
"Papa titip anak papa Marcell. Jaga dan bimbing dia dengan sabar, kita sama-sama tau Loli masih terlalu muda dan belum siap untuk menikah. Pasti banyak sekali yang belum ia mengerti, akan banyak sekali kekurangan dalam menjalankan perannnya dalam menjalani rumah tangga. Belajarlah untuk mencintainya dengan utuh, meski tak bisa dengan cepat namun papa harap kamu bisa segera melupakan Nala" Papa Rudi mengusap matanya yang berair. Ia sengaja mengajak Marcell bicara empat mata saat Marcell dan Loli datang. Keduanya dari hotel langsung ke rumah Loli dengan tujuan berpamitan untuk langsung tinggal di rumah baru mereka.
"Papa nggak usah khawatir Marcell uda mengerti semua" Ucap Marcell. Ia telah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi sejak ia memutuskan untuk menikahi Loli.
"Apa kamu bisa belajar mencintai Loli dan melupakan Nala?" Papa Rudi merasa bersalah pada Nala karena mengucapkan hal ini. Ia seolah tengah mengorbankan salah satu diantara dua putrinya. Namun mau tidak mau hal itu harus terjadi. Papa Rudi berharap semoga Nala mengerti bahwa tak ada beda antara besarnya cinta yang ia miliki untuk Loli maupun untuk Nala.
"Bisa pa, tanpa papa minta Marcell sudah melakukan nya" Tegas Marcell.
"Terimakasih Marcell. Jangan kecewakan kepercayaan papa" Pria itu menepuk pundak Marcell. Harapan nya begitu besar pada menantunya untuk memberikan kebahagiaan pada putri bungsunya.
Keduanya berjalan menuju meja makan saat asisten rumah tangga memanggil mereka untuk memulai makan bersama.
Tampak di sana mama Dita, Loli dan Nala sudah menunggu kedatangan keduanya. Marcell mengambil tempat di samping istrinya dan mau tidak mau posisinya berhadapan dengan Nala yang sejak kedatangan nya tak lepas menatap padanya.
Diam-diam di bawah meja tangan Marcell menggenggam tangan Loli yang terlihat menunduk. Sepertinya gadis itu belum terbiasa berhadapan dengan Nala dan itu dipahami dengan baik oleh suaminya.
"Mau makan apa?" Tanya Marcell lembut. Loli mengangkat kepalanya dan menatap pada Marcell yang tersenyum hangat. Loli segera mengalihkan tatapan nya. Ia tau gerak geriknya kini sedang disaksikan oleh Nala.
"Adek, layani suami kamu ya. Ambilin nasi sama lauknya buat Marcell" suara mama Dita memecah kekakuan Loli.
"I-iya ma" Loli melirik sekilas pada Nala yang masih belum melepaskan tatapan nya pada Marcell. Loli tersenyum getir, ada getaran yang tak ia mengerti hadir di hatinya.
__ADS_1
"Biar kakak sendiri aja sayang" Marcell menghentikan Loli yang akan berdiri untuk mengambilkan Marcell makan malam.
"Adek mau makan apa biar sekalian kakak yang ambilin" Loli menatap pada mama Dita yang tersenyum, mata nya nampak berkaca saat melihat bagaimana lembutnya Marcell memperlakukan putrinya. Begitupun papa Rudi yang juga tersenyum hangat. Namun berbeda dengan Nala yang terlihat menahan kesedihan nya, tubuh Loli seakan terhempas melihat luka yang belum sirna di mata sang kakak.
"Aku masih kenyang tadi abis makan roti" Loli kembali menundukkan pandangan nya. Hatinya teramat kelu, ia merasa menjadi penjahat yang menghujamkan luka berkali-kali ke hati Nala. Inilah kenapa ia memilih untuk tidak tinggal di rumah sang mama meski hatinya begitu ingin. Ia tak mau membuat Nala terus bersedih melihat perlakuan Marcell padanya.
"Sayang..." Ucapan Marcell terhenti saat Loli menatap sedih padanya. Mata gadis itu seolah memohon untuk berhenti bersikap manis padanya.
"Ya udah, nanti makan nya setelah kita pulang" Ucap Marcell tak lupa menyematkan senyuman di bibirnya.
"Jadi kalian mau langsung pindah?" tanya papa Rudi.
"Iya pa, kita ke sini mau izin langsung pindah ke rumah baru malam ini juga" ucap Marcell. Pria itu tak sengaja menangkap keterkejutan di wajah Nala. Mungkin gadis itu menyangka Marcell dan Loli akan tetap tinggal di sana sesuai perjanjian saat mereka dulu akan menikah.
"Enggak ma, lain kali aja ya kita menginap" Jawab Marcell.
"Kenapa pindah? bukan nya dulu mama nggak bolehin anak-anak mama langsung keluar dari rumah ini setelah menikah?" Nala akhirnya buka suara karena tak bisa lagi menahan rasa penasaran.
"Apa takut Nala ganggu rumah tangga mereka? apa Nala segitu menakutkan?" lanjut Nala dengan tajam.
Semuanya terhenyak mendengar ungkapan Nala. Mereka tak menyangka Nala akan berfikir seperti itu. Namun mereka berusaha memahami kondisi Nala yang serba menyakitkan hingga apapun akan tampak salah di matanya.
__ADS_1
"Bukan karena itu sayang. Mereka hanya ingin belajar mandiri. Kita nggak pernah berfikir seburuk itu sama kamu. Kami tau kamu anak baik yang nggak akan mungkin menyakiti siapapun" Ucap papa Rudi, pria tegas itu berusaha berbicara selembut mungkin pada Nala yang begitu sensitif.
"Iya Nala nggak pernah mau nyakitin hati orang lain. Tapi kenapa malah Nala yang disakiti?" ucap Nala pilu, Semua kembali terhenyak karena nya.
"Nala duluan, Nala udah kenyang" Nala beranjak dari posisinya lalu meninggalkan meja makan. Padahal gadis itu belum sempat memakan makanan di piring nya.
"Nggak apa-apa nanti biar mama yang bicara sama kak Nala" mama Dita menenangkan Loli yang sudah akan menangis. Ia tau Loli merasa sangat bersalah, entah kapan kondisi ini akan membaik seperti semula. Mereka sangat merindukan keceriaan di dalam rumah itu. Mereka rindu perdebatan Nala dan Loli yang seringkali berakhir dengan rengekan manja Loli ketika kewalahan menghadapi kakaknya.
"Iya sayang, semua akan baik-baik aja. Jangan khawatir, jangan merasa bersalah" Ucap Marcell. Pria itu juga kalut dengan kerumitan yang tak kunjung berakhir. Namun di hadapan Loli ia harus tampak selalu tegar. Istri kecilnya itu akan semakin tertekan jika ia terlihat stres.
Fokus Marcell saat ini hanya ingin membuat perasaan Loli membaik dengan cepat.
"Bilang sama kak Nala, Loli minta maaf ma" Ucap Loli dengan suara bergetar.
"Iya nanti mama sampaikan sayang, adek tenang yah, sebenarnya kak Nala tau adek nggak salah. Kak Nala masih emosi" ucap mama Dita menenangkan.
"Iya mama kamu benar sayang. Jangan merasa bersalah terus. Nggak baik untuk kondisi kamu" Timpal papa Rudi.
Loli hanya mengangguk. Nyatanya meski tak henti mencoba menghilangkan nya rasa bersalah itu tetap saja hadir.
Sementara itu Nala menangis sendiri di kamar nya. Rasa sakit yang teramat dalam menuntunnya bersikap demikian. Membuatnya kesulitan berfikir jernih
__ADS_1
Ia merasa marah melihat perhatian Marcell kini sepenuhnya teralihkan pada Loli. Ia kecewa pada pria itu yang menurutnya begitu cepat berpaling sementara dirinya masih belum beranjak dari perasaan nya. Ia merasa Marcell begitu tidak adil padanya.
🍁🍁🍁