Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Delapan Puluh Sembilan


__ADS_3

Zayn mengusap keringat di wajahnya bergantian dengan mengusap keringat Nala yang juga membanjiri wajah istrinya itu. Ia merasa takut namun tetap harus menyemangati Nala yang sedang kesakitan akibat kontraksi.


"Sakit banget ya sayang?" Bisik Zayn untuk ke sekian kali saat melihat Nala memejamkan mata dan meremas tangannya dengan kuat. Sepertinya kontraksi datang lagi.


"Iyalah sakit, pake nanya lagi. Mending diam aja kalo nggak bisa bantuin" Keluh Nala menahan sakit yang menusuk.


"Iya maaf sayang" Zayn mengusap perut Nala yang terasa keras. Kalau bisa meminta Zayn tidak keberatan jika rasa sakit Nala saat kontraksi dipindahkan padanya.


"Aduh Zayn sakit banget, aku kayak mau mati rasanya" keluh Nala yang membuat Zayn seperti disambar petir. Ia tak suka mendengar ucapan Nala namun ia tak berani untuk menyela ucapan istrinya mengingat Nala memintanya untuk diam jika tak bisa membantu apa-apa.


"Zayn kamu kok diam aja, kamu mau aku mati ya?" Nala menatap tajam pada suaminya yang terperangah. Melihat dari raut wajah istrinya, Zayn paham bahwa kontraksi Nala sedang mereda.


"Sayang, tadi kan kamu sendiri yang nyuruh aku diam kalo nggak bisa bantu apa-apa. Tentu saja aku nggak mau sayang, suami mana yang akan rela istrinya mati" kilah Zayn tak terima atas tuduhan sang istri


"Ya tapi lihat-lihat kondisi dong Zaynnn" Nala meremas tangan Zayn lagi dengan kuat dengan mata yang kembali terpejam. Rasa sakit itu datang lagi.


"Sayang..." Mama Dita yang batu datang segera menghampiri ranjang Nala. Tercetak jelas kekhawatiran di wajah wanita itu. Tak dipungkiri mama Dita masih merasa trauma atas apa yang menimpa Loli, ada ketakutan yang besar di hatinya bahwa Nala akan mengalami hal yang sama.


"Mama ini sakit banget, Nala nggak kuat rasanya ma" Nala merengek dan menangis seolah tengah mengadu pada sang mama. Jika saat bersama Zayn, Nala memasang wajah galak berbeda saat mama Dita datang ia berubah menjadi gadis rapuh yang butuh sandaran.


"Semangat sayang, kamu pasti bisa melewati ini nak" Mama Dita berusaha menahan air matanya agar Nala tidak semakin takut. Ia harus berusaha terlihat kuat di hadapan putrinya yang sedang berjuang.


"Mama juga kayak gini waktu ngelahirin Nala?" Tanya nya lirih.

__ADS_1


"Iya sakit juga seperti ini, lihat sendiri kan mama bisa melewati semua nya. Putri yang mama lahir kan dulu juga akan segera menjadi mama. Semua akan baik-baik saja sayang" Mama Dita mengusap rambut Nala yang basah oleh keringat.


"Mama maafin Nala kalo selama ini banyak salah sama mama" Nala tersedu, sekarang ia bisa merasakan perjuangan mama Dita saat melahirkannya dulu. Rasa sesal memenuhi jiwanya saat mengingat perbuatannya yang pernah menyakiti hati sang mama.


"Enggak sayang, putri mama anak yang sangat baik dan penurut. Nala nggak pernah punya salah apa-apa sama mama" Mama Dita mencium kening Nala yang mengalirkan air mata dengan deras.


"Sayang jangan menangis" Zayn mengusap air mata istrinya, perbincangan Nala dan mama mertuanya membuat pria itu merasa sangat tersentuh.


🍁🍁🍁


"Bayi kita tampan seperti papanya" Bisik Zayn bangga. "Kamu beruntung menikah sama aku, kalau sama orang lain mungkin anak kamu nggak akan setampan dia" Zayn mencolek pipi bayi yang sedang menyusu pada Nala. setelah hampir 1 jam berjuang setelah pembukaan Nala lengkap akhirnya bayi laki-laki itu terlahir ke dunia.


