The New True Beauty]

The New True Beauty]
Part 29


__ADS_3

Sepanjang hari Kayla berkutik dengan komputernya. Menyunting beberapa teks novel hasil kerja para penulis yang akan diterbitkan. Beruntung hari ini ia hanya perlu bekerja setengah hari saja. Tapi Kayla perlu membawa pekerjaan yang belum selesai itu di rumah nantinya.


"Deevan mana?" tanya seorang perempuan yang tiba-tiba sudah di hadapan Kayla.


"Pak Deevan sedang keluar Nona, dan sepertinya hari ini memang tidak kembali ke kantor," jawab Kayla sopan.


Tak menimpali Kayla, Anggia nyelonong masuk ke ruangan Deevan. Kayla mencoba untuk mencegah perempuan itu masuk, tapi justru dorongan yang ia dapatkan. Ia tahu betul Anggia adalah pacar Sang Bos, tapi di dalam ruangan itu ada banyak rahasia dokumen untuk terbitan terbaru Deevan. Akhirnya Kayla mengikuti Anggia untuk menemaninya masuk. Tak dapat dipungkiri, Kayla tak begitu percaya dengan gelagat pacar Bos-nya itu.


"Kamu ngapain ngikutin aku? Aku ini pacar Deevan tahu! Aku mau nunggu dia di sini. Sana kamu keluar!" tegas Anggia mengusir Kayla.


Kayla mencoba menenangkan diri, dan akhirnya keluar dari ruangan Deevan. Kayla melihat atas meja Deevan yang sudah tertata rapi. Sepertinya sudah diamankan berkas-berkas pentingnya. Aman sudah. Kayla melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Dengerin ya! Jangan mentang-mentang kamu tinggal bersama Deevan, terus kamu bisa enak-enakan sama dia ya! Lihat aja, bentar lagi kamu juga ditendang dari rumahnya!" ancam Anggia setelah keluar dari ruangan Deevan.


"Semoga hari anda menenangkan Nona," jawab Kayla. Kayla membungkuk hormat, malas menanggapi Anggia. Dengan muka songongnya Anggia melenggang pergi.


Jam kantor telah menunjukkan waktu pulang. Tak mau menunda, Kayla segera membereskan peralatannya untuk pulang.


"Mari Pak," sapa Kayla kepada satpam kantor.


"Iya Neng, sampai jumpa besok," jawab dua satpam itu.


"Neng Kayla memang baik yaa, nggak berubah dari dulu, tetep ramah." ujar Satpam 1 pada temannya.

__ADS_1


Menyusuri trotoar di sore hari merupakan salah satu kesenangan Kayla. Perhatiannya tertuju pada salah satu cafe cat di seberang jalan. Sepertinya cafe baru.


"Mampir bentar nggak papa kali ya," gumam Kayla.


Beruntung jalanan di depan kantornya ada jembatan seberangnya. Ia yang tak berani menyeberang terselamatkan sudah. Masuk ke cafe ini langsung disambut oleh gerombolan kucing-kucing. Kayla yang notabennya menyukai kucing sontak meletakkan berkas-berkasnya dan menggendong salah satu kucing.


"Unch! Comel kalilah kamu ini," geram Kayla.


"Mau pesan apa Kak?" tanya seorang waiters cafe itu.


Kayla memesan secangkir americano, karena ia memang berencana untuk sebentar saja mampir di cafe ini sembari bermain dengan kucing-kucing di sini. Mampir di cafe ini adalah pilihan terbaik. Kayla bisa refreshing dengan bermain bersama kucing.



"Terima kasih, emm, saya rasa anda bukan waiters di sini. Atau anda pemilik cafe ini?" tanya Kayla.


"Haha, bukan Nona, saya pengunjung juga di sini," jawab laki-laki itu.


Kayla mengangguk menimpali laki-laki itu. Setelah meminta izin kepada Kayla, laki-laki itu duduk bersamanya.


Agam namanya. Seorang penulis webto*n dan juga novelis katanya. Sama seperti Deevan Bosnya. Tapi Kayla tak mengenalnya. Mungkin dirinya memang belum pernah membaca karya-karya Agam. Kayla tahu jika ada satu kantor penerbitan lain selain milik Deevan, tapi ia tak tahu jika pemiliknya adalah Agam.


"Salam kenal juga Pak Agam," jawab Kayla.

__ADS_1


"Jangan panggil Pak, saya kurang berkenan, saya belum terlihat tua bukan?" lirihnya.


"Ah, iyaa, anda masih muda, haha," jawab Kayla canggung.


Kayla yang awalnya berencana untuk sebentar saja di cafe ini justru tak sesuai rencana. Ia sudah asik berbincang dengan kenalan barunya. Bahkan menu yang ia pesan sudah bertambah lagi. Yang awalnya canggung kini justru lebih akrab.


"Astaga, sudah malam, saya harus pamit Mas," ujar Kayla membereskan barang-barangnya.


Mas? Ya! Kayla akhirnya memanggilnya Mas atas saran Agam. Ia bahkan membayar semua pesanan Kayla.


"Ayo aku antar kamu," ujar Agam mengikuti Kayla keluar dari cafe.


"Tidak usah, saya sudah biasa pulang sendiri kok Mas," cegah Kayla.


"Aku memaksa," balas Agam membukakan pintu mobil untuk Kayla.


Mau tak mau Kayla menurut. Tak enak ada banyak orang di sana jika ia harus mengabaikan Agam. Kayla menunjukkan arah di mana apartemen Deevan berada. Diselingi dengan obrolan-obrolan ringan di antara mereka.


...Bersambung...


Ini nih yang namanya Agam


__ADS_1


__ADS_2