![The New True Beauty]](https://asset.asean.biz.id/the-new-true-beauty-.webp)
Reyhan menggenggam pergelangan tangan Kayla, mengajaknya masuk ke dalam café. Café pilihan Kak Rey ini memang salah satu café rekomen di daerah ini. Deevan terus melihat ke arah Kayla mengikuti laki-laki di depannya. Ternyata mereka bukan masuk ke dalam café, melainkan menuju stand jagung bakar yang ada di depan café.
“Panas-panas gini makan jagung bakar, ya tambah panas dong kak,” bisik Kayla tak enak jika terdengar penjualnya.
"Biasanya kan kamu suka Kay," jawab Kak Rey.
"Kalau dimakan malam-malam baru nikmat... Tapi nggak papa sih, udah terlanjur juga," sabung Kayla.
***
"Kamu lihatin apa sih hany?" tanya Anggia pada Deevan yang fokus ke arah belakangnya.
"Emm, enggak kok! Cuma lihat orang yang mirip temen aku," jawab Eza.
Anggia yang penasaran sontak ingin tahu. Yang ia lihat hanya seorang laki-laki yang tengah membeli makanan di stand depan café tempat mereka duduk dengan seorang perempuan yang rambutnya tergerai membelakangi mereka.
“Laki-laki itu?” tanya Anggia.
“Emm? Iy-iyya,” jawab Deevan sedikit tersentak.
“Mungkin memang temen kamu, coba aja disapa yank,” ujar Anggia.
“Nggak mungkin, aku salah orang kayaknya,” jawab Deevan beralasan.
__ADS_1
Bisa gawat kalau Anggia tahu jika itu adalah Kayla. Baru saja dirinya berbaikan, masak iya harus perang lagi. Lebih baik Deevan pura-pura takt ahu saja. Sesekali dirinya juga melirik ke arah Kayla yang masih stay di kedai itu. Tak dapat dipungkiri jika dirinya masih penasaran siapa gerangan laki-laki yang bersama dengannya. Deevan sampai kalut sendiri saat memergoki laki-laki itu sesekali mengelus rambut dan menyibakkan rambut Kayla ke belakang telinga agar tak mengganggu.
“Kay! Kayaknya kakak kenal sama laki-laki itu deh! Itu bukannya Bos kamu sih?” tanya Kak Rey yang sadar akan keberadaan Deevan.
Kayla menengok seketika. Benar saja, mata Kayla dan Deevan beradu pandang. Kayla juga melihat adanya Anggia yang duduk di hadapan Deevan.
“Bukan Kak, salah lihat kakak tu! Kita cari tempat duduk di pinggir sana yuk!” elak Kayla.
Sontak Kayla menarik Kak Rey agar mengikutinya menjauh dari area café. Kayla tak mau bertemu Deevan terlebih dahulu. Apalagi Deevan bersama Anggia, bisa-bisa dirinya nanti dijambak habis-habisan kalua pacar Bosnya itu marah padanya. Membayangkannya saja sudah membuat Kayla merinding sendiri.
Mereka berdua kini tengah duduk di atas bebatuan besar pinggir pantai. Awalnya Kayla mengajak Kak Rey pulang, tapi sang empunya malah menolak. Jadilah Kayla mengikuti Kakaknya itu duduk di atas batu sembari menikmati kerang yang sempat mereka pesan. Hari yang terik tak mengganggu mereka sama sekali. Beruntung ada pohon besar yang melindungi mereka dari paparan teriknya matahari.
“Emang beneran itu tadi bukan Bos kamu?” tanya Kak Rey tiba-tiba.
“Kamu jangan coba-coba bohongin Kakak ya Kay! Kalau ada apa-apa kasih tahu kakak,” ujar Kay Rey.
“Siap Bos! Tenang aja, aku pasti cerita sama kakak,” jawab Kayla sembari menyesap satu persatu kerang.
Kayla dan Kakaknya menghabiskan waktu hingga menjelang sore di pantai itu. Mulai dari menikmati wisata kuliner, wahana, hingga berjalan-jalan menikmati pemandangan yang disajikan alam ini. Puas dengan mengeliligi sepanjang pantai, Kayla mengajak Kak Rey untuk kembali ke rumah.
Mereka harus berjalan lumayan jauh terlebih dahulu untuk sampai di tempat motor kakaknya tadi. Melihat ada Bapak-Bapak menjaga kuda, sontak Kayla merengek minta untuk naik kuda itu.
“Capek Kak! Boleh yaa?” bujuk Kayla dengan memainkan pupil matanya.
__ADS_1
“Kasihan Bapaknya belum ada yang naik kudanya lagi…” sambungnya.
“Iya-iya, terserah kamu!” jawab Kak Rey pasrah.
Jadilah kini Kayla menunggangi kuda dipandu oleh Bapaknya dan Kay Rey mengikuti Sang Bapak sembari berbincang-bincang. Kak Rey memang sosok laki-laki yang ramah terhadap orang lama ataupun oranng yang baru ia kenal. Itulah mengapa Kayla senang mengajak Kakaknya pergi, agar perjalanannya tak garing atau lebih seru dengan ocehan-ocehannya.
Kak Rey sibuk dengan berbincang terhadap Bapak itu, Kayla justru berselvy ria menggunakan gawainya. Rugi jika tidak diabadikan. Tentu saja ia juga memanfaatkan keberadaan Kak Rey agar memfotonya. Hahaha. Benar-benar kakak yang baik.
Setelah perjalanan limat belas menit akhirnya sampailah mereka di depan café tempat motor Kak Rey diparkirkan. Ternyata perjalanannya dengan Kak Rey cukup jauh juga hingga ke ujung tadi. Kayla sempat menoleh ke arah lain untuk menyelidiki jika sudah tak ada Deevan di sana. Dilihatnya di dalam café juga tak ada. Aman sudah dirinya. Kayla dibantu Kak Rey untuk turun dari kuda itu.
“Terima kasih ya Pak, kembaliannya untuk Bapak saja,” ujar Kak Rey memberikan ongkos jalan Kayla.
“Terima kasih ya Den,” jawab Bapak itu kemudia pamit pergi.
Sebenarnya Kayla tak suka mengendarai motor besar modelan seperti milik kakaknya inu. Ia benar-benar kesusahan untuk sekedar naik atau turun. Ia bahkan merasa tak nyaman duduknya. Ia juga takut jatuh sebenarnya. Tapi taka da pilihan lain selain menuruti kakaknya itu.
“Oke! Let’s go home!” seru Kak Rey melajukan motornya.
Reyhan yang memacukan motornya dengan cepat meminta Kayla agar memeluknya erat. Tak lucu jika sepupunya itu terbawa angin nantinya. Mengingat sepupunya itu sekarang sudah sekurus lidi.
Tak jauh dari pelintasan kendaraan, Deevan tengah menunggu Anggia yang meminta izin ke toilet. Tak sengaja matanya menangkap perempuan yang tau dilihatnya tengah mesra-mesraan memeluk dengan eratnya pinggang laki-laki yang memboncengnya. Tiba-tiba tangannya mengepal tanpa ia intruksikan. Dadanya bergemuruh menahan gejolak panas dalam seketika.
...Bersambung ...
__ADS_1