"Iya Zayn aku memang sangat beruntung menikah sama kamu" Balas Nala, ia sedang lelah untuk berdebat. Sesekali memuji suaminya mungkin tidak salah. Nala menciumi tangan mungil bayinya. Rasa nya sungguh luar biasa, pengalaman pertama menjadi seorang ibu sangat membahagiakan.


"Dia bersemangat sekali menyusu, aku jadi iri sayang. Nanti gantian ya nyusunya aku juga mau?" Zayn menatap penuh arti pada istrinya.


"Aku uda kangen banget loh sayang" Nala menatap sinis pada Zayn yang kini mengusap lengannya.


"Ini bayi kita baru lahir Zayn, kamu harus puasa dulu. Mending jaga sikap deh, jangan mancing-mancing nanti kamu sendiri yang sakit kepala karena nggak bisa nuntasin hasrat kamu" Nala memperingatkan suaminya.


"Emang berapa lama puasanya?" Zayn harap-harap cemas


"Minimal 40 hari, ada yang bisa sampai 2 bulan. Itu juga kalau aku udah siap gila aja Zayn kamu tau sendiri berapa jahitan tadi akunya" Nala bergidik mengingat apa yang baru ia alami. Darahnya masih berdesir mengingat rasa sakit saat kontraksi melandanya. Namun semua rasa sakit dan tak nyaman itu sirna saat ia sudah menatap pada bayi tampan nya.

__ADS_1


"Ha beneran selama itu sayang? aku nggak kuat sayang kalo lama-lama" keluh Zayn. Apalagi ia terakhir kali melakukannya dengan Nala adalah 3 hari sebelum istrinya melahirkan, itupun dirinya harus memohon dan mengiba pada Nala agar diberi jatah. Lalu setelah ini dirinya harus menahan diri selama 40 hari sampai 2 bulan? hukuman macam apa ini.


"Ya nggak bisa gitu, kamu mesti kuat. Kita harus sama-sama berjuang biar adil. Aku uda berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anak kita, kamu cuma berjuang menahan diri selama 2 bulan masa nggak bisa" sungut Nala.


"Iya sayang iya, terima kasih ya sudah berjuang untuk melahirkan anak kita" Zayn mencium kening Nala sebagai bentuk pengakuan atas kekalahannya dalam berdebat dengan sang istri. Dari awal dan sampai detik ini ia belum pernah menang saat berdebat dengan Nala.


"Zayn kamu uda siapin nama anak kita?" Ia dan Zayn selama ini belum pernah membahas mengenai nama untuk putra mereka. Bahkan mereka tak pernah bertanya pada dokter tentang jenis kelamin. Mereka baru mengetahui setelah bayi mereka lahir.


"Bentar aku buka internet dulu ya" Nala menghela nafas sambil menggeleng. Ia tak menyangka Zayn bisa secuek itu hingga tak menyiapkan nama untuk anak mereka.


"Bercanda sayang, aku uda siapin nama kok" Zayn mendaratkan kecupan di puncak kepala Nala.


"Terus siapa namanya? harus keren ya Zayn"


"Namanya Adelard Gyan Haldis, Pria yang gagah berani, berilmu pengetahuan, dan selalu bersemangat. Gimana keren nggak?" Zayn memainkan alisnya menunggu respon Nala.


"Ya not bad lah" Ucap Nala santai.


"Kamu tu gengsi banget sih ngakuin kalo nama yang aku kasih itu keren" Sungut Zayn yang kecewa pada wajah Nala yang tampak biasa.


"Iya keren banget suami aku, makasih ya udah kasih nama sekeren itu untuk putra kita"


Nala tersenyum lebar dengan ekspresi yang terlalu dibuat-buat

__ADS_1


"Nggak berlebihan kayak gitu juga kali sayang" Zayn menggeleng pasrah.


🍁🍁🍁


__ADS_2