![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Sinar mentari pagi kini mulai mengusik tidur nyenyak Kayla. Ia sendiri tak tahu kapan dirinya tertidur. Yang ia ingat hanya setelah masuk ke kamar, Kayla langsung meminum hingga tandas air minumnya dan langsung berhambur dengan tempat tidurnya.
Gedoran pintu menyambut pagi Kayla. Dengan langkah gontai ia segera membuka pintu. Tak perduli dengan penampilannya yang masih acak-acakan.
Cklek!
Ternyata Deevan yang ada di sana. Deevan tampak memicingkan mata melihat pemandangan di hadapannya. Masih pakaian yang sama dengan semalam. Tapi kini ia lebih jelas melihat lekuk tubuh Kayla. Deevan tertegun melihat pemandangan indah di depannya itu.
"Bapak lihat apaan sih?" Serka Kayla.
"Cepat siap-siap! Kita akan berangkat ke bandara," ujar Deevan.
Kayla baru ingat, hari ini ia akan pergi dinas bersama Bosnya. Deevan sudah siap dengan setelan jas yang tentu saja tampak rapi. Kayla sontak menutup pintu kamar dan segera bersiap. Deevan speechless melihat pemandangan indah tadi. Diselenggarakan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan pikiran joroknya.
Membutuhkan waktu 30 menit bagi Kayla untuk bersiap. Kayla berusaha mengeluarkan kopernya. Deevan yang melihat Kayla tampak kesusahan tentu saja berinisiatif membantu. Diambilnya koper itu dari tangan Kayla.
"Kita sarapan di atas saja ya," ujar Deevan.
__ADS_1
Kayla mengangguk mengerti. Ia sudah mengurangi waktu Deevan terlalu banyak. Bisa-bisanya ia bangun kesiangan. Beruntung acaranya malam nanti. Kayla mengikuti Deevan dari belakang, Sembari mengecek perlengkapan yang sudah ia list.
"Apa tidak apa-apa Pak, kalau Bapak semua yang bawa?" tanya Kayla yang merasa tak enak melihat Deevan mendorong troli barang-barang mereka.
"Tali sepatu kamu lepas, mau dibantuin nali juga?" bukannya jawaban yang diterima Kayla, tapi malah teguran.
Benar saja, tali sepatu Kayla terlepas. Kayla berhenti untuk menalikan tali sepatunya. Deevan yang melihat Kayla kesusahan menghembuskan nafas beratnya kemudian mengambil tas selempang Kayla agar tak terlalu ribet.
"Sudah Pak, terim-" Ucapan Kayla terpotong.
Deevan terus berjalan tak menghiraukan panggilan Kayla.
"Ya sudah! bawain aja semuanya, kan akunya enaken," batin Kayla.
Kayla sudah meminta tasnya kembali, tapi tak dihiraukan. Deevan menggenggam jemari Kayla berjalan sedikit lebih cepat. Kayla melihat jam tangannya, ternyata mereka hampir telat. Beruntung barang bawaan mereka sudah diserahkan di tempat bagasi.
__ADS_1
Lima belas menit lagi mereka akan segera ke kabin. Kayla kini tengah menikmati sandwich yang sempat Deevan buat. Untuk mengganjal perutnya yang keroncongan. Bahkan jatah Deevan juga ia makan.
Deevan dan Kayla berjalan beriringan memasuki kabin. Kayla hanya mengikutinya, karena semua tiket dan data diri yang memegang adalah Deevan. Bagaimana tidak? Tas Kayla saja masih dipegang oleh Deevan juga. Deevan duduk tepat di samping jendela. Kayla tetap berdiri memandang Deevan yang sudah puenak poll.
"Kenapa nggak duduk?" tanya Deevan memicingkan matanya.
"Pengen di deket jendelaa," lirih Kayla.
Ternyata interaksi mereka menjadi pusat perhatian pramugari yang bertugas. Dengan berat hati Deevan kembali berdiri dan mempersilahkan Kayla duduk di kursinya.
"Padahal Bapak barusan duduk, tapi udah panas aja ni kursi. Kalau kata eyang saya ya Pak, kalau kursinya panas nanti Bapak bakalan punya anak banyak," celetuk Kayla.
"Mana ada medis seperti itu," jawab Deevan acuh.
"Kata orang jaman dulu terbukti tahuu," sambung Kayla.
"Terserah kamu saja. Ini kerangka untuk komik part selanjutnya, kamu pelajari. Kalau mau kamu kerjakan sekarang juga nggak papa," ujar Deevan memberikan tab-nya.
__ADS_1