
"Bagaimana masalah kerja sama yang saya batalkan itu pak Indra" sapa pak Ardi ketika bertemu di pesta ulang tahun salah satu rekan bisnis mereka. Pak Ardi tiba-tiba datang menghampiri papa Marcell.
"Bagaimana apanya pak Ardi?" sebenarnya papa Indra begitu muak, namun ia berusaha menahan diri agar tidak menimbulkan keributan di tempat tersebut. Begitupun mama Rita yang menahan rasa malas untuk berinteraksi dengan sepasang suami istri yang selama ini ia kira begitu berwibawa namun pada kenyataan nya begitu rendahan. Ia berusaha bersikap biasa, tak mau mempermalukan suaminya jika ia bersikap buruk.
"Pak Indra sudah bertanya alasan kenapa saya membatalkan proyek itu kan pada anak pak Indra? anda tau nilai proyek itu sangatlah besar, sayang sekali anda kehilangan kesempatan mendapatkannya hanya karena ego anak bapak. Saya masih membuka kesempatan andai Marcell bersedia memenuhi syarat saya" ucap pak Ardi dengan pongah. Tangan papa Indra mengepal di bawah meja, ia beberapa kali menghembuskan nafas kasar untuk meredam emosinya sebelum menjawab ucapan pria itu. Mama Rita mengusap lembut paha suaminya, namun ia percaya semarah apapun suaminya namun papa Indra bukan tipe orang yang suka bertindak gegabah menuruti emosi.
"Apa yang sudah Marcell lakukan itu sudah sangat benar dan saya mendukung sekali keputusan anak saya pak Ardi. Saya justru akan sangat marah andai ia menerima penawaran itu hanya untuk harta duniawi. Beruntung anak saya adalah pria yang bertanggung jawab yang tidak hanya menghitung keuntungan materi dalam menjalani hidupnya. Harga dirinya tidak tergadai meski ada miliran rupiah yang siap ia raup di depan matanya. Dan saya merasa mendapatkan untung ribuan kali lipat dari keuntungan proyek itu dengan memiliki anak yang setia dan teguh pendirian. Dia tau sebesar apapun nilai proyek itu tak akan pernah sebanding dengan istri dan anaknya yang sangat berharga. Saya pun begitu, nilai proyek itu sama sekali tak lebih berharga dari menantu dan juga kebahagiaan anak saya. Saya sangat bangga pada sikap yang diambil anak saya pak Ardi" Tak hanya papa Indra namun mama Rita juga begitu lega melihat wajah pak Ardi yang memerah. Sepertinya rekan bisnis nya itu begitu kecewa sekaligus marah.
"Anda akan sangat menyesal telah melakukan penghinaan ini. Anda tau perusahaan saya jauh lebih besar dar perusahaan Anda. Mulai detik ini saya tekankan bahwa saya akan memblacklist perusahaan anda dari segala kerja sama apapun" ucap pak Ardi geram sekaligus meremehkan.
"Sayang sekali pak Ardi, Tapi maaf untuk mengatakan hal ini. Sebelum anda melakukan itu saya sudah memblacklist perusahaan anda lebih dulu. Saya juga tidak mau bekerja sama dengan perusahaan yang pemimpinnya bisa melakukan berbagai cara tak peduli cara haram ataupun cara murahan sekalipun untuk mendapatkan keinginan nya. Masih banyak perusahaan yang jauh lebih besar yang mau menjalin kerja sama dengan perusahaan kecil saya. Perusahaan yang pemimpinnya profesional dan melihat skill, bukan membawa urusan pribadi dalam urusan bisnis" Timpal papa Indra dengan senyum sinis nya. Melihat situasi semakin memanas papa Indra menggenggam tangan mama Rita
"Kami permisi pak Ardi" Papa Indra undur diri dari sana untuk mencegah pertikaian yang tak diinginkan. Lebih baik ia mengalah dengan berpindah pada kursi kosong yang masih tersedia.
🍁🍁🍁
"Tadi mama telfon, minta kita datang untuk makan malam di sana. Sayang mau?" Tanya Loli yang baru selesai membersihkan diri dan naik ke ranjang di mana Marcell telah menunggunya.
__ADS_1
"Iya sayang mau" Marcell merentangkan tangannya, Loli yang sudah mengerti keinginan suaminya langsung merebahkan diri di dada suaminya.
"Beneran mau? nanti aku bilang ke mama kalo kita bakalan datang" ucap Loli untuk lebih memastikan. Ia menengadahkan wajahnya menatap wajah Marcell.
"Iya beneran mau, lagian kenapa aku harus keberatan untuk datang sayang" Marcell mencium bibir Loli dan menyesapnya dalam.
"Ada kak Zayn dan kak Nala di sana. Aku takut kamu belum nyaman untuk bertemu mereka" jawab Loli saat Marcell telah melepaskan pertautan bibir keduanya.
"Takut juga kamu ada kerjaan jadi nggak bisa buat datang. Makanya aku belum bilang setuju ke mama" Lebih tepatnya Loli takut Marcell masih menyimpan rasa cemburu pada kakak iparnya.
"Nggak apa-apa kok sayang, kita uda jadi keluarga. Nggak akan bisa untuk menghindari hal ini. Yah mau tidak mau harus dewasa menyikapi hal ini, nggak mungkin kucing-kucingan terus menerus" Meski masih berat namun Marcell mencoba untuk percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Ia akan belajar untuk menahan rasa cemburu demi kebaikan bersama.
Tak membutuhkan waktu lama sang mama langsung mengangkat telfon darinya.
"Hallo sayang kenapa belum tidur?" tanya sang mama di seberang telfon.
"Abis ini langsung tidur kok ma, mau bilang kalo besok kak Marcell kebetulan nggak sibuk. Jadi adek bisa makan di rumah besok malam"
__ADS_1
"Syukurlah kalo gitu sayang. Sampai ketemu besok ya Selamat tidur cantiknya mama" ucap sang mama yang terdengar bahagia.
"Iya mama juga selamat tidur"
Loli meletakkan ponselnya ke tempat semula lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas dada suaminya.
"Besok aku bakalan izin sama papa untuk pulang lebih awal supaya kita nggak kesorean ke rumah mama" Marcell mengusap lembut rambut istrinya. Rasa nyaman membuat mata Loli disapa kantuk hingga matanya mulai terpejam.
"Bukannya selama ini kamu emang pulang lebih awal terus ya sayang?" Tanya Loli lirih tanpa membuka matanya.
"Pulang lebih awal dari biasanya yang emang uda lebih awal dari yang lain" ucap Marcell sambil terkekeh.
"Tapi ingat ya, harus jaga jarak sama kakak ipar. Jangan terlalu ramah sama dia. Meskipun dia kakak ipar kamu tapi tetap saja dulu kakak ipar pernah menaruh perasaan ke kamu sayang" Entah sudah berapa kali Marcell mengucapkan hal serupa. Bahkan Loli sudah sangat hapal kata perkata nya. Sepertinya sang suami tak akan pernah bosan untuk mengingatkan dirinya mengenai hal itu.
"Sayang denger nggak?" Tanya Marcell karena Loli tak merespon ucapan nya. Namun sang istri tetap saja diam.
Marcell mengangkat tubuhnya untuk melihat wajah Loli, Marcell tersenyum masam saat melihat istrinya yang ternyata sudah tertidur.
__ADS_1
"Kamu seriusan uda tidur? Jadi malam ini nggak ada jatah buat aku sayang?" Tanya Marcell dengan lesu. Ia kembali merebahkan tubuhnya dan mengeratkan pelukan pada wanita tercintanya. Ia menyesal mengajak istrinya mengobrol santai terlebih dahulu, harusnya ia langsung menyantap istrinya ketika gadis itu datang ke ranjang.
🍁🍁🍁