![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
“Emang iya kamu tunangannya? Nggak meyakinkan!” celetuk salah satu dari mereka.
Sukses membuat Deevan marah. Bisa-bisanya dibilang tak meyakinkan. Padahal ketampanannya sudah ia verifikasi jika di atas rata-rata dan pastinya akan pas dan cocok jika disandingkan dengan Kayla yang cantiknya paripurna. Deevan menggenggam jemari Kayla dan hendak menunjukkan padanya sepasang cincin yang ada di jari manisnya dan juga Kayla.
“Ini cincin tunangan kami, dan sebentar lagi akan menikah,” ujar Deevan.
“Ape? Yang make cincin elu doang?” sambung dua laki-laki itu.
Deevan bingung seketika. Apa iya Kayla tak memakai cincin pertunangannya? Kayla memutar bola matanya jengah melihat aksi Deevan. Kenapa tiba-tiba Bos yang dulu selalu ia puja dan idam-idamkan berubah menjadi tak waras seperti ini? Sontak ia melepaskan genggaman Deevan dan menunjukkan tangan kirinya yang mengenakan cincin couple dengan Deevan. Ternyata Deevan menggenggam tangan yang salah tadinya. Menahan malunya Deevan langsung menunjukkan wajah cool-nya kembali.
“Nggak percaya? Sepertinya memanggil petugas keamanan taman ini ide yang bagus. Iyakan sayang?” celetuk Deevan meminta persetujuan Kayla.
“Ha? I-iyya,” jawabnya kikuk.
Dua laki-laki itu akhirnya pergi meninggalkan Deevan dan Kayla di sana tanpa sepatah kata pun. Deevan melihat sekeliling, ternyata di sisi taman ini emang jarang ada orang. Deevan sendiri heran kenapa Kayla malah ke sisi taman yang ini. Beruntung ia tadi langsung mencari keberadaan Kayla. Kayla melepaskan genggaman Deevan dan lekas pergi. Ia harus segera pulang. Tak akan ia ke taman ini lagi. Ternyata memang rawan berjalan sendiri di tempat umum tapis epi seperti ini. Padahal ia sebenarnya lebih senang dengan suasana sepi dari pada ramai.
__ADS_1
“Kok nggak ngucapin terima kasih? Kan udah ditolongin sama aku?” celetuk Deevan mengikuti Langkah kaki Kayla.
“Terima kasih ya Pak,” jawab Kayla. Deevan terus mengikuti Kayla hingga lokasi sepedanya diparkirkan.
“Bapak ngapain masih ngikutin saya?” tanya Kayla.
“Aku anterin ya? Emangnya nggak takut di jalan sendiri? Nanti kalau dua orang tadi masih ngikutin kamu gimana?” berderet pertanyaan yang lebih kea rah menakut-nakuti Deevan lontarkan.
“Hufft! Ya udah, tapi saya Cuma bawa satu sepeda dan nggak ada kursi penumpangnya. Emangnya Bapak mau lari sambal ngikutin saya?” jawab Kayla.
“Sini saya ajarin,” ujar Deevan mengambil alih sepeda Kayla.
“Bapak tega nyuruh saya naik kayak gini? Nanti kalau saya capek terus kepleset, terus jatuh gimana?” tanya Kayla.
“Kamu mau bonceng aku? Biar aku yang berdiri,” tanya Deevan lagi.
__ADS_1
Kayla tampak diam berpikir. Sepertinya ia juga tak akan sanggup membonceng Deevan. Deevan terlalu kekar dan tinggi untuk ia bonceng.
Huufft!
Deevan menghembuskan napas beratnya sejenak. Hendak pulang saja butuh pertimbangan yang banyak. Sebenarnya bisa saja Deevan berlari mengikuti Kayla. tapi dirinya ingin lebih dekat dengan gadis itu.
“Ya udah, gini!” tegas Deevan.
Deevan melepas handuknya dan Kayla. melipatnya menjadi satu dan diletakkan di depannya. Ditariknya tangan Kayla dan mendudukkannya di atas handuk itu agar tak sakit terkena besi yang ia duduki. Kayla sempat speeclesh sesaat. Tak menduga jika dirinya akan sedekat ini dengan Deevan.
“Kakinya tumpuin di sini Kay, biar nggak capek ngegantung,” ujar Deevan dengan kelembutan super ekstra sembari membimbing kaki Kayla.
...{**Ayo dong dukungan buat Lhu-Lhu-nya ditambahiin… Biar Lhu-Lhu lebih semangat lagi. Lagi berat banget ini rasanya mau lanjutin novelnya…}...
...huhuhu**...
__ADS_1
...Sedih banget….....
...Likenya, komennya, bintang limanya, votenya, share-nya.... semuanya deh!😢😢...