![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
“Ini café atap yang bulan lalu baru diresmikan, lagi jadi favorit para karyawan ini, Nona,” ujar Dion saat mereka sampai di rooftop.
“Jangan panggil Nona napa sih Mas? Panggil nama aja Mas, lagian Mas Dion-kan termasuk seniornya aku,” jawab Kayla merasa tak nyaman dipanggil Nona.
“Mau kopi nggak Mas? Aku pesenin ya? Aku yang traktir!” Kayla menawari Dion.
Dengan senang hati Dion menerimanya. Kayla langsung menuju tempat pemesanan memesankan kopi untuk seniornya itu. Dengan percaya dirinya Kayla bahkan memesankan Dion minuman pesanannya.
“Green tea late satu, sama caffe Americano satu Mbak,” ujar Kayla pada Mbak-mbak kasir yang bertugas.
“Mbak Kayla ya? Aku udah lama lho Mbak pengen ketemu langsung sama Mbaknya. Eh baru kali ini ke perusahaan Pak William,” bukannya menjawab pesanan Kayla mbak itu justru menyapa Kayla dengan girangnya.
“Eh maaf ya mbak, tadi pesenannya green tea late sama caffe americano ya? 51 + 35 jadinya 86 Mbak,” sambung Mbak itu lagi.
“Nggak papa Mbak, salam kenal juga ya. Delapan enam ya? Sebentar ya,” jawab Kayla dengan senyumnya.
__ADS_1
Kayla mengangkat tangannya hendak membuka dompet yang ada di genggamannya. Mata Kayla membulat seketika. Gawat! Dirinya tak membawa dompet. Ia hanya membawa buku catatan kecil di tangannya. Bahkan dirinya tak membawa gawainya juga. Semua ia tinggalkan di loker milik Dion.
“Kenapa Kay?” tanya Dion menghampiri Kayla.
Ia melihat gerak gerik Kayla yang tengah bingung tadi. Sontak ia menghampiri Kayla. kayla menghadap kea rah Dion dan sedikit menjinjit. Tangannya menekan Pundak Dion agar sedikit membungkuk agar ia sampai.
“Mas, aku nggak bawa dompet sama hp ternyata,” bisik Kayla sepelan mungkin.
Dion tertawa sekilas mendengar bisikan Kayla. bisa-bisanya, niatan hati ingin menraktir ternyata tak membawa uang.
“Ya sudah, saya saja yang bayar. Lain kali gantian kamu ya,” jawab Dion.
“Pak Dion tambah ganteng aja deh hari ini,” celetuk Mbak-mbak kasir itu menerima debit card milik Dion.
“Terima kasih,” jawab Dion dengan senyumnya.
__ADS_1
“Ini bild dan card-nya Pak. Bisa ditunggu sebentar ya Pak, Mbak, untuk pesanannya.” Ujar Mbak itu.
Kayla dan Dion memilih untuk duduk di pinggiran rooftop supaya lebih jelas pemandangan yang di sajikan di sana. Meski sebenarnya hanya terhihat Gedung-gedung saja. Hahaha. Kayla masih setia memegangi lengan jas Dion secara tak sadar.
“Nggak papa Kay, ini nggak gratis kok, nanti saya tagih,” ujar Dion menatap Kayla dengan gemas.
Kayla yang menyadari jika tangannya masih stay di jas Dion segera melepaskannya dan meminta maaf. Selama di café Kayla tak menyia-nyiakannya. Ia terus bertanya mengenai hal-hal yang belum ia ketahui. Maklumlah, ini adalah kali pertama dirinya terjun di kantor. Suasana café yang sepi juga membuat perbincangan mereka tak terganggu dengan kebisingan-kebisingan.
“Kenapa rata-rata cewek suka sama green tea?” tanya Dion membuka perbincangan santai.
“Karena enak! Nggak tahu kenapa, enak aja gitu,” jawab Kayla sekenanya. Karena ia sendiri takt ahu kenapa dirinya menjadi penggemar matcha atau green tea.
“Oh iya, suka nggak sama pesanan Kayla ini? Bo doh banget tadi nggak nanya ke Mas dulu mau pesen apa,” tanya Kayla.
“Hahaha, kamu ini, of off the book banget. Suka kok Kay, enak pilihan kamu,” jawab Dion.
__ADS_1
Dua manusia terus berbincang sembari menikmati minuman mereka. Hinggak Pak William menghubungi Dion jika ruangan sekretaris sudah siap. Berulang kali Pak Willi menghubungi gawai Kayla ternyata anaknya itu tak membawanya.
...Bersambung ...