya Kayla.
“Kamu meremehkan saya? Saya bisa melakukan apapun asal kamu tahu! Lagi pula alat ini bukan hanya untuk memanggang roti, alat ini multifungsi.” Jawab Deevan, sedangkan Kayla manggut-manggut.
“Nanti kalau Anggia ingin memasak, ia tak perlu susah-susah jika menggunakan alat ini,” sambung Deevan.
__ADS_1
Kayla memutar bola matanya jengah mendengar penuturan Deevan. Lagi-lagi Anggia. Siap dengan belanjaan elektronik, mereka memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu. Di sinilah Deevan baru membuka maskernya. Kayla sendiri sampai heran, apakah tak pengap dari tadi menggunakan masker?
*Keesokan Harinya*
Kriing! Kriiing!
Alarm Kayla bekerja dengan sangat baik. Dilihatnya alarm menunjukkan pukul 5 pagi. Kayla bersiap untuk lari pagi, ia ingat jika kemari melewatkan olahraga sorenya. Bagaimana tidak? Dirinya dan Deevan baru pulang malam hari, dan ia lanjutkan dengan menonton pertandingan badminton Asia Game 2022 bersama Deevan. Hingga tengah malam barulah mereka istirahat.
"Pagi Pak," sapa Kayla pada petugas keamanan yang kebetulan sedang berkeliling di sekitar apartemen.
"Pagi Neng, udah lari aja nih! Udah Neng, jangan kurus-kurus, gini aja udah cantik kok," jawab Bapak itu.
"Tenang Pak, ada pemandunya kok. Nggak mungkin sayanya dibuat kurang gizi," jawab Kayla. Sontak bapak itu tertawa mendengar jawabannya.
Selesai berbincang sejenak dengan petugas keamanan, Kayla segera kembali ke apartemen. Tak banyak waktunya untuk bersiap ke kantor. Sampai di apartemen, Kayla melihat Deevan tengah menyiapkan sarapan. Lihatlah damagenya itu... Sangat tampan! Lengan bajunya yang dilipat hingga siku, memamerkan pahatan otot tangan yang luar biasa.
"Buruan siap-siap! Kita berangkat bersama," suara barington itu membuyarkan lamunan Kayla.
"I-iiya Pak," jawab Kayla.
"Kemana?" tanya Deevan saat Kayla berbalik.
"Mau ganti baju Pak," jawab Kayla.
"Sudah jam berapa ini? Kamu mau telat? Ayo sarapan, habis itu berangkat," ujar Deevan.
Mau tak mau Kayla menuruti Bosnya itu. Makan dengan sedikit terburu-buru, lanjut berangkat. Selama perjalanan, Deevan menjelaskan kepada Kayla tugas apa saja yang harus ia kerjakan. Kayla mulai menata jadwal kegiatan untuk Deevan sembari mendengarkan penjelasannya.
Hingga sampailah mereka di gerbang kantor. Kayla meminta kepada Deevan agar menurunkannya. Kayla perlu menata hatinya agar tak gugup di hari pertamanya kerja setelah cuti. Sudah lama sekali Kayla tak melihat kantor megah ini.
Kayla melangkahkan kakinya memasuki lobi. Beberapa pasang mata mulai memperhatikannya. Ia lupa tak bertanya kepada Deevan harus ke arah mana. Tak mungkin jika langsung ke mejanya bekerja. Pasti tak ada yang mengenalinya di sini. Tanda pengenalnya juga tertinggal di apartemen.
"Selamat pagi Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis kepada Kayla.
__ADS_1
"Saya ingin bertemu dengan Pak Deevan." jawab Kayla.
"Dengan siapa? Apakah Nona sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu.
"Nona Kay? Mari ikut saya, Pak Deevan sudah menunggu," tiba-tiba datang Vino menghampiri mereka.
Vino mengerlingkan matanya memberi isyarat kepada Kayla. Tak perlu meminta persetujuan resepsionis itu, Vino mengajak Kayla untuk mengikutinya.
*Ruang meeting*
Seluruh karyawan sudah berkumpul di ruangan khusus. Suara bisikan bahkan obrolan tampak riuh dalam ruangan itu. Begitulah setiap pimpinan mereka belum hadir. Sepertinya memang sudah tradisi bangsa ini. Hahaha.
"Iya, cantik bener! Kalau nggak salah, Pak Deevan tadi juga pakai baju dan jas yang senada. Jangan-jangan itu pacar barunya Si Bos?" celetuk salah satu karyawan.
"Aku belum sempat tahu namanya, malah dikacaukan oleh Pak Vino," sambung yang lain.
"Aku rasa, dia salah satu partner kerja sekaligus pengganti Nona Anggia," bisik yang lainnya.
Tap! Tap! Tap!
Deru langkah kaki mulai terdengar. Sontak mereka para penggosip diam seketika. Dapat dipastikan jika itu Pimpinan mereka. Vino sebagai sekretaris menyambut diikuti dengan masuknya Deevan dan Kayla di belakangnya.
"Silahkan duduk kembali," ujar Deevan.
"Oke! Langsung saja, untuk rapat bulanan, kita ganti minggu depan. Laporan setiap divisi silahkan kalian kumpulkan di meja sekretaris," sambungnya.
"Selanjutnya, saya ucapkan selamat bergabung kembali sekretaris saya Kayla Sherly Sifabella. Selamat bekerja kembali di kantor ini." ujar Deevan.
Kayla membungkuk memberikan hormat kepada rekan-rekan kerja yang lain. Dapat dipastikan mereka terperangah melihat Kayla. Benarkah ini Kayla yang mereka kenal dulu?
"Selamat pagi semuanya. Lama tidak pernah berjumpa, mohon bantuan kedepannya untuk menjalankan tugas," ujar Kayla dengan senyum manisnya.
"Terima kasih atas waktunya, silahkan kembali bekerja. Saya permisi," ujar Deevan kemudian meninggalkan ruangan.
Benar-benar tak ada basa-basi, rapat kali ini teramat sangat cepat, singkat, dan padat.
__ADS_1
...Bersambung